:::: MENU ::::

"Kita dapat tugas dari Miss Currie." Aku memberikan gawai kepada Law.

"Apa katanya?" Pria bermata sipit, berkulit putih dan tubuh tinggi kurus itu nimbrung.

"Sebentar, aku bacakan." Law membuka layar gawai yang diterimanya dariku.

Walikota mengirim SMS, seseorg memasang alat peledak, mngkn org iseng yg gila. Alatnya dipasang di pusat kota. Alat pemicu ledakan itu harus dihentikan! Jika tdk ledakan akan terjadi sblm pesta thn baru. Pergi ke kota asia afrika, skrg! Pecahkan kode yg kalian terima. #topsecret

"Topsecret, teman-teman. Keren nih. Kita akan terlibat dalam kasus yang sangat besar."

Kami saling berpandangan. Aku, dan kedua sahabatku: Law dan Alvin. "Kita harus ke sana, aku belum pernah bepergian ke benua Afrika?"

"Memangnya siapa yang mau pergi ke Afrika, Tuan Putri?" Dengan gaya menyindir, Alvin memandangku, seakan dia adalah pelayan kerajaan.

"Miss Currie menyuruh kita ke ibu kota Afrika."

"Bukan ibu kota Afrika, tetapi ibu kota asia afrika. Kamu tahu kan, dulu Bandung dijadikan sebagai tempat Konferensi Asia Afrika."

"Hmm ... iya, mungkin."

"Ah, sudahlah. Kamu memang selalu berpikir telat." Alvin kembali sinis kepadaku.

"Kemasi barang-barang kalian. Besok pagi kita berangkat." Seperti biasa Law selalu saja berlagak seperti bos, suruh ini suruh itu.

"Sebentar Law, Miss Currie menyuruh kita memecahkan kode, kode apa?" Wajahnya tampak lebih serius.

"Entahlah, aku belum berpikir ke sana. Kode apa, di mana mencarinya? Aku tidak tahu, Al."

-ooOoo-

Aku duduk sendiri, di belakang mereka berdua. Katanya aku tidak cukup duduk di satu kursi. Perusahaan bus harus menyediakan kursi desain khusus yang pas dengan ukuran tubuhku. Paling menyakitkan ketika aku dibilang mirip panda lucu yang makan seekor gajah, tubuhnya luar biasa melar. Siapa lagi kalau bukan Si Alvin, sumber dari segala sumber keributan diantara kami bertiga.

"Bagi-bagi donk, makanan itu kan semua aku yang beli!"

"Enggak, nanti kalau sudah setengah jalan. Kamu gak bakalan berhenti makan, belum sampai tujuan, sudah habis lagi makanannya." Anak bermata sipit itu nyerocos hebat.

Kondektur menghampiriku. Meminta uang perjalanan dan menyerahkan karcis. Awalnya aku tak terlalu memerhatikan kertas karcis yang ada di tanganku.

Hampir setengah jam perjalanan yang membosankan tanpa makanan. Memangnya kalau terlibat dalam sebuah petualangan harus selalu serius seperti ini ya. Aku pikir sambil makan-makan, mendengarkan lagu dangdut Via Vallen, dan sekali-kali main tebak-tebakan tidak jadi masalah. Aku bahkan bisa berpikir lebih hebat jika perut terisi penuh.

"Hei, coba lihat karcisku ini." Aku menyerahkannya kepada Law.

"Apa? Apanya yang aneh?"

"Coba lihat lebih jeli, ada tulisan kecil di bawah." Aku memastikan mereka lebih jeli melihat.

"Sepertinya sebuah kode," Alvin ikut memerhatikan tulisan itu, "tapi apa maksudnya. Mungkin hanya orang iseng saja."


"Kalau dibaca tulisan itu E-Z-O-i-X-2-Z-O-'g." Law mencoba untuk tidak menganggap sepele. "Siapa tahu kode ini memang ditujukan kepada kita. Aku sendiri tidak tahu kode apa itu."

Tidak ada kesimpulan. Kode itu mengambang, tersimpan di dalam pikiran masing-masing. Ah, perutku semakin keroncongan. Memangnya kode itu harus segera dipecahkan ya.

-ooOoo-

"Ssst, Putri!" Alvin berbisik ke arahku. "Bangun Put!"

"Hoam, ada apa sih Vin."

"Lihat laki-laki di samping belakang kamu. Orangnya pakai kacamata hitam, bertopi hijau tentara."

"Ah, yang itu ya. Kenapa dia?"

"Sedari tadi melihat ke arah kamu."

"Ah, jangan macam-macam dong. Kamu iseng ya, menakut-nakuti aku."

Selang beberapa menit, aku coba untuk melihat lelaki yang tadi Alvin omongkan. Benar dugaan Alvin, begitu aku melihatnya, sekejap beradu pandang, dia langsung membuang muka, seakan sedang melihat ke arah jendela bus. Aku mulai merinding. Pakaian dan tubuh laki-laki itu pantasnya menjadi pembunuh bayaran. Pikiranku mulai tidak-tidak.

Kondektur bus memberi kode bahwa sebentar lagi akan sampai di daerah Kadipaten Majalengka. Beberapa penumpang membereskan barang bawaannya, bersiap turun. Tiba-tiba seorang laki-laki terhuyung jatuh dan siku tangannya menimpa kepalaku. Laki-laki itu tak mengucap sepatah kata pun, lalu bergegas berdiri menuju pintu keluar. Kagetnya, laki-laki itu adalah si Topi Hijau Tentara!

Dia menjatuhkan sebuah kartu seperti kartu tanda pengenal. Kartu itu tergeletak begitu saja di dekat kakiku.

"Hai kalian, lihat apa yang aku temukan." Kartu itu aku pegang dengan kedua jariku, dan memperlihatkannya kepada mereka. "Si Topi Hijau itu sengaja menjatuhkannya."

Sontak mereka menengok ke arahku dan membelalakan mata. Seakan tak percaya, Alvin langsung merebut kartu itu. Dia mengamati lamat-lamat kedua sisinya.

"Apa ini? Tidak ada apa pun." Alvin menyimpulkan.

"Coba aku lihat." Law melakukan persis apa yang dilakukan Alvin. Lalu, merobek lapisan tipis plastik yang membungkusnya.

"Ada kode!" Dia berteriak girang.

Tersusun dari balok-balok, tapi bukan sebuah rumah. pergilah ke sana. ada 7 lapisan, bukan langit, ada 18 barisan, bukan tentara.

"Woow ...!" Aku terpukau.

"Kenapa kamu Put?" Alvin menatap diriku aneh.

"Aku hanya berkata wow, dan aku sama sekali tidak tahu bahasa apa itu, mungkin alien."

"Ada kode lain!"

"Sini aku yang bacakan!" Alvin merebutnya dari Law.

Harus 5, bukan 4, bukan 6. lautan memilikinya. melimpah. matahari akan membantumu menemukannya.

Semua terpekur, bersandar di kursi masing-masing.

-ooOoo-


(Bersambung ...)

2 comments:

  1. Kode yang aneh. Coba aku hubungi Arjuna agar mencari tinta. Aneh.

    ReplyDelete