:::: MENU ::::
buffer baper

Bel berbunyi dua kali. Semua anak berhamburan keluar ruangan. Sebagian besarnya menuju kantin sekolah, mengisi perut mereka yang keroncongan sedari tadi. Hanya beberapa yang menuju perpustakaan. Melepas penat dengan membaca-baca novel atau pun majalah remaja.

Gadis berambut lurus panjang sebahu itu berjalan bersama kawannya dengan santai. Mereka berdua tampak berbincang ringan. Wajah-wajahnya begitu ceria, sesekali terlihat tawa lepas dan saling memukul bahu.

"Coba Put, bayangkan wajah Si Alvin, begitu nengok ke belakang, ...."

"Wajahnya langsung merah padam, ya." Kawannya memotong obrolan Law, si gadis berambut lurus.

Keduanya kembali terbahak mengingat kejadian di kelas tadi.

"Dasar anak baperan. Lagian, anak itu ngomongin orang lain gak lihat-lihat keadaan. Eh, pas lagi bilang rasa sukanya sama Nadia, orangnya malah berdiri di belakangnya. Jadi salah tingkah tuh anak."

"Iya benar Law. Kalau ngomong memang harus lihat kondisi ya." Putri, kawan Law, berbadan tambun, wajahnya bulat sempurna, dengan pipi yang menggelembung, selalu terlihat riang. "Tapi, ngomong-ngomong anak baru kelas dua belas IPA satu cakep juga lho, Law."

"Yang mana?"

"Itu tuh, yang kemarin siang jadi pembaca doa pengajian mingguan."

"Oh, itu anak baru ya? Wajahnya yang putih, tinggi, dan berkacamata kan?"

"Iya, itu. Benar."

"Cakep sih. Tapi enggak tahu kan orangnya kayak apa."

"Kepoin aja yuk, Law."

"Huuu ... kamu tuh ya, tiap ada cowok ganteng sedikit saja, langsung deh kepo. Kemarin saja ketemu anak ibu kantin yang kuliahan, aduh ...!"

Law terhentak kaget, begitu ada yang menubruk tubuhnya dari depan. Dia tersungkur. Hampir saja wajahnya mengenai lantai.

"Aduh!" Pekiknya, "Lihat-lihat dong kalau jalan. Sakit nih .... Matanya disimpan dimana sih, kalau ...." Cerocos Law terhenti begitu melihat sosok yang menubruknya.

***

Pria itu membersihkan kacamatanya yang semakin buram. Setelah menempuh perjalanan dua jam dari tempat tinggalnya, ia beristirahat melepas penat yang sedari tadi menjalari tubuhnya. Secangkir kopi disuguhkan pemilik warung bersama goreng pisang yang masih mengepul di atas piring kecil.

"Kamu tidak apa-apa, kan?"

"Oh, tidak. Tidak apa-apa. Kacamatanya hanya sedikit kotor saja."

"Maafkan kejadian yang dulu itu ya." Gadis berambut lurus itu menatap lamat-lamat wajah pria di hadapannya.

"Enggak kok. Biasa saja. Toh, kamu juga tidak sengaja." Pria itu berusaha menyembunyikan mata dari sorot mata gadis di depannya. 

Tampak di bagian sisi kacamata pria itu retak seperti bekas benturan. Sekilas jari tangannya menyentuh bagian retak kacamatanya, seperti berharap dengan menyentuh, kondisi kacanya bisa kembali seperti sediakala.

***

"Pergi kemana kamu kemarin, Law?" Putri seperti biasanya selalu ingin tahu apa yang dilakukan kawannya itu.

"Enggak kemana-mana." Jawabnya dengan wajah yang tidak peduli.

"Alah, bohong. Kemarin boncengan sama Faiz di perempatan kompleks."

"Oh, itu. Ya, jalan-jalan saja. Ada perlu juga sih, Faiz minta ditemenin." 

"Lalu?"

"Lalu apa?

"Kamu suka sama Faiz ya?"

"Enggak, biasa saja." Wajah Law, walaupun berusaha bersikap biasa, tetap saja rona merah tersembul di wajahnya.

"Terus terang Law. Aku tahu kok dari sikap kamu."

"Ah, sok tahu."

"Terus tiap istirahat, kamu lebih memilih nongkrong di depan gedung OSIS kenapa?" Putri berusaha meyakinkan dirinya bahwa pendapatnya benar. "Buat apalagi kalau kamu berharap agar bisa melihat Faiz. Iya, kan?"

Bel tanda masuk berbunyi. Law menghembuskan nafas lega. Dia merasa bunyi bel telah menyelamatkan dirinya dari rentetan pertanyaan Putri. Gadis itu langsung memalingkan wajah dari pandangan Putri. Senyumnya mengembang.

***

Miss Currie menyapu seluruh anak-anak di ruangan kelas itu. Mengenakan high heels berwarna krem, rok hitam panjang menutupi mata kaki, kameja putih dipadukan dengan dasi slayer berwarna merah maroon bermotif, tampak begitu anggun berdiri di depan kelas. Jilbab hitam bermotif di pinggiran kain, selalu menutupi bagian atas tubuhnya dengan sempurna.

"Oke, anak-anak. Pagi ini kita akan berkenalan dan belajar materi tentang larutan penyangga." Dia memulai kegiatan belajar selalu dengan senyuman. Anak-anak menulis apa yang dikatakan Miss Currie tentang pelajaran itu.

"Nah, larutan penyangga sendiri sering juga disebut dengan buffer" Satu dua anak tampak berbisik sambil menutup mulutnya. Tampak anak-anak lain cekikikan diam-diam.

Sambil menuliskan beberapa nama senyawa dan rumus kimia di papan tulis, Miss Currie menjelaskan beberapa poin yang menurutnya penting. "Seperti kalian ketahui, bahwa larutan buffer merupakan suatu larutan yang dapat mempertahankan derajat keasama larutan agar tidak terjadi perubahan. Maka, dengan penambahan asam atau basa maupun pengenceran, larutan itu tetap akan mempunyai derajat keasaman yang sama."

"Keren, ya Miss?" Nadia duduk bersidekap tampak begitu antusias memerhatikan penjelasan gurunya.

"Ya, tentu saja keren." Miss Currie tampak senang dengan ucapan Nadia. "Kalau orang berarti orang yang konsisten. Larutan buffer tidak pernah terpengaruh apa pun dengan penambahan larutan lain."

"Sekarang, ada yang bisa menyebutkan contoh larutan buffer?" Miss Currie menunjuk ke arah anak yang duduk di bagian tengah.

"Iya, kamu Law."

"Ah ... eh. Iya, apa Miss?"

"Kamu dengar penjelasan saya, Law? Coba contoh larutan buffer apa saja?"

"Saya ... eh, saya tidak pernah baper Miss."

Sontak semua anak di ruangan terbahak, diselingi wajah Miss Currie yang memerah.

***

Suara televisi terdengar nyaring di ruang keluarga. Gelak tawa dari orang-orang yang menontonnya menambah hangat suasana malam itu. Sule dan Andre yang menjadi host acara Ini Talkshow selalu berhasil membuat penonton sekaligus penggemar setianya terpingkal.

Tengah asyik menikmati tontonan yang sangat menghibur itu, suara bel terdengar di ruang tamu. Law tetap asyik menonton acara di televisi. Sementara ibunya mulai asyik berbincang dan mengobrol dengan tamunya.

"Law, kemari cepat, Nak!" Teriakan ibunya menandakan ada sesuatu yang ingin disampaikan kepadanya. Setengah berat meninggalkan ruang keluarga, ia berjalan menuju ruang tamu.

"Ya Ma, sebentar."

Dia berjalan lambat memenuhi panggilan ibunya. Begitu sampai di ruang tamu, dia kaget melihat tamu yang datang malam itu.

"Ehhh ... Miss? Miss Currie? Apa kabar Miss?" Law langsung mendekat dan menyalami dengan takzim gurunya itu. Tapi bukan Miss Currie yang membuat dia kaget. Tetapi orang duduk disamping Miss Currie.

"Baik, Law. Miss sangat senang bisa main ke rumah kamu." Lalu dia melirik ke samping, menatap ke arah seorang pria yang datang bersamanya. "Miss ingin memperkenalkan anak Miss. Dia juga belajar di sekolah kita Law."

Anak Miss Currie. Dia? Dia anaknya Miss Currie, batin Law belum bisa mengenyahkan rasa kagetnya.

"Namanya Faiz. Faiz ini Law, dia adik kelas kamu di kelas satu." Dengan sopan Faiz, pria berkacamata itu, berdiri dan mengulurkan tangan kepada Law.

"Kami sudah saling kenal kok, Ma. Bahkan minggu kemarin kami bareng menghadiri acara Forum Anak di ibukota kabupaten." Wajah Faiz begitu tenang dan tampak sangat dewasa.

Law tertunduk. Hatinya tidak karuan. Entah, apakah dia merasa malu, kecewa, atau marah di tidak tahu persis.

"Oh, syukurlah kalau sudah kenal." Miss Currie tampak senang. Begitu pula dengan ibunya Law, wajahnya berseri cerah. "Kamu pasti bingung ya Law, bertanya-tanya kenapa Miss mempunyai anak?"

Tak bisa mengucap apa pun, Law hanya mengangguk tanpa berani menatap wajah Miss Currie maupun Faiz. 

"Faiz bukan anak kandung Miss. Dia hanya anak angkat. Ketika masih bayi, Miss mengambilnya dari panti asuhan. Faiz adalah salah satu bayi yang entah siapa orang tuanya. Yang jelas mereka tidak bertanggung jawab." Miss berbicara dengan hangat. Semua terdiam mendengar penjelasan Miss Currie. Tawa penonton dari siaran televisi, samar-samar masih terdengar.

"Bayi mungil berkulit putih itu begitu lucu. Miss tidak tega meninggalkannya. Sayangnya Miss belum bisa memberinya air susu ibu. Kebetulan, mama kamu yang berhati malaikat bersedia menyusuinya selama tiga bulan. Waktu itu mama kamu baru mempunyai seorang anak, yaitu kakak kamu yang sekarang tinggal di kota tua."

"Setelah dirasa cukup, Miss mengambilnya kembali dari mama kamu. Tapi Miss tidak bisa merawatnya sendiri, karena kesibukan yang padat. Kamu masih ingat cerita tentang kakak Miss yang tinggal di Kalimantan kan?" Miss Currie menyeruput teh manis yang dihidangkan di meja.

"Iya, masih Miss."

"Nah, kakak Miss itulah yang merawat Faiz sampai beranjak dewasa. Kamu paham?"

"Be ... berarti, Faiz adalah kakak saya ya?" Miss Currie tersenyum mengangguk yakin.

"Saya dan Kak Faiz berarti masih saudara?"

"Iya, Law." Ibunya membelai rambut gadis itu dengan lembut. "Kamu dan Faiz masih saudara sesusuan. Menyenangkam bukan, mempunyai kakak laki-laki?"

Oh, kenapa hati ini selalu terombang-ambing. Begitu mudah merasa senang, mudah juga merasa kecewa. Law mulai tak enak hati melihat kenyataan di hadapannya. Baru saja mempunyai seorang yang saya sukai, begitu menyenangkan. Ternyata dia ....

Ah, dasar anak baperan ketus batinnya kepada diri sendiri.


TAMAT


#Days1      #ODOP      #OneDayOnePost       #30DWC

15 comments:

  1. Wkwkkwkw.. Agak lompat-lompat ya? Tapi aku suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, masih belajar jalan ceritanya mba...

      Delete
  2. Ini bisa dikirim ke media online untuk genre remaja nih. Nanti take cariin alamat emailnya.

    ReplyDelete
  3. larutan penyangga cap kaki lima?? :O

    ReplyDelete
  4. Tak terduga, hehhe eh di cek mas, kayak nya ada yg salah ketik "lihat-lihat dunk kalau lihat, mgkn maksudnya kalau jalan, hehe tp keren mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh, oke oke ... makasih Mbak Ayu (sudah di revisi)

      Delete
  5. Menyalipkan teori kimia di crita, lbih asyik euy mas. Aku jadi kangen blajaR kimia.

    ReplyDelete
  6. Beuhh renyah bener pak ceritanya, kayak keripik singkong gurih, jadi inget masa sekolah, klo dikembangkan jdi novel, bisa ngalahin dilan nih

    ReplyDelete
  7. Keren2 ceritanya ngalir, mater kimianya ringan. Mantap lah pokoknyaa..

    ReplyDelete
  8. Keren2 ceritanya ngalir, mater kimianya ringan. Mantap lah pokoknyaa..

    ReplyDelete
  9. Asiiikkk makin keren aja Pak Guru nih... Belajar dari Mars ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan, sy curi semua ilmu penduduk bumi, mau bikin peradaban di mars

      Delete
  10. Kerenn...
    Jangan2 suka merhatiin anak anak di sekolah nih hahaha

    ReplyDelete