:::: MENU ::::
KITAB SABILUL 'ABID JAUHARAH AT-TAWHID, sholeh darat, NU, nahdhatul ulama

Diambil dari Kitab Sabilul 'Abid Jauharah at-Tawhid karya Kyai Haji Sholeh Darat

13. Tawakal, maksudnya berserah diri kepada Allâh.

Tawakal ada tiga tingkatan:

a. Kepasrahanmu kepada Allâh seperti kepasrahan seseorang kepada orang yang lebih mulia dan lebih pandai darinya. Engkau merasa mantap ketika pasrah kepada orang tersebut.

b. Kepasrahanmu kepada Allâh seperti kepasrahan dan kepercayaan seorang anak kepada orang tuanya. Seorang anak tidak punya pikiran lain selain pasrah dan patuh kepada orang tuanya, karena dia beranggapan orang tuanyalah yang 
bisa mengangkat derajatnya.


c. Kepasrahanmu kcpada Allah seperti mayit di hadapan orang yang memandikan, merasa tak bisa apa-apa menerima,
 dan bahagia tehadap apapun yang dilakukan oleh orang yang memandikannya.

Tawakal ketiga adalah tingkatan yang paling tinggi, sedang yang kedua adalah tingkaan yang paling rendah. Jangan sampai 
engkau tidak termasuk pada tingkatan tawakal kesatu atau kedua karena tawakal itu wajib hukumnya bagi seorang mukmin.

14. Mencintai dan menyayangi Nabi Muhammad SAW.


Hal ini sesuai sabda Nabi: “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian semua sampai aku lebih dia kasihi (kecintaan dan rasa sayangnya padaku) kecintaannya pada dininya sendiri, hartanya, anaknya, orang tuanya, dan semua manusia”.

Maksud dan hadits ini adalah bahwa engkau rela berkorban tenaga dan harta demi membela dan melakukan apa yang disukai dan diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Orang yang ingin menunaikan haji dan umroh, kemudian ragu-ragu untuk berangkat dengan alasan khawatir terlalu lelah. sakit, mahalnya biaya, banyak pembegal di jalan, atau karena terhalang lautan api. Akhirnya dia tidak jadi berangkat karena takut akan mati, hartanya berkurang (untuk biaya), berpisah dengan anak, istri, dan orang tua, maka orang tersebut tidak memiliki iman, maksudnya imannya belum sempurna.

Cinta kepada Rasulullâh SAW pada hakikatnya adalah bentuk cinta kepada Allâh SWT, begitu juga cinta kepada ulama akhirat, muttaqîn (orang-orang yang bertakwa), awliyâ (para kekekasih Allâh). Keimpulannya tidak boleh mencintai seiain Allâh kecuali karena cinta kepada Allâh.

13. Mengagungkan derajat Rasuiullâh SAW.


Maksudnya selalu memakai tatakrama saat mendengar nama Beliau disebut atau ketika mendengar hadits selalu dibackan dengan berkata "Gusti Rasululâh SAW atau Kanjeng Gusti Rasulullâh SAW. Jangan pernah berkata Wahai Muhammad” atau “Wahai Ahmad" kata-kata seperti itu diharamkan.

Wajib membaca shalawat ketika mendengar nama Rasuilullâh SAW atau saat menulis nama beliau, jangan bersuara lantang ketika ziarah makam, menyebut nama atau kelahiran Beliau. Karenanya bagi orang awam tidak disunnahkan berdiri ketika pembacaan:


"Thala'al badru 'alaynaa, min tsaniyyaatil wadaa'"

Orang awam helum begitu mengerti adab terhadap Nabí, jika mereka berdiri dikhawatirkan akan terjadi bid'ah munakkarah. Sedangkan bagi orang yang telah mengerti derajat Nabi, yakni para ârifîn, disunnahkan untuk berdiri. Mayoritas orang awam belum begitu mengerti adab dan cara menghormati Nabi, sering kali saat berdiri mereka malah terlihat panik dengan melakukan hal-hal buruk yang diingkari oleh syariat islam. Inna lillâhi wa inna ilahi râji’ûn.


16. Totalitas dalam beragama.

Maksudnya seorang mukmin harus totalitas pada Islam, rela kehilangan nyawa dan harta daripada harus menanggalkan keimanan atau melakukan larangan agama. Seandainya  seorang yang zalim berkata kepada seorang mukmin, "Jika engkau tidak mau meninggalkan agarnamu, maka engkau akan kubinasakan” atau "engkau akan aku pecat dari jabatanmu", seorang mukmin harus menolak, lebih balk kehilangan nyawa atau jabatan daripada meninggalkan keimanan.

Begitu pula orang yang dipaksa uniuk melakukan dosa besar jika tidak mau maka akan dipecat dari jabatannya. Maka mukmib wajib menolak. Jika mau menanggalkan keimanan agar tidak dipecat dari jabatannya, maka itu pertanda bahwa orang tersebut tidak beriman. Kepala pemerintahan wajib memecat orang tersebut dari jabatannya karena telah menanggalkan keimanannya, sedangkan syarat orang yang memegang kekuasan harus memiliki keimanan yang kokoh, karena dia memiliki tugas mengatur hajat hidup orang banyak. Pahamilah masalah ini!

17. Mencari ilmu yang bermanfaat dari guru yang sempurna, karena ilmu tanpa guru tidak bisa dinamakan ilmu. Rasulullâh SAW bersabda: "Barang siapa belajar satu bab ilmu yang bisa bermanfaat di dunia dan akhirat itu lebih baik baginya dibandingkun dengan diberi umur tujuh ribu tahun yang diisi dengan puasa saat siang dan shalat saat malam".

Wajib bagimu untuk pergi menuntut ilmu, walaupun terhalang lautan api sekalipun, engkau harus tetap berangkat menuntut ilmu. Wajib nat mencari ilmu dengan ikhlas, jangan mencari ilmu sebagai sarana untuk mencari uang atau agar dekat dengan pemerintah, hal itu berhukum haram, jika belum taubat dan mati, maka mati sebagai orang munafik. Niatkan mencari ilmu untuk melaksanakan perintah Allâh dan menghidupkan agama. Jangan berguru kepada guru yang tidak ikhlas dalam mengajar, juga kepada guru yang tidak memiliki guru, immunya tidak bermanfaat. Ilmu yang tanpa guru yang mu’tabar tidak bisa disebut ilmu.

(Bersambung ...)

<< Sebelumnya

0 komentar:

Post a Comment