:::: MENU ::::

Jatuh bangun aku mencintaimu,
Namun dirimu tak mau mengerti ....

"Arrrghh! Berisik amat."

"Sabar Pak. Namanya juga ...."

"Tapi enggak begini-begini amat, kan."

Sepasang suami istri itu kembai bersitegang. Walaupun sudah lebih dari setengah dekade dalam satu kamar, bukan berarti perjalanan rumah tangganya selalu berjalan beriringan. Selalu saja ada riak gelombang yang datang. Mulai dari cek cok salah paham lah, beda pemikiran lah, sampai beda kapan harus tidur dan mulai bangun untuk memulai aktivitas.

Seperti malam minggu awal tahun ini. Keduanya sudah beradu mulut. Padahal sudah waktunya untuk istirahat. Memang benar, suara merdu Meggy Z selalu dirindukan dan membuat siapa pun akan bergoyang gembira jika mendengar lagunya. Tapi tidak bagi pasutri itu. Justru suara nyaring Meggy Z yang menjadi biang kegaduhan di rumah mereka.

Kubawakan segenggam cinta,
Namun kau meminta diriku ....

"Coba sih Bu, jam berapa ini. Lihat. Bapak kan perlu istirahat. Apalagi besok pengawas akan datang ke perusahaan." Wajah pria itu semakin kusut, antara menahan marah dan pusing dengan pikiran apa yang harus dikerjakan esok hari.

"Harusnya Bapak! Bapak kan kepala rumah tangga. Masa Ibu sih yang harus menghentikannya."

"Lho, kenapa jadi Ibu yang marah?!"

"Kan yang mulai siapa? Situ kan yang mulai?"

"Apa? Ibu menyalahkan Bapak, iya? Berani menyalahkan saya?" Telunjuk pria itu menunjuk dadanya sendiri. Dengan suara yang tak kalah lantang dengan alunan Meggy Z itu, "Perempuan macam apa yang berani membentak suaminya sendiri?"

Kejamnya sikapmu membakar hatiku,
Sehingga cintaku berubah haluan ....

Seakan tak pernah merasa bersalah, alunan lagu dari speaker mobil itu terus berbunyi. Nyaring. Berisik. Sesekali tiga orang pria setengah baya tertawa terbahak, mendengar lelucon vulgar yang mereka ceritakan.

Malam semakin larut. Goyangan tubuh mereka seirama dengan dendangan lagu. Bau alkohol dan suara terbahak tak pernah paham kapan mereka bercanda, kapan mereka bekerja, kapan mereka istirahat. Tak pernah mengerti juga apakah suara mereka mengganggu, apakah tetangga mereka telah terlelap. Sedangkan di tempat lain, hanya dibatasi tembok rumah, dua orang yang telah merajut rumah tangga bertengkar hebat.

Kubawakan segelas air
Namun kau meminta lautan
Tak sanggup diriku sungguh tak sanggup ....


***

Bau menyengat dari halaman belakang. Hanya dibatasi oleh teras dan satu ruang sepanjang sepuluh meter, bau itu begitu kentara. Menusuk hidung. Tercium sampai di jalan besar.

"Kau kembali ke sini lagi anak kecil?" Pria itu masih asyik dengan campuran larutan yang berserak di meja kerjanya.

"Iya, Pak. Saya ingin belajar membuat larutan." Sosok tubuhnya tinggi kurus. Tetap saja anak seumurannya akan selalu dipanggil anak kecil.

"Dimana rumahmu?" Anak kecil itu menunjuk suatu tempat, ke arah sebuah tanaman bakau dengan sungai yang membelahnya. Bagian utara bakau, sedang bagian selatan berupa kebun kelapa yang luas.

"Kenapa tidak pulang ke rumah? Anak seusia kamu harusnya berada di rumah. Belajar yang rajin."

"Ayah saya sudah lama tidak pulang. Ibu kerja. Kadang larut malam baru pulang."

"Berapa usiamu?"

"Sembilan tahun Pak."

"Kau bosan di rumah?" Anak kecil itu mengangguk.

"Siapa ayahmu?" Kepalanya menggeleng. Tidak bersuara. Hanya tatapan matanya yang menatap tajam kepada pria itu.

"Kau tidak tahu ayahmu?"

"Ibu selalu bilang ayahku seorang berandalan." Kepalanya spontan tertunduk. "Pernah suatu malam ayah baru pulang. Tiba-tiba dia menampar ibu berkali-kali. Aku takut."

"Lalu?"

"Aku tak ingat apa pun. Aku pergi ke halaman depan begitu ayahku membanting pintu ruang tamu. Dia pergi mengendarai sedan putih, dan aku lempar dengan batu mobil itu."

"Sedan putih?"

"Iya."

Pria setengah baya itu melenguh pendek. Tatapannya mengarah ke sosok anak kecil di depannya. Ada rasa iba yang muncul begitu dia mengerti bagaimana keadaan anak itu di rumahnya.

"Kelihatannya kau anak pandai. Sini aku ajarkan kau membuat larutan asam cuka."

Senyum di wajahnya mengembang. Raut wajahnya berubah ceria. Dengan cekatan dia mendekati meja kerja lain yang telah pria itu siapkan. Di atasnya berpuluh buah apel masuk ke dalam sebuah mesin, lalu terpotong menjadi ukuran dadu. Lalu air, gula, dan biang cuka dimasukkan ke dalamnya, bercampur.

***

Matahari telah tegelincir ke ufuk barat. Asar telah lama berkumandang. Seorang perempuan termenung di bangku teras sebuah rumah. Rumah yang berada di pojok perumahan. Hanya rumah itu dan satu rumah lainnya yang berpenghuni. Selebihnya hanya rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya entah kemana.

Suara tetes air lamat-lamat terdengar mengenai atap seng. Rinai hujan di waktu sore selalu membuat seseorang menjadi puitis dan melankolis. Dari kejauhan tampak sesosok pria setengah baya mengendarai sepeda onthelnya dengan susah payah. Wajah perempuan itu sumringah. Ternyata dia sengaja menunggu suaminya pulang dari tempat kerja.

"Ihh, bau apek." Tangan perempuan itu mengibas-ngibas mengusir udara di depan wajahnya agar tidak terhirup.

"Lho, kan sudah biasa. Bukannya Ibu malah senang bau asam cuka. Hayo." Baju kotor dan bau itu sengaja didekatkan pada hidung istrinya.

"Ihh Bapak nih ya. Gak lucu ah." Keduanya saling bertingkah konyol. Yang satu mendorong tubuh lainnya, yang satu keukeuh menempelkan baju ke hidung lainnya.

"Eh, kemana tetangga kita itu Bu?"

"Si Boncel. Preman yang berisik tadi malam. Kenapa?"

"Ibu tahu seperti apa kehidupannya?"

"Tumben, Bapak kok jadi kepo begini?" Bola mata perempuan itu menyudut, tampak menyelidik. "Dia kan beristri dua Pak. Istri pertamanya minta cerai. Lalu pindah ke seberang pulau."

"Terus?"

"Istri pertamanya tidak terima dimadu. Diam-diam Si Boncel nikah lagi sama perempuan umur belasan tahun. Kata Pak Lurah sih, dari istri yang pertama dia tidak punya anak. Nah, dengan istri yang sekarang dia punya anak laki-laki. Ya, mungkin sekarang usia anaknya sudah seumuran anak Pak Lurah, delapan tahunan."

Pria setengah baya itu mengangguk, terbukalah semua tanda tanya yang sedari tadi dia simpan sejak berada di tempat kerjanya.

Tiba-tiba dari ujung jalan terlihat sedan putih melaju kencang. Mesinnya menggerung. Knalpot racing membuat suara mobil itu lebih kencang dibanding aslinya. Seorang pria brewok tampak di belakang kemudi. Dua kali klakson berbunyi. Tampaknya memberi isyarat untuk menyapa pasangan suami istri itu.

Lalu suara keluar dari speaker mobil. Pelan, pelan, lalu bertambah keras. Semakin keras. Dan semakin jelas apa yang dibawakan pria brewok itu. Alunan sebuah lagu. Lagu dangdut yang memekakkan telinga.

Jangankan diriku,
Semut pun akan marah,
Bila terlalu… sakit begini.

Daripada sakit hati,
Lebih baik sakit gigi ini,
Biar tak mengapa

rela rela, rela aku relakan ....


SELESAI


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day12
#Tragedi
#Fiksi

22 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Aku sempat bingung. Tapi setelah baca sampe selesai baru ngeh. Hihihi... kerennlaah

    ReplyDelete
    Replies
    1. bingung denger lagu Meggy Z nya ya mbak, hehehe

      Delete
  3. Keren.
    Tapi, kang bahaya iki, aku kok malah ikutan nyanyi ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ih gpp Mbak Nia, ikutan goyang juga gpp, kedua jempolnya di depan dada, #hahaha

      Delete
    2. wkwkwk sama, aku bacanya sambil nyanyi nih parah...

      Delete
    3. Haaa... udah insaf kang.
      lagian ini di ruangan, entar aneh lagi diliatin kakak-kakaknya.
      mana ini ketawanya tanpa suara. susah nahannya, gimana dong, tanggung jawab kang. Haaa...

      Delete
    4. waduh, itu gara2 Meggy Z, mnta tanggung jawab dia aja ya

      Delete
    5. This comment has been removed by the author.

      Delete
  4. hihi tulisan yang bisa membawa... membawaku bernyanyi hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, dangdut is music of my country... :D

      Delete