:::: MENU ::::

Bau amis. Jalanan di sana-sini tampak berlubang, digenangi air sisa hujan semalam --tampaknya hampir semua air genangan itu menghitam. Anyir. Semua bejubel. Apa pun menumpuk di situ. Ya, apa pun. Dan kalian akan terkaget-kaget jika batas antara makanan bersih dan sisa kotoran hanya sepelemparan batu.

Buat orang yang hidupnya di kota sih pasti terkaget-kaget. Beda lagi dengan orang yang sehari-harinya beraktivitas di tempat itu. Atau orang-orang yang selalu dan lebih senang membeli barang kebutuhannya di sana. Mungkin pepatah alah bisa karena biasa ada benarnya juga. Karena mereka bertahun-tahun berada di sana, jadi mereka terbiasa dengan bau dan lingkungan tempat itu.

Selalu saja orang-orang berteriak. Kebanyakan mereka yang menggelar baju-baju di emperan. Berusaha menarik ibu-ibu yang melewati jongkonya. Selebihnya ada tukang parkir, rebutan lahar parkir. Tukang sayuran, dan yang paling memekakkan telinga berada di tempat pelelangan ikan.

Pengeras suara dipasang di tiap lapak, menawarkan ikan-ikan yang baru sampai di daratan. Bandar lelang yang memiliki pengeras suara paling besar dan paling berisik, seperti tak ada habisnya, selalu saja ada yang diomongkan. Belum lagi lagu-lagu pantura, dangdut koplo sengaja diputar oleh para penjual compact disc bajakan, menambah ramai di ibu kota kabupaten tersebut.

"Ayo Bu, silakan Pak merapat. Tunanya, masih segar!"

"Ikan kakap, kakap merah, kakap putih. Boleh dipilih!" Berpuluh bahkan beratus ikan dengan mata belo dan sirip atas yang besar tajam dipindahkan dari keranjang bambu raksasa tempat lelang.

"Yang lebih mantap, tidak kalah gurih, cakalangnya ada, kerapunya ada!" Di pojokan lain ruang terbuka itu telah digelar ikan-ikan bersirip perak mulus. Memanjang hampir sama dengan lengan orang dewasa. Ikan lainnya tampak lebih lembut, kemerahan, totol-totol putih, dan garis seperti arsiran melintang hanya menjadi buah bibir. Sedikit sekali pembeli mengerubungi lapak itu. Harganya yang selangit menjadi alasan klasik orang-orang tidak pernah mengonsumsinya.

***

Matahari hampir mencapai ubun-ubun. Pasar ibu kota kabupaten itu mulai lengang. 

"Jadi beli ikan enggak Bu?"

"Ah, ibu jadi pusing."

"Pusing kenapa lagi?"

"Harga-harga kan pada naik Pak. Coba mbok sekali-kali lihat berita, jangan cuman nonton bola terus."

"Lha terus kalau pada naik bagaimana, kan itu salahnya pedagang. Malah naik-naikin harga."

"Duh ya, Bapak ini. Kepriben tho yo, bagaimana sih. Susah kalau dikasih tahu. Kalau harga cabe naik, bawang naik, beras naik, terus mau beli ikan kerapu, uangnya darimana Pak?"

Keduanya beradu mulut. Si bapaknya mekso ingin makan ikan kerapu buat makan malamnya, si ibunya mikir-mikir buat beli ikan, karena uangnya tidak cukup.

"Ndak usah beli cabe dulu. Berasnya tuku sing murah saja." Saran yang tidak pernah bisa diterima di akal buat kaum ibu-ibu.

"Yo uwis, terserah Bapak saja. Nih uangnya tinggal segini. Sono beli sendiri." Nada suaranya terdengar menahan jengkel.

"Sama ibu saja. Pilihin yang bagus." Perempuan setengah baya itu melangkah dengan kedua kakinya diseret. Kesal.

***

"Masé ikan yang ini berapa?"

"Kerapu Bu? Ibu mau beli ikan ini?"

"Iya lah, memangnya saya mau beli ayam? Mikir dong." Amarahnya belum reda, ditanya penjual ikan seakan meledek dirinya.

"Ih, si Ibu galak amat. Maaf bercanda Bu."

Lalu mereka berdua terlibat percakapan seru. Saling menawar. Yang satu ingin harga yang murah. Si tukang dagang tidak mau menurunkan harga. Akhirnya terjadi deal, keduanya sepakat. Perempuan itu membeli dua ekor kerapu. Dibungkus plastik hitam.

"Sebentar ya Mas, saya beli bumbu dulu. Nitip ini ikannya."

"Siap, Bu."

***

Jalanan begitu terik. Matahari terlihat sangat garang. Membuat orang-orang enggan keluar rumah. Raung mesin Yamaha RX 125 Twin menerjang debu dan panas jalan yang dilewatinya. Kedua orang di atas motor itu tampak tirus. Tak ada obrolan yang biasa terjadi. Saling membisu. Jika sepasang suami istri sedang dalam keadaan seperti itu biasanya dikenal dengan gencatan senjata.

Boro-boro mau ngobrol, mikirin uang belanja buat besok saja sudah pusing tujuh keliling, batin perempuan itu. Gak tahu pikiran laki-laki kayak apa, pengennya makan enak, minum enak, memangnya gampang ngatur belanja bulanan. Wajahnya semakin ditekuk.

Dua keresek hitam ditenteng di atas pangkuannya. Satu keranjang belanja, botol minuman, dan satu set alat pancing menambah repot orang yang diboncengnya. Kalian tahu, motor lawas tahun 90an itu tidak mempunyai tempat barang seperti motor matic zaman now. Kalau belanja, mau tidak mau yang dibonceng harus membawa barang bawaannya sendiri.

"Nih Pak, tolong bawain. Tangan ibu pegel banget. Ganti saja sih motornya Pak!"

"Kalau omong jangan sembarang Bu. Ini motor warisan mbah buyut, bapaknya kakek saya. Motor keramat ini lho." Wajah pria itu menyungging senyum. "Ini motor pertama yang dibeli kakek buyut. Bayangkan bu, turun temurun keluarga bapak hanya jadi kusir delman. Motor inilah yang merubah jalan hidup keluarga bapak."

"Warisan kek, keramat kek, peduli amat. Kasur kek, kusir kek, gak ngaruh sama nasib kita Pak." Rasa jengkelnya belum hilang sejak dari pasar tadi.

Setelah menyimpan motor di tempat biasa memarkir motor, laki-laki itu membawa keresek hitam belanjaan tadi pagi di pasar. Melonggarkan tali, lalu membuka bungkusannya, dan ....

"Buu ...! Ke sini cepat."

"Ada apa tho Pak."

"Cepetan sini lihat."

"Iyo iyo, mbok sabar sedikit kenapa."

"Lihat ini. Bapak kan suruh beli ikan kerapu."

"Lha terus?"

"Terus, ini ikan apa?"

Begitu perempuan itu membuka bungkusan keresek hitam, dia melihat ikan yang sama sekali berbeda. Ukurannya hampir sama besar dengan ikan kerapu. Bukan kemerahan, melainkan abu-abu kehitaman butek. Tidak ada totol-totol putih di sepanjang sisiknya, tetapi kumis yang melintang dan mulut yang dower. Ditambah lagi bentuknya lebih panjang dan licin. 

"Oaalaah ...! Ampun. Kayaknya Ibu salah ambil bungkusan keresek Pak."

"Bagaiman Ibu ini?" Tubuh perempuan itu oleng, begitu suaminya bertanya dengan nada meninggi.

"Saya mau pingsan Pak. Pak ...!"

"Ibu, Ibu?!"


SELESAI


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day13
#PasarTradisional
#Ikan
#Fiksi

8 comments:

  1. bikin cerpen gini bisa sehari kak ? aku bisa butuh waktu seminggu nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo moodnya lg baik, 2 jam.. malem dah ada konsepnya (gbran kasar), tidur, trs bada subuh nulis, dilanjut pas paginya, hehe..

      kalo dah biasa, Kak Dika juga bisa kok, pasti!

      Delete
  2. Mantap nih. Untung saya nggak salah pilih BW pagi ini. Wkwkwk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini nih, yg kemarin ngilang. Alhamdulillah dan muncul lagi. Sehat buat pamannya ya Mas..

      Delete
  3. keren...suka ceritanya..
    mengalir ...enak...

    ReplyDelete
  4. kang, aku kursus bahasa jawa dulu ya... ^_^

    ReplyDelete