:::: MENU ::::

Langit perlahan semakin gelap. Arak-arakan awan kelabu semakin cepat menembus dinginnya udara Tahuna. Pohon palem yang berjejer di tepian pantai bergoyang keras seakan memberi tanda bahwa sebentar lagi akan terjadi badai. Disusul cuitan melengking burung manyar terbang ke sana kemari menjauhi sumber angin.

Pintu-pintu dan jendela mulai tertutup rapat. Orang-orang setengah khawatir dengan keadaan di luar sana. Mereka tak pernah mengalami keadaan seperti itu sebelumnya. Lihat saja bagaimana langit yang tadinya cerah, biru menyenangkan, tiba-tiba saja berubah. Tidak sampai setengah jam gulungan-gulungan awan kelabu dan hitam menutup seluruh permukaan langit. Anging menderu. Sambaran kilat sesekali terlihat namun tidak dibarengi oleh gemuruh guntur.

Aneh.

Kilatan-kilatan semakin sering terlihat. Terang sekali. Hampir membutakan mata. Tetap saja, tak ada suara guntur. Orang-orang mulai bertanya, cahaya apa sebenarnya yang tampak di langit sana. Apakah cahaya-cahaya itu benar-benar petir. Atau cahaya itu muncul dari dalam Gua Kawangkoan yang terkenal angker.

Dalam keadaan panik, dari arah bukit Tahuna, mereka melihat kilat cahaya menembaki puncaknya. Semakin membingungkan. Seakan-akan bukit Tahuna memiliki medan magnet, menarik kilatan cahaya dan awan yang semakin pekat.

Semua orang terdiam, dengan keringat dingin membasahi tubuh. Sebuah cahaya teramat terang muncul dari atah barat. Semakin mendekat. Dalam hitungan sepersekian detik menyambar puncak bukit.

Blaarr!!!

***

Ruangan tengah itu tampak sepi. Hanya menyisakan suara televisi yang menayangkan berita terkini, breaking news. Begitu pula di ruang tamu, teras rumah, halaman belakang, ruang makan dan semua ruang di lantai satu. Tak tampak batang hidung penghuninya. 

Rumah dengan arsitektur khas Papua dipadukan dengan rangka modern, sangat memanjakan mata. Siapa pun akan terkagum-kagum jika sudah melihat dan memasuki ruangan-ruangannya.

Tapi tidak di lantai dua. Di sebuah ruangannya terdengar orang yang sedang mengobrol. Sesekali diselingi oleh tawa dan teriakan. Dari jendela yang terbuka orang lain bisa tahu suara orang tadi berasal dari ruang kamar yang menghadap timur.

“Ayolah, jangan bertele-tele. Tinggal putuskan jadi atau tidak kita berlibur ke pulau seberang?” Suara seorang perempuan setengah kesal menengahi obrolan itu.

“Rumah pohon juga harus selesai donk.” Suara berat terdengar, tapi tidak terlalu jelas. Seperti ada suara gemerisik yang mengganggunya, “Aku sudah bekerja seminggu di halaman belakang, masa ditinggal begitu saja. Terus kalian enak-enakan berlibur.”

“Kapan lagi, Gab?” Dengan suaran melengkingya perempuan yang tadi bertanya. “Dua hari lagi sudah Desember, tahu sendiri kan bagaimana musim bisa berubah dengan cepat. Tak bisa diprediksi”

“Tidak, Aku tidak ikut, titik!”

“Terus mau kamu apa?”

“Selesaikan dulu rumah pohon. Dan itu akan menjadi markas besar yang sangat keren.” Suara beratnya terdengar lebih riang.

“Heh, Chev, Ngomong donk! Dari tadi cuman gambar kerjaannya. Menurut kamu bagaimana?”

Orang yang ditanya tetap diam, asyik dengan kertas yang disimpan di atas meja. Sesekali pensilnya menggores-gores panjang dan pendek. Lalu arsiran-arsiran di sana-sini menembah efek cahaya, membuat gambarnya semakin nyata.

“Hallo ...?! Chev, kamu dengar tidak!” Bentak perempuan bersuara melengking.

“Tenang, jangan marah dulu. Lihat nih.”

Chev, perempuan berwajah bulat dengan pipi menonjol itu terlihat di layar monitor menujukkan sketsa yang digambarnya sejak tadi. Sketsa itu menunjukkan sebuah landscape pegunungan yang berjejer, ada yang landai, ada yang runcing, dan sebuah gunung paling besar berbentuk perahu terbalik digambar sangat jelas. Bagian bawah sketsa berupa gedung-gedung tinggi tampak kokoh. Sky-Tran terhubung dari salah satu gedung menuju kaki pegunungan di kejauhan, menonjolkan peradaban tempat itu cukup tinggi.

“Apa itu?” Pemiliki suara berat itu bertanya. Dia, Gabahali, pemuda berbadan tinggi besar. Kalian pernah melihat pebasket Michael Jordan? Nah, sosok Gabahali persis seperti bintang dari Amerika Serikat itu.

“Tempat yang akan kita tuju esok lusa!” Senyum Chev mengembang. Dari nada bicaranya ada suatu yang membuat dirinya akan mengatakan sepakat untuk berangkat menuju pulau seberang. “Aku ikut, Fab! I always with you, wherever you go ...”

“Nice! You are my best friend Chev.” Perempuan pirang itu merasa mendapat dukungan, jari-jari tangannya membentuk sebuah simbol bulat antara jempol dan telunjuk, “Okay!”

“Tidak adil!” Gab bersungut, “Kalian sudah bersekongkol. Dua perempuan, satu laki-laki, jelas aku selalu kalah kalau ada keputusan.”

“Kita bersenang-senang, Gab.” Suara melengking itu terdengar merajuk. Fab, atau Fabienne, berambut pirang. Orang tuanya blasteran indo Bugis-Eropa. “Liburan hanya satu bulan. Kita habiskan satu minggu di pulau seberang. Sisanya kita bisa bereskan markas besar di rumahmu.”

Mereka terus mengobrol dengan asyik. Tapi di ruang kamar itu hanya ada seorang perempuan berambut pirang. Tidak ada orang lain selain perempuan itu. Tidak ada pria tinggi besar mirip Michael Jorda, tidak ada pula perempuan berwajah bulat hitam manis yang selalu asyik menggambar.

Ketiga orang itu menghadap ke arah layar monitor, di rumahnya masing-masing. Teknologi telah mempermudah apa pun. Termasuk jarak dan waktu yang telah hilang batasannya. Bukan hanya tulisan atau file yang dapat dikirim ke tempat mana pun di dunia ini dengan sangat cepat. Termasuk video, live streaming, pindai sebuah tempat, dan lokasi di suatu titik di dunia ini.

Akhirnya keputusan telah diambil. Fab, Gabahali, dan Chev akan berpetualang kembali menuju pulau seberang. Mereka akan menghabiskan watktu seminggu di awal liburan jauh dari tempatnya berada sekarang. 

“Oke, teknisnya kita bicarakan nanti malam di rumah Gab. Siapkan semua perlengkapan yang sudah kita susun ya, Gab.”

“Siap laksanakan, Nona Fab yang cerewet!” Gab memberi hormat seperti anak buah kepada atasannya. Kedua sahabat perempuannya tertawa terbahak melihat tingkah Gab memberi hormat. Layar monitor meredup. 

Skype will be shut down. Are you sure? Yes or No.

Fab menyentuh layar monitor tepat pada pilihan Yes.

Skype shutting down. Thank you.


(Bersambung ...)

2 comments: