:::: MENU ::::

Dandanannya terlalu menor untuk ukuran sebuah kampung. Bayangkan saja, dengan atasan putih-kuning dan rok sebatas lutut merah menyala, motif bunga sakura, tanpa lengan. Pipinya ditambahkan blush on merah muda, bibir ungu, shadow hijau metalik, dan mascara hitam, membuat semua laki-laki di kampung melihatnya dengan mata melotot. 

Kalau kita sedang berbelanja di perkotaan, sebenarnya masih wajar melihat perempuan berpakaian seperti itu. Banyak orang-orang apalagi perempuan berpakaian seenak udhelé dhéwék. Mungkin mereka kekurangan bahan atau kenapa lah. Husnudzan saja ya. Tapi tempat ini hanya sebuah kampung kecil, jauh dari ibu kota kabupaten. Apalagi dari ibu kota negara. Butuh waktu tiga hari tiga malam untuk mencapainya.

Bukannya keren atau trendy mengikuti fashion kekinian, kalau berpakaian kurang bahan di sebuah kampung malah lebih terlihat norak. Wajar sih kalau siapa pun para lelaki akan memerhatikannya dengan mata melotot. Bukan salah mereka juga kali. Mungkin salah perempuan yang berpakaian itu lah yang salah. Mungkin ya, mungkin.

"Mau kemana Neng Minceu, pagi-pagi wanginya sudah semerbak mewangi?" Terdengar suara dari dalam warung nasi.

"Eeh, Si Emak. Jam segini mah bukan pagi atuh 1) Mak. Sudah hampir tengah hari." Perempuan berpakaian minim berjalan menghampiri warung.

"Kalau libur, masih pagi atuh." Pemilik warung yang dipanggil Emak itu melirik pekaian yang dikenakan Minceu. "Duh, duh, duh ... super duper itu pakaiannya, hebat benar. Bagus pisan.2)"

Pipinya setengah memerah, Minceu mendengar pujian itu. "Ah, Si Emak bisa saja."

"Benar Minceu, pakaian kamu itu bagus pisan. Bukan memuji. Uuuh, jauh atuh kalau dibanding Si Neneng anaknya Bu Odah. Tahu kan?" Semakin bersemangat Emak berbicara memuji-muji Minceu. 

"Lihat saja pakaian kamu, cakep. Warna merahnya silau. Bajunya, aduh, cocok lah dengan warna kulit langsing Minceu. Sudah cantik, bisa dandan seperti ini lagi. Siapa sih cowok yang tidak mau sama kamu, Minceu?" Sambil mengaduk segelas kopi luwak, Si Emak begitu antusias berbicara.

Mendengar pujian selangit dari Si Emak, Minceu memutuskan untuk duduk sekadar lebih lama mendengar omongannya. Tak sengaja rok pendek Minceu semakin terangkat, memperlihatkan sedikit paha putihnya. Sambil beringsut-ingsut dia tarik rok pendeknya agar bisa menutupi lututnya. (Kenapa pula kalau tidak mau terlihat lutut harus mengenakan rok pendek. Duh, tidak masuk di akal).

"Emak mah kalau lihat Si Neneng seperti lihat karung goni yang sudah butut. Tidak menarik. Mana ada laki-laki yang mau sama dia, kalau tiap hari selalu saja diam di rumah. Palingan maghrib saja dia keluar. Ke musala."

"Ngapain ke musala Mak?"

"Apalagi kalau ngajar anak-anak di kampung kita ngaji Minceu. Ada-ada saja kamu ini."

"Bukannya kalau maghrib yang ngajar mengaji di musala Bang Akmal ya Mak?"

"Itu tahu. Makanya dia semangat ngajar di musala, orang ada cowok ganteng di sana."

"Bang Akmal suka sama Si Neneng ya Mak?" Tubuh Minceu semakin merapat. Kupingnya dipasang lebar-lebar.

"Kalau suka memangnya kenapa?" Bola matanya melirik digerakkan ke tepi rambut mata. "Aaah, Emak tahu. Kamu cemburu ya, Minceu?"

Melihat telunjuk tangan pemilik warung nasi itu bergerak ke atas, Minceu buru-buru memegang telunjuk tangan Emak dan menurunkannya. "Ssst, jangan keras-keras atuh Mak ngomongnya." Minceu merengek.
Seorang bapak yang sedari duduk termangu di pojok kursi warung Emak melihat keduanya, dan berdehem keras.

"Eh, bapak." Suara Emak merendah, melipatkan kedua tangan ke depan, meremas-remas roknya dengan perasaan gundah.

"Mana kopi saya, Mak. Lama amat sih. Dari tadi ngobrol saja. Apa saya perlu menunggu sampai subuh?"

"Iya Pak. Ini kopinya. Maaf sudah menunggu lama." Suaranya menjadi bisikan halus.

"Memangnya kamu belum tahu, Minceu, hubungan antara Bang Akmal dan Si Neneng itu?"

"Memangnya bagaimana Mak?"

"Mau tahu?"

"Iya, iya Mak. Saya ingin tahu."

"Nih, dengarkan baik-baik ya. Begini ceritanya ...."

***

Seperti siang sebelum-sebelumnya, warung nasi itu selalu penuh oleh orang-orang. Sebelum zuhur berkumandag, orang-orang yang bertani dan berladang bergegas mengaso, istirahat. Tentu saja perut mereka kosong. Keroncongan. Sedari pagi mencangkul, membajak, menyiangi, memupuk, dan semuanya memerlukan tenaga yang besar.

Maka, ramailah warung nasi Si Emak. Mereka menyerbu apa yang disajikan di hari itu. Makanan khasnya adalah sayur asem dan ikan asin jambal. Apalagi nasi panas yang pulen ditambah sambal terasi dengan racikan khusus, tak ada duanya dimana pun.

"Mana Mak, nasi saya? Lama amat." Lelaki berpakaian kuning dengan gambar logo salah satu partai protes. "Saya kan sudah pesan dari tadi. Kenapa jadi Mang Kemod yang dikasih duluan?"

"Iya, sabar. Habis ini juga Kang Ohle yang dapat giliran." Si Emak merasa senang ada lawan bicara.

"Gimana sih, tetap saja kan saya yang pesan dari tadi."

"Nih, Kang nasinya. Kalau sudah habis, jangan lupa langsung bayar ya. Utangnya sudah numpuk tuh," tidak kalah keras dengan laki-laki berkaus kuning itu, suaranya meninggi. "Emak mah takut saja Kang Ohle pindah dari kampung ini, terus utangnya gak dibayar."

"Sudah ah Mak, diam saja. Jangan buka utang orang lain. Kan yang penting saya bayar." Lirikan orang-orang di sekitarnya serasa menyayat hati Kang Ohle, malu alang bukan kepalang.

"Kalau ada orang ngutang Emak suka takut." Beberapa laki-laki yang sedang makan dengan satu kaki diangkat ke atas bangku diam-diam memerhatikan.

"Bukan apa-apa Kang Ohle, dulu pernah ada orang nipu Emak. Huh, pakaiannya saja perlente, necis, pakai dasi segala, padahal otaknya kotor. Otak penipu." Perempuan seumuran Syahrini itu mulai bercerita panjang.

"Makanya nih, dengerin, orang mah tidak bisa dilihat dari tampilannya. Banyak yang kelihatannya baik padahal jahat. Banyak yang seperti kyai, pakai sorban, pakai baju putih-putih padahal sering menyakiti istrinya di rumah."

"Beda lagi kalau ada orang minta-minta, pakaiannya gembel, bau apek, kudisan, kotor bekas krusak-krusuk di got, tapi siapa tahu hatinya bersih. Iya, siapa tahu. Orang seperti itu kan tidak pernah iri sama orang lain. Orang lain punya rumah, punya mobil, punya ini itu, tidak pernah merasa tersaingi. Lebih penting lagi mereka tidak pernah mengambil yang bukan haknya." Tanpa titik koma, Si Emak bercerita seperti juru dongeng handal.

"Cerita orang yang menipu Emak sih." Seorang lain ikut menimpali.

"Kamu, Ohim, mau tahu ceritanya?"

"Iya lah Mak. Siapa tahu di terminal saya bertemu orang yang sama yang menipu Emak."

"Ceritanya panjang, begini nih ...."

***

Orang-orang mulai berdatangan. Bang Akmal, Kang Hasbulloh, Haji Idrus, para tetokoh kampung berkumpul, saling berjabat tangan hangat, dan terlibat dalam pembicaraan serius. Beberapa ibu-ibu tak ketinggalan dengan mengenakan kain samping yang dililitkan membentuk rok panjang. Tampaknya sore itu tak satu orang pun berdiam di dalam rumah. Semua keluar melihat keadaan rumah dan sekelilingnya.

"Masya Allah, hujan siang tadi benar-benar membuat kampung kita porak poranda." Haji Idrus, imam musala tampak khawatir dengan kondisi kampung itu.

"Sumuhun 3) Uwa Haji. Kita harus lihat seluruh rumah di kampung ini. Takutnya ada yang rumahnya roboh atau rusak." Hasbulloh, kepala kampung yang terkenal di kalangan preman pasar itu menyapa panggilan akrab Haji Idrus. "Musala kampung saja yang dibangun kokoh di sana-sininya mengelupas, atap yang paling belakang terbang entah kemana."

"Mungkin ini peringatan buat warga kampung." Haji Idrus menambahkan, "biar apa? Biar kita semua kembali tersadar akan perbuatan kita yang sudah melanggar ketentuan Gusti Allah." Selalu bijak jika suaranya sudah keluar. Kata-katanya sangat sejuk, mencerminkan isi hati yang selalu tawaduk.

Ternyata hujan yang turun empat jam lalu itu disertai dengan angin puyuh 4). Angin puting beliung. Pepohonan tua langsung rubuh, tak kuat menahan kuatnya aliran yang menghantamnya. Dedaunan pohon bambu terlepas menyisakan batang-batang bambunya saja. Pohon perdu, singkong, dan sejenisnya beberapa tercerabut akar dari tanahnya. Genting rumah yang paling banyak terlihat berserakan di jalanan yang masih becek.

Baru kali ini kampung Haji Idrus terkena hujan disertai angin puting beliung. Karenanya semua orang keluar rumah untuk memastikan tempat lain tidak mengalami kerusakan. Juga lebih karena khawatir rumahnya rubuh.

"Coba Bang Akmal nanti sisir seluruh kampung, biar bisa buat laporan. Ada berapa rumah yang rusak, ada berapa kali yang mampet. Jangan lupa, lihat juga saluran irigasi di pematang." Haji Idrus memberi perintah, namun pandangannya tertuju ke semua orang yang hadir.

"Baik Uwa Haji, mungkin nanti saya bareng Kang Hasbulloh menyisir kampung." Tubuhnya membungkuk takzim.

"Iya, Bang Akmal bisa bareng saya saja nanti menyisir kampung." Sesaat kepala kepala kampung itu menoleh ke arah lain, lalu memandang lagi kepada Bang Akmal.

"Tapi, saya pikir lagi. Ada yang lebih tepat mendampingi Bang Akmal menyisir kampung."

"Maksudnya Kang?" Kening Bang Akmal sedikit mengerut.

"Bang Akmal pasti setuju usul saya. Pasti." Wajahnya tersenyum senang, "Lihat siapa yang datang. Dia pasti mau jemput, terus mengajak menyisir kampung, sekalian jalan-jalan sore."

Mendegar perkataan seperti itu, pemuda itu melirik ke arah yang ditunjuk kepala kampung. Dari kejauhan berjalan sesosok yang sudah sangat dia kenali. Sosok yang selama ini menjadi ....

"Assalamualaikum," suara lembutnya membuyarkan lamunan Bang Akmal, "maaf mengganggu bapak-bapak."

"Alaikumussalam," jawaban salam spontan terdengar gembira, "Eh, Neneng. Apa kabar Neng? Bagaimana di rumah baik-baik saja? Ada apa Neneng tiba-tiba datang ke sini?"

"Tenang Akmal. Kamu itu, baru dia saja sampai. Kamu sudah memberondong banyak pertanyaan. Mana yang mau dijawab dulu, hah?" Sontak semua tertawa tertahan. Pemuda itu tersipu mendengar imam musala membalas pertanyaannya. 

Pipinya memerah ketika Bang Akmal yang pertama menjawab salamnya .

"Anu Bang," perempuan itu masih menutup mulut dengan tangannya, "warungnya terimpa pohon jambu."

"Warung? Warung yang mana Neng?"

"Semuanya hancur. Pohon jambu besar di belakang warung rubuh. Pas mengenai bagian tengah. Abang tahu kan letaknya di depan balong Uwa Amir."

"Sebentar, warung apa?"

"Warung nasi Bang."

"Warung nasi?"

"Iya, warung nasi si Emak."

"Si Emak siapa?"

"Emak Dower."

"Warung nasi Si Emak Dower?"

" ...."



SELESAI


#OneDayOnePost

====

1) atuh = imbuhan khas bagi orang Sunda

2) pisan = sekali; badag pisan = besar sekali

3) sumuhun = iya, benar

4) angin puyuh = sebutan angin puting beliung bagi masyarakat Jawa Barat , Banten, dan sekitarnya

4 comments:

  1. Wew keren euy
    Hidup..mengalir..ringan tuh cerita

    Dan panjang

    ReplyDelete
  2. Emak Dower. Keren. Lambe Turah. Wekaweka. Mas Dwi keren idenya. Bisa aja nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk, mak dower nya ga jualan sambel goreng kentang

      Delete