:::: MENU ::::
belajar mengajar, pendidikan, sistem pendidikan

Jika kalian bertanya, bagaimana rasanya mengajar di sekolah utopia?

Jawabannya: sangat menyenangkan. Apalagi jika kalian pernah mengajar di sekolah, atau telah bertahun-tahun mengajar di negeri ini. Kalian akan sangat terpana dengan apa dialami ketika mengajar di sekolah utopia. Bahkan bisa jadi terhipnosis, sampai tak sadar air liur menetes dari sela-sela bibir.

Sekolah utopia adalah sebuah sekolah di negeri awan. Sama saja seperti sekolah kebanyakan di negeri ini. Hanya saja ada perbedaan dari proses belajar mengajarnya. Bagaimana tidak menyenangkan jika kita mengajar hanya enam jam sehari (asumsinya jam mengajar dalam satu harinya penuh). Bel masuk berbunyi pada pukul delapan, dan sebelum pukul dua siang hari, semua pengajar sudah kembali ke rumah masing-masing.

Di luar sekolah, pengajar tidak diperkenankan membawa apalagi mengerjakan tugas sekolah. Tugas sekolah hanya dikerjakan di sekolah itu sendiri. Setengah jam atau 20 menit sebelum bel tanda masuk, semua pengajar berkumpul di sebuah ruangan. Mereka mempersiapkan skenario pembelajaran hari itu. Terkadang sesama pengajar membahas bagaimana menggunakan metode yang tepat pada salah satu kelas.

Oh iya, tentu saja kalian tahu, setiap kelas selalu memiliki karakter berbeda dari anak-anaknya. Tidak ada satu kelas pun yang memiliki karakter pembelajaran yang sama persis. Sehingga diperlukan metode yang berbeda untuk tiap-tiap kelas. Bahkan metode yang berbeda pula untuk tiap-tiap anak didik.

Lama pembelajaran per satu jam pelajaran berkisar antara 45 - 55 menit. Dan inilah yang menyenangkannya: tiap satu atau dua jam pelajaran terdapat jeda istirahat selama 15 menit. Wow! Dan semua anak-anak benar-benar istirahat. Mereka diizinkan melakukan apa pun, di luar kelasnya masing-masing.

Para pengajar duduk mengelilingi meja di kantin sekolah, sambil menyeruput kopi mengobrol ringan dengan sesama rekannya. Waktu jeda ini seringkali menjadi ajang "curhat" terhadap permasalahan yang dihadapi selama mengajar di suatu kelas. Pada akhirnya mereka menemukan solusi terhadap berbagai permasalahn yang dialami tadi.

Kepala sekolah utopia di negeri awan ternyata mendapat jam mengajar juga. Dan ini harus dilakukan kepala sekolah, mengajar sama seperti pengajar lainnya. Pengaruh apa yang didapat sekolah utopia dengan kepala sekolahnya melakukan pengajaran di kelas? Apakah kalian bisa menebak?

Ya, betul. Dengan kepala sekolah ikut terlibat dalam pengajaran di kelas, maka ia akan mengalami sendiri seperti apa kondisi anak didiknya selama mengikuti kegiatan belajar. Semua kebijakan sekolah dan penyelesaian yang diputuskan akan mencerminkan kondisi riil di kelas tersebut. Ia tidak hanya memutuskan atau memberi suatu tugas kepada pengajar tanpa mempertimbangkan kondisi anak-anak didiknya.

Bagaimana dengan administrasi pengajaran? Apakah pengajar sekolah utopia sama seperti pengajar di negeri ini? Apakah mereka juga mengabsen anak didiknya, menghitung kehadiran, merekap nilai, mengisi data diri anak didik, menginput nilai untuk buku raport, membuat silabus, rencana pengajaran, program semester, serta program tahunan, juga mengoreksi pekerjaan ulangan anak didiknya?

Tentu saja tidak. Tugas pengajar di sekolah utopia adalah mengajar dan mendidik anak-anaknya. Mereka dibebaskan untuk membuat silabus dan rencana pengajara sendiri. Ada tata usaha bidang akademik yang akan membantu para pengajar. Bidang akademik ini akan memeriksa hasil pekerjaan anak didik (seperti ulangan tengah semester atau ujian kenaikan kelas, dan sebagainya), mendata kehadiran, melaporkannya kepada guru kelas, menginput, mengolah, dan mencetak nilai untuk buku raport.

Apa yang dilakukan pengajar setelah selesai tugas di sekolahnya?

Mereka akan berkumpul dengan keluarganya masing-masing. Berarti waktu untuk keluarga jauh lebih banyak dibanding waktu yang dihabiskan di sekolahnya. Selain itu mereka akan ikut perkumpulan yang sesuai dengan passionnya. Apakah berupa komunitas, organisasi, relawan, badan usaha, klub olahraga, dan lainnya.

Tulisan di atas merupakan sebagian kecil rangkuman dari sebuah buku karya Timothy D. Walker, yaitu "Teach Like Finland". Pengarang buku ini adalah seorang pengajar yang berpuluh tahun mengajar di negara Amerika Serikat. Pada suatu waktu ia dipindahtugaskan oleh sekolahnya ke suatu negara skandinavia, yaitu Finlandia. Secara kebetulan istrinya merupakan perempuan yang berasal dari Finlandia.

Pengalaman sangat menakjubkan baginya itu, disarikan dalam sebuah buku dengan gaya bahasa ringan dan mengalir. Renyah, seperti kentang goreng, untuk sekali baca atau dijadikan camilan waktu senggang. Bagaimana sistem pendidikan di negara Finlandia sangat menunjang keberhasilan anak didiknya meraih berbagai prestasi. Dan yang paling penting dari sistem pendidikan di Finlandia adalah tingkat kebahagiaan pengajar dan anak didiknya sangat tinggi.

Bukan tidak mungkin negara kita bisa mengadopsi sistem pendidikan yang lebih baik dengan sistem sebelumnya. Hari ini kita masih memiliki sistem yang berkiblat pada negara Amerika Serikat, padahal sekolah-sekolah di negara adidaya itu sendiri mulai banyak menerapkan sistem pendidikan Finlandia. 

Pada akhirnya harapan saya semoga pesan yang ada pada tulisan di atas bisa diambil sebagai sebuah kebaikan (khususnya bagi diri saya pribadi). Toh, kebaikan bisa kita ambil dari mana saja, tidak memandang itu siapa atau darimana asal orang itu. Sebagai pengajar tentu akan lebih bahagia dan sejahtera jika rumah hanya sebagai tempat untuk berbagi dengan sesama keluarga tercinta, bukan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang selalu menumpuk setiap bulannya.

Demikian, semoga bermanfaat.


#OneDayOnePost


*) Utopia = suatu komunitas atau masyarakat khayalan dengan kualitas-kualitas yang sangat didambakan ataupun nyaris sempurna (Wikipedia)

2 comments: