:::: MENU ::::
Kitab Sabilul 'Abid Jauharah At-Tawhid, Sholeh Darat

Diambil dari Kitab Sabilul 'Abid Jauharah at-Tawhid karya Kyai Haji Sholeh Darat

18. Belajar dan mengajarkan ilmu syara'

Rasulullâh SAW bersabda, "Orang yang telah mendengar apa yang aku sampaikan wajib menyampaikan apa yang didengarnya pada orang yang tidak mendengar (demikian seterusnya sampai kiamat)"

Setiap orang yang mengetahul suatu ilmu, misalnya tentang fardhu wudhu, maka dia sudah termasuk ahlì ilmu yang punya kewajiban mengajari orang-orang yang belum mengerti tentang fardhu wudhu. Jika dia tidak mau mengajarkan ilmunya dia menanggung dosa orang-orang yang tidak mengerti. Setiap perkampungan atau masjid harus ada orang yang mengajarkan ilmu-ilmu agarna Islam, begitu juga di setiap desa.

Hal pertama yang harus diajarkan adalah hal-hal yang berhukum fardhu 'ain, tidak diperbolehkan mengajarkan hal-hal yang berhukum fardhu kifayah sebelum selesai mengajarkan hal-
hal yang berhukum fardhu 'ain. Oleh karena itu, wajib terlebih dahulu mengajarkan aqâ'id khamsîn (50 akidah) kemudian bab thahârah (bersuci), bab hadats dan najis, bab salat dan hal-hal yang akan dilakukan, kemudian ilmu tentang hati manusia, meliputi sifat-sifat terpuji dan tercela. Tidak diperbolehkan mengajari anak kecil ilmu nahwu dan ilmu sharof sebetum dia
mengerti 50 akidah, tata cara berwudhu, dan salat.

Ajarilah orang awam sesuai dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka, baik bahasa melayu atau bahasa Jawa. Pilihlah yang paling bisa mereka pahami, karena tuuan dan pembelajaran adalah agar bisa dimengerti, bukan menyampaikan lafadz saja. Jangan sampai orang awam yang sudah tua renta engkau ajari kitab yang berbahasa Arab, tidak akan berhasil.

Orang yang menjadi guru tidak boleh sombong, tidak mau
mengajarkan kitab terjemahan (bahasa 'ajam/selain bahasa Arab) karena khawatir dianggap bodoh, merasa senang jika orang lain terlihat bodoh dan dia terlihat 'alim, orang yang punya pemikiran seperti ini adalah orang gila. Syekh al-Allâmah Ismail Minangkabau berdomisili di Mekkah Mukarramah, beliau mengajar kitab Sabîl al-Muhtadi yang diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh Syekh al-Alâmah Irsyad Banjari, kitab Syu'bah al Imân asalnya berbahasa Persia saat masih dicetak di Persia, kemudian disalin ke bahasa Arab dan dicetak di negara Arab.

Seorang guru tidak boleh suka menjadi pandai sendiri sedangkan orang-orang di sekitarnya tetap bodoh, juga tidak boleh menyesatkan pemahaman orang-orang awam dengan berkata, "Jangan belajar kitab-kitab berbahasa Jawa atau Melayu, karena akan membuatmu semakin bodoh, bahasa Jawa ¡tu bukan ilmu, karena yang namanya ilmu harus berbahasa Arab". Kemudian orang-orang awam percaya dan tidak mau mempelajari kitab-kitab berbahasa Jawa, mereka pun tetap bodoh, tidak mengerti tentang agama, karena sulitnya mempelajari bahasa Arab.Jika sudah seperti ¡ni, yang menanggung dosa mereka adalah orang yang menasihati, dia termasuk dalarn doa para khatib:

"Ya, Allâh, hinakanlah orang yang menghinakan orang-orang Muslim."

Berhukum fardhu kifayah bagi orang 'âlim untuk keluar ke perkampungan atau desa di negaranya guna mengajarkan ilmu-ilmu agama dan hal-hal yang wajib dalam syariat Islam, membawa ongkos sendiri, jangan meminta makanan kepada orang-orang yang diajar, dan jangan mengharap apapun dan mereka. Jika sudah ada satu saja orang âlim yang melakukan hal tersehut, gugurlah kewajiban dari semua, tetapi jika tidak ada yang melakukannya, semua orang di daerah tersebut berdosa, baik orang 'âlim maupun awam. Orang 'âlim berdosa karena tidak mau mengajarkan ilmu, orang awam berdosa karena tidak mau belajar. Ini menurut pendapat Imam as-Suhaimi mengikuti pendapat Imam al-Ghazali.

Di masa sekarang tidak ada lagi orang 'âlim yang masuk ke perkampungan dan desa-desa untuk mengajarkan ilmu agama, karena takut pada fitnah zaman, maka wajib bagi orang 'âlim untuk mengarang kitab yang menjelaskan tentang ajaran agama Islam, meliputi akidah, cabang-cabang syariat, bab bersuci, salat, dengan bahasa yang bisa dipahami, yaitu bahasa Jawa atau bahasa Melayu.

Orang 'âlim wajib mengajarkan syariat Islam dengan caranya masing-masing, dan jangan sampai menyesatkan orang-orang awam, karena hal ¡tu bisa menjadikannya makhdhûl (dihinakan oleh Allâh). Alangkah bahagianya Nabi jika melihat masa sekarang, di mana banyak umatnya yang 'âlim mau menyebarluaskan agarna Islam dan mengajar orang-orang awam. Jangan mempersulit orang-orang awam dalam mempelajari agama, buatlah mudah, agar hati mereka senang menerima ajaran agma Islam.

19. Memuliakan Alquran dengan cara membaca dan menyentuh Alquran dalam keadaan suci, memakai pakaian suci, dan di tempat yang suci.

20. Bersuci dari hadats dengan cara berwudhu, mandi besar dan menyucikan najis dari badan.

Rasulullâh SAW bersabda:

"Suci adalah sebagian dari iman"

Syekh Hatim berkata pada Ashim bin Yusuf, "Ketika telah masuk waktu salat, maka berwudhulah dengan dua macam wudhu, yaitu wudhu zhahir dan wudhu bathin". Ashim bertanya, "Bagaimana maksudnya, wahai Syekh?" Syekh Hatim menjawab, "Wudhu zhahir, engkau sudah mengetahuinya. Adapun wudhu bathin adalah bertaubat dari semua bentuk maksiat, merasa menyesal dan sedih, meninggalkan perbuatan menipu, ragu-ragu, sombong, mencintai dunia, senang dipuji manusia, dan meninggalkan kekuasaan. Barang siapa yang senantiasa berwudhu maka akan selamat dari bencana, lapang rezekinya, dan tidak akan fakir selamanya".

21. Melaksanakan salat lima waktu pada waktunya dengan memenuhi semua syarat dan rukunya.

"Tanda dari keimanan adalah melakukan salat lima waktu."

Salah satu sahabat pernah bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullâh, apa tanda-tanda orang mukmin dan orang munafik? "Rasulullâh SAW menjawab, "Orang mukmin selalu berpikir tentang salat, puasa, dan ibadah, sedangkan orang munafik selalu berpikir tentang masalah makan dan minum seperti kerbau dan sapi."

(Bersambung ...)


<< Sebelumnya

0 komentar:

Post a Comment