:::: MENU ::::

Liburan. Kalian tahu, kenapa liburan bagi saya selalu menyenangkan?

Tentu saja, karena liburan adalah hari-hari melepas kerinduan kepada apa pun yang telah lama ada dalam diri saya. Kerinduan terhadap Mamah dan Bapa, yang kini berjarak ratusan kilometer dari tempat kediamanku. Rindu kepada tanah kelahiran, rindu kepada teman-teman yang lama tak bersua, rindu kepada sajian kuliner di Tatar Priangan, dan masih banyak kerinduan lainnya.

Liburan adalah tempat kenangan lama hadir kembali dalam pengalaman nyata secara fisik, bukan hanya batin. Seperti sore ini. Hujan yang selalu turun mengingatkanku puluhan tahun silam. Duduk dalam kenyamanan, di sebuah saung bersama buku-buku yang pernah saya miliki (kini menjadi milik adik bungsu saya).

Lalu saya ambil secarik kertas, dan sebatang pena. Mulai menuliskan apa pun yang terbersit dalam pikiran ini. Kali ini, tentu saja tentang kenangan masa lalu. Kenangan yang dibangun dari rasa cinta terhadap kota kembang, kota Bandung sebagai ibu kota Asia Afrika pada tahun 1955 lampau. Kenangan yang dibangun dari rasa kadeudeuh terhadap Mamah, Bapa, Aa, dan Adi-adi yang kini sudah memiliki jalan hidupnya masing-masing.

Sembari menulis, mata saya melirik tertuju pada meja bundar di sudut ruang saung. Sebuah buku menggodaku untuk membacanya dan menghentikan tulisanku. Sebuah buku lama dari penerbit Mizania, "Merindukanmu, Duhai Muhammad!" yang ditulis oleh Yadi Saeful Hidayat.

Saya segera mengambil buku tersebut, lalu membalik-balikkan halaman demi halamannya. Mata saya tertambat pada salah satu sub judul "Ingatkan Aku, Bila Lupa ....", menyadarkanku akan pentingnya tiga hal yang lama saya acuhkan: akhlak terpuji, kedermawanan, dan senang berbagi.

Sebagai Muslim, panutan kita adalah Kangjeng Nabi Muhammad SAW. Tidak dapat disangsikan lagi bagaimana akhlak terpuji beliau SAW sungguh luar biasa. Bahkan nama "Muhammad" pun memiliki arti salah satunya terpuji. Umat Islam kini mulai kehilangan arah bagaimana memiliki akhlak terpuji tersebut. Contoh kecil jika kita dicaci, dikata-katai dengan kata-kata tidak pantas, kita tidak pernah menerima, kita selalu marah. Namun kita sendiri sering lupa bahwa kita pun sering mencaci orang lain, mencaci tetangganya, mencaci teman kerja yang jabatannya lebih tinggi, dan sebagainya. Jika tidak di hadapan orang itu, kita akan mencaci di belakangnya.

Dua sifat lagi kedermawanan, dan senang berbagi, dua sifat yang hampir sama. Bagaimana saat ini kita mudah melihat di mana-mana, orang-orang lebih bersikap acuh terhadap orang lainnya. Ada seorang pemuda yang tetap asyik duduk sambil bermain gawainya sendiri, padahal di sampingnya ada orang separuh baya berdiri kedinginan, karena terkena cipratan hujan.

Akhir tulisan, saya cuplik untaian kata dari penulis buku tersebut: Yadi Saeful Hidayat pada halaman 39:

Duhai Allah, jadikanlah kami orang-orang yang kelak

di Hari Akhir memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW

masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang

yang mendapatkan cinta Nabi Muhammad SAW

dan kumpulkan kami bersama orang-orang

yang menjemput kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW dengan syafaatnya



Babakan Sari - Bandung, awal tahun 2018

0 komentar:

Post a Comment