:::: MENU ::::

: Fiksi Mini

(Aku berada dalam sebuah ruangan, mirip dengan aula. Hanya sedikit lebih kecil. Meja-meja tersusun rapi berbaris memanjang, dengan papan tulis besar terpasang di dinding depan. Orang-orang di sekelilingku saling bergumam, saling bercengkerama.)

Tiba-tiba pintu terbuka, masuk seseorang yang tak asing bagi mereka.

"Hallo, teman-teman! Perhatian nih," laki-laki bermata abu-abu itu menunjukkan selembar pamflet, "ada tawaran dari Penerbit Abjad."

Orang-orang yang sedari tadi saling bergumam terdiam. Lalu saling pandang. Kening mereka mengerut seperti bertanya-tanya Heh, penerbit? Paling-paling minta tulisan untuk bahan penerbitan buku.

"Siapa yang mau gabung?"

"Gabung apaan, Masbro?"

"Penerbit Abjad menawarkan siapa saja yang mau gabung dalam program kepenulisan tingkat pemula." Nada bicaranya begitu bersemangat. Bola matanya tak henti memandang teman-teman di ruangan itu. "Tanpa dipungut biaya alias free!"

Kembali orang-orang itu saling bergumam. Namun gumamannya kali ini berbeda. Senyum sinis dan mata-mata yang melirik diam-diam menghiasi gumaman mereka. Tak ada satu pun yang antusias menanggapi kabar dari temannya tersebut.

(Aku masih berada dalam ruangan itu. Diam. Hanya pandanganku menyapu seluruh ruangan. Bukankah mereka seorang yang terpelajar, telah khatam mengenyam pendidikan tinggi? Kenapa pribadi-pribadi itu tidak menunjukkan seorang yang berpendidikan? Kenapa tak seorang pun yang paham, bagaimana menghargai sebuah dunia kepenulisan.)

Pintu terbuka kembali. Seorang laki-laki lain, sudah sepuh, masuk ruangan. Senyumnya mengembang lebar.

"Hallo teman-teman," suaranya terdengar berat, bariton, "kabar baiknya tunjangan kita sudah cair mulai hari ini."

Gumaman kembali terdengar. Lebih keras. Lebih bernada gembira.

"Harus mengambil ke bank langsung?" Orang yang duduk paling depan bersuara.

"Kayaknya diransfer ke rekening masing-masing ya?" Tanya orang yang duduk dua bangku di belakangnya.

"Tapi saya tadi pagi tidak bisa masuk ke akun rekening, bagaimana ya?" Suara lainnya bertanya gelisah.

Suasana ruangan ramai sekali. Begitu antusias mendengar kata-kata tunjangan, gaji, uang cair, tansfer, dan lainnya.

"Bagaimana kalau kita cek bareng-bareng saja? Toh, rapat hari ini hanya membahas kesiswaan, bisa diundur besok pagi."

(Aku semakin tercenung melihat kejadian yang berkelebat di hadapanku. Nyatakah, apa yang baru saja aku lihat? Ah, entahlah. Aku tak mau berkata-kata tentang apa pun di sini. Beri opini saja sendiri, dan semuanya akan membawa subyektif masing-masing.
Lalu, tiba-tiba saja ruangan senyap. Hanya menyisakan diriku dan laki-laki yang membawa pamflet dari Penerbit Abjad. Dia tertunduk lesu. Duduk di bangku terdekat. Meletakkan tas ranselnya di lantai ruangan. Dikeluarkannya sebuah buku, Teach Like Finland)


SELESAI


#OneDayOnePost

3 comments: