:::: MENU ::::

: Sebuah cerita pendek

"Rin, kamu baik-baik saja kan?" Begitu melihat kawannya, Rey mendekatinya.

"Eh, iya saya gak apa-apa kok." Tampak dengan sembunyi-sembunyi perempuan itu mengusap matanya yang sembab.

"Tapi wajahmu sendu amat, habis nangis ya?" Seringai Rey.

"Enggak ...!" Ketus Arini yang memiliki wajah kotak dan pipi menonjol, ditambah lesung pipit di kedua bagiannya, terlihat amat manis.

"Oh, ya sudah. Kirain ada sesuatu yang tak beres." Wajahnya dibuat sepolos mungkin, lalu membalikkan badan seperti hendak meninggalkan Arini.

"Tuh, kan. Semua laki-laki memang sama saja." Suaranya dibuat sekeras mungkin.

"Apa Rin? Maksudmu apa?" Reynald spontan membalikkan badan dan kembali menyeringai.

"Enggak, gak ada maksud apa-apa."

"Syukurlah."

"Dasar enggak peka!"

"Lho kan dari tadi saya tanya, ada apa Rin? Kamu hanya jawab enggaklah, gak ada maksud apa-apa, gak ada apa-apa, gak sedih ...."

"Ya enggak gitu juga kali. Masa saya harus omong duluan." Potong Arini. Wajahnya semakin ditekuk seperti kue panekuk.

"Lha, terus saya mau tahu bagaimana kalau kamu gak pernah cerita."

"Cari tahu sendiri donk, masa harus dikasih tahu."

"Kamu sudah putus sama anak berandalan itu?"

"Jawab saja sendiri."

Duh, selalu saja seperti ini. Dua orang kawan, mungkin lebih dari hanya kawan. Dua orang sahabat atau saudara kalau mau dibilang seperti itu. Tetapi selalu saja seperti ini, ada cekcok tiap harinya. Tapi, pertanyaannya, apakah semua perempuan seperti itu? Maksudnya kalau ditanya selalu jawabannya tidak apa-apa. Giliran diiyakan bahwa memang tidak apa-apa meraka akan balik bilang huh, semua laki-laki sama, tidak pernah peka. Mungkin kalian bisa bantu jawab.

Dan drama cekcok Arini dan Reynald di kantin tempat kerjanya adalah penegasan bahwa memang setiap perempuan selalu berbicara dengan tersirat, tidak pernah terus terang. Sebaliknya, setiap laki-laki selalu tidak peka dengan perasaan seorang perempuan. Klop!

"Saya ingin dengar langsung dari mulut kamu. Masa kawan sendiri tahu dari orang lain tentang masalah pribadinya. Kan tidak lucu."

"Memang tidak lucu. Siapa pula yang melucu. Yang lucu tuh kamu, Rey, sudah tahu kamu tuh sahabat saya, masa beritanya orang lain dulu yang tahu." Seperti sedang menumpahkan kekesalannya kepada orang yang tidak bersalah apa-pun. "Coba disebut apa kalau ada sahabat yang kuper, kurang pergaulan."

"Kamu tuh seperti anak kecil! Iya, itu kata yang tepat buat kamu. Iya, kamu tuh, ya Rey ya, seperti anak kecil. Tahu?"

Pria berperawakan tinggi besar dengan janggut tipis terawat, rahang lebar dan kuat hanya bisa tertunduk dibombardir rentetan kata-kata dari Arini. Kepalanya hanya mengangguk-angguk seperti hiasan kucing yang ada di etalase depan toko kelontong Babah Liong.

***

Akhirnya sampai juga di tempat kerja. Sepeda yang sedari dikayuhnya disimpan di tempat parkir khusus. Keringat membanjiri tubuhnya, membuat kaus yang dia kenakan sempurna basah di seluruh bagian tubuhnya. Bergegas, pria muda itu menuju ruang lobby, beristirahat.

Dering internal telephone bergaung. Hanya ada receptionist dan dirinya di sana. Belum ada aktivitas apa pun yang terlihat, sehingga suara jangkrik yang pelan pun pasti terdengar.

"Bang Rey!"

"Eh, iya mba. Ada apa?"

"Telepon buat Bang Rey."

"Dari siapa?" Dengan kaus yang masih basah dia berdiri mendekati meja receptionist

"Biasa dari orang marketing. Tadi dia telepon ke ruangan Bang Rey, tapi tidak ada yang angkat." Perempuan di balik meja menyerahkan gagang telepon kepadanya.

"Ya, hallo."

"Hey anak kecil!"

"Hey juga Rin."

"Sudah sampai Purnawarman?"

"Belum, masih di jalan." Jawab Rey sekenanya, hendak menggoda perempuan itu.

"Kok bisa bicara sama saya?"

"Iya lah sudah sampai Nona. Kalau belum mana bisa saya ngobrol sekarang."

"Ya sudah bersiap sana. Mandi dulu biar wangi."

"Ya, siap." Dengan logat tentara yang dibuat-buat dia angkat satu tangan ke pelipisnya. Wajahnya yang keras tidak mengurangi selera humor Reynald

"Kalau sudah selesai, ke ruanganku sebentar. Ada yang perlu dibicarakan buat besok."

Papan dengan tulisan Data and Computer Center terpasang di depan pintu ruang kerja Reynald. Belum genap dua tahun dia bekerja di sebuah lembaga pendidikan yang terletak di ujung Jalan Purnawarman. Letaknya sangat strategis, karena persis berada di belakang toko buku ternama dan terbesar di kota itu. Jika kalian berada di ujung utara Jalan Purnawarman, lalu berjalan kaki menyusuri Jalan Riau, kalian akan menemukan perempatan Jalan Dago dan Jalan Merdeka yang tersohor itu.

Belum genap dua tahun, Reynald menemukan sosok-sosok yang sangat berarti baginya, yang memiliki peran istimewa di dalam hidupnya. Arini, perempuan dengan sifat periang, murah senyum, dan memandang dunia ini bekerja dengan alur sangat sederhana. Abah, pria yang ditempatkan satu departeman dengannya. Berperawakan tinggi kurus, rambut ikal sebahu, penggila komputer, dan jago bahasa pemrograman.

***

"Kamu masih menyimpan pensil warna ungu itu Rin?" Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk ke ruangan marketing, Reynald melihatnya sedang mempermainkan dan memandang lamat-lamat sebuah pensil warna.

"Tentu saja. Ini kan benda teristimewa yang saya terima."

"Wow. Saya sangat tersanjung. Terima kasih. Tidak menyangka kamu sangat menghargai pemberian saya. Padahal itu pensil warna biasa." Wajahnya begitu senang mendengar apa yang Arini ucapkan.

"Malam ini kamu terbang ke Malang." Reynald menerima dua buah tiket pesawat dari perempuan itu. "Kamu nanti ditemani Abah. Di sana sudah ada yang menjemput. Masih ingat Pak Soleh kan?"

"Masih. Sempat bertemu di musyawarah cabang nasional bulan kemarin."

"Hati-hati di jalan Rey," kedua orang itu menutup pembicaraan setelah terdengar panggilan internal telephone dari manajernya, "selalu kabari saya. Kalau di sana ada telepon, ikut menelepon sebentar. Kalau tidak ada, kirim saja SMS."

"Baik-baik di sini ya. Tugas di Malang kan hanya tiga hari, tidak lama kok."

"Tetap saja kamu akan pergi. Tiga hari kamu pergi, buatku itu sudah sangat lama!" Tampak rasa khawatir di wajahnya.

Kalian pernah merasakan hal yang sama, ketika hati kalian sudah memiliki chemistry yang kuat, lalu ikatan batin itu muncul semakin kuat. Ada namanya sahabat sejati. Dan itulah yang dirasakan oleh Reynald di sana. Sampai-sampai hal sekecil apa pun menjadi sangat istimewa. Bahkan oleh orang lain hanya dianggap sebagai obrolan ringan, bagi mereka seakan itulah obrolan terakhir yang bisa saja setelahnya mereka tak akan pernah bertemu lagi.

Sebelum berangkat ke bandara, malam itu Reynald mengantar Arini pulang ke rumahnya. Sepeda yang Rey kendarai pagi tadi, dia tuntun agar bisa berbarengan dengan perempuan itu. Obrolan ringan menemani mereka sepanjang perjalanan. Tidak terlalu jauh. Tempatnya di daerah Babakan Ciamis, bersebelahan dengan Masjid Al Ukhuwah, Balaikota Bandung.

Malam dingin yang selalu menyelimuti kota kembang itu, membuat suasana hati Arini syahdu. Dalam perasaannya, Rey adalah orang yang sangat baik dan orang yang begitu berarti bagi dirinya. Begitu pula dengan perasaan Rey. Maka, malam itu adalah malam yang sangat indah bagi keduanya.

Kupercayakan langkah bersamamu

Tak aku ragukan berbagi denganmu

Kita temukan tempat yang layak ... sahabatku

     Aku bernyanyi untuk sahabat

     Aku berbagi untuk sahabat

     Kita bisa, jika bersama ....

***

Sebuah amplop putih bermotif bunga dia temukan di dalam tasnya, terselip di tengah-tengah buku memo. Dia baru teringat bahwa tadi siang, Arini menitip pesan kepadanya, saya punya hadiah buat kamu Rey, sebuah tulisan. Tapi dibacanya nanti ya, setelah kamu sampai di rumah. Ternyata hanya sebuah surat dengan tulisan tangannya sendiri dan bermotif serasi dengan amplopnya.

Setelah mandi, bersih-bersih lalu hendak tidur, baru kamu boleh baca suratku. Ada apa gerangan, tumben Arini memberinya sebuah surat. Biasanya Rey menerima buku-buku atau makanan, atau hiasan cinderamata dari Arini.

Benar saja, Rey melakukan apa yang diminta sahabatnya. Setelah merasa segar, lalu bersiap untuk istirahat, dia membuka kertas surat itu.


JIKA SUATU SAAT KAU MENGINGATKU

ingatlah senyumku
bukan tangisku
karena aku tak ingin kau bersedih

ingatlah gembiraku
bukan dukaku
karna aku tak ingin kau terluka

ingatlah kebaikanku
bukan keburukanku
karena aku tak ingin kau kecewa

ingatlah keramahanku
bukan kemarahanku
karna aku tak ingin kau mendendam

jika suatu hari aku pergi
kau takkan merasa sendiri
karna aku kan menyertai

jika suatu hari kau meninggalkanku
aku takkan merasa duka
karna kau selalu bersamaku

jika kita bertemu lagi
berikan aku senyummu
yang dulu selalu kujumpai
dalam hari-hari ceriaku

jika kita berpisah
janganlah merasa resah
karna kita pAsti kan kembali jumpa

jika kau takkan pernah kembali
tolong maafkanlah aku
atas segala dosa dan khilafku

karna ku tak ingin kau menyesal
karna ku takkan pernah menyesal
telah mengenalmu

Babakan Ciamis, 12 Okt ‘06



*) Tulisan ini saya perembahkan sebagai bentuk rasa terima kasih saya kepada seseorang nun jauh di sana, Mira Rachmawati, seorang sahabat.

9 comments:

  1. Makin keren tulisannya, mas Dwi. Siipp ^^

    ReplyDelete
  2. Saya JD kangen sahabat saya di daerah seberang,

    ReplyDelete
  3. uwaaa.....aku baper baca ini hiks, keinget, keingin, kebayang, dan aku... rindu!!

    ReplyDelete
  4. Nanti saya suruh Mira Rachmawati buat baca ini. Dia harus baca.

    ReplyDelete