:::: MENU ::::
khalifah, gurun pasir

Pagi ini, saya akan menulis tentang dua kisah yang pernah saya dengar dan akan saya ditulis ulang di sini. Kisah yang akan membuat kalian tersungkur, sujud kepadaNya, karena merasa zalim terhadap diri sendiri. Kisah yang akan menyadarkan kalian bagaimana seharusnya hati dan pikiran ini ditata agar menjadi insan kamil.

Kenapa saya bisa mengatakan seperti itu? Karena ketika mendengar kisah ini dari seorang guru, hati saya begitu sangat malu dengan diri sendiri. Malu sekaligus takut! Benar-benar merasa takut terhadap azabNya.

Bukan kisah tentang Kartini, pahlawan dari negeri ini karena memperjuangkan emansipasi perempuan. Bukan pula kisah tentang Bung Pram --seorang eks tapol (tahanan politik) Pulau Buru pada zaman Orde Baru--, nominator Nobel Sastra. Hanya karena gaya tulisannya lebih berhaluan komunis, Bung Pram tidak meraih penghargaan tersebut.

Satu kisah ini terjadi pada zaman sahabat Nabi (shollu 'alaih), kisah tentang seorang imam besar empat madzhab. Dan kisah lainnya terjadi pada masa penyebaran Islam oleh Wali Songo di Tatar Sunda.

Imam Besar yang Sangat Tawaduk

Diceritakan salah seorang imam empat madzhab yang hendak pergi ke tanah suci Makkah peserta rombongannya. Dulu, jika hendak pergi ke tanah suci, ditempuh dengan berjalan kaki selama berminggu-minggu. Atau perjalanan paling mewah adalah dengan mengendarai unta, dan itu pun harus menempuh berhari-hari perjalanan.

Singkat cerita imam tersebut telah bersiap pergi bersama rombongannya. Entah kenapa, rombongan perjalanan itu meninggalkan sang imam. Maka berangkatlah ia sendirian, dari Bashrah Irak menuju kota suci Makkah. Malam pun menjelang. Beliau memutuskan untuk rehat di salah satu masjid yang ia lalui di tengah perjalanan.

Setelah menunaikan salat Maghrib dan Isya, Imam Hambali memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Dan melanjutkan perjalanan di keesokan harinya. 

"Apa yang sedang Anda lakukan, hai Fulan?" tiba-tiba seseorang berseragam syuhrah menghardik sang Imam.

"Saya seorang musafir. Hendak melakukan perjalanan ke tanah suci." Jawab beliau singkat.

"Ini bukan tempat tidur. Ini masjid."

"Iya saya tahu. Mohon sudilah untuk mengizinkan saya bermalam di sini."

Ternyata sang imam berbicara dengan seorang yang jauh lebih muda dan tak lain adalah penjaga (marbot) masjid tersebut.

"Sudah sana, pergi dari sini. Anda hanya akan mengotori permadani masjid kami."

Merasa tidak mendapat izin untuk bermalam, tanpa mengucap lebih banyak, beliau memutuskan untuk pergi dari masjid tersebut, mencari tempat lain untuk bermalam.

Sampai di sini, sebetulnya masih ada kelanjutan ceritanya, pada akhirnya beliau menuju ke sebuah pasar dan bertemu dengan penjual roti. Namun ketika saya mendengar cerita tersebut, tubuh saya langsung bergetar. Bayangkan saja seorang imam besar, ulama yang sangat luas ilmunya dan disegani di seluruh dunia, begitu tawaduk. Seorang alim dengan segudang karya, diantaranya kitab "Musnad Imam Ahmad Bin Muhammad Bin Hanbal" tak pernah sedikit pun merasa beliau adalah seorang ulama besar.

Imam Hambali tak pernah mau diperlakukan istimewa, hanya karena ia adalah pencetus Madzhab Hambali, satu dari empat madzhab yang menjadi rujukan utama dalam fiqh. Lalu, apakah diri kita (khususnya saya) selalu ingin diperlakukan istimewa, hanya karena kita mempunyai harta atau kedudukan?

***

Kerendahan Hati Syarif Hidayatullah

Konon, telah diceritakan dari mulut ke mulut tentang luasnya ilmu Eyang Syarif Hidayatullah, atau dikenal pula dengan Sunan Gunung Jati. Salah satu ceritanya bagaimana beliau tidak pernah ingin menunjukkan ilmu yang ia miliki.

Suatu saat, wali songo sedang berkumpul dalam sebuah majelis. Mereka bermusyawarah tentang kehidupan sosial masyarakat di daerah Cirebon dan sekitarnya, apa dan bagaimana dakwah yang harus mereka lakukan agar semua lapisan masyarakat bisa menerima Islam dengan baik, tanpa paksaan, dengan sukarela.

Tempat yang dipilih untuk musyawarah terletak di kaki Gungun Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat. Semua orang yang mengenal Wali Songo sudah mahfum bahwa semuanya memiliki kesaktian masing-masing. Lalu, diputuskan bahwa tempat majelis harus berpindah menuju ke daerah utara Gunung Ciremai, yaitu sekitar daerah Astana.

Jarak tempuh dari kaki Gunung Ciremai dengan Desa Astana, lebih dari 50 kilometer. Maka, berpencarlah kesembilan sunan tersebut. Mereka menggunakan kesaktiannya masing-masing. Ada yang menempuhnya dengan naik awan, terbang di angkasa. Ada yang menembus bumi. Lalu berjalan di bawah perut bumi. Sebagian lagi naik di atas daun pisang, lalu menempuh perjalanan mengikuti aliran sungai yang mengarah ke Desa Astana.

Tapi, Syarif Hidayatullah hanya berjalan kaki, tanpa menggunakan kesaktian apa pun untuk menempuh perjalanan tersebut. Jika berjalan kaki, maka perjalanan tersebut bisa ditempuh dalam waktu sepuluh jam.

Apa yang terjadi sesampai di Desa Astana?

Sunan yang pertama sampai tak lain adalah Syarif Hidayatullah itu sendiri, yang melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka semua terkaget-kaget. Akhirnya menyadari bahwa mereka telah takabur, karena memiliki kesaktian melebihi yang lainnya.

Bercermin kembali kepada diri kita (khususnya diri saya sendiri). Ketika punya kendaraan yang lebih bagus dibanding lainnya. Ketika mempunyai motor, apakah kita merasa lebih baik dibanding yang berjalan kaki? Ketika mempunyai mobil, apakah kita bangga karena tetangga kita hanya mempunyai motor?

***

Dua kisah di atas mengingatkan saya akan balada Abu Nawas, seorang pujangga pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid

Wahai Tuhanku …
sebenarnya aku tak layak masuk surgamuMu,
tapi ... 
aku juga tak sanggup menahan amuk nerakamu,
Karena itu ...
mohon terimalah taubatku, ampunkan dosaku

Sesungguhnya ...
Engkaulah Maha Pengampun dosa-dosa besar.

Dosa-dosaku ...
bagaikan bilangan butir pasir, 
Maka ...
berilah ampunan oh.. 
Tuhanku Yang Mahaagung

Setiap hari umurku terus berkurang, 
Sedangkan dosaku terus menggunung ...
bagaimana aku menanggungnya


SELESAI



#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day20
#Kisah

11 comments:

  1. Inspiratif sekali. Terkadang kita memang perlu membaca kisah-kisah hikmah seperti ini untuk merecharge iman kita yang sering naik turun seperti roller coaster.

    Thanks for Sharing mas bro

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami-sami, minimal pengingat buat sy sendiri..

      Delete
  2. Terimakasih untuk kisah inspiratifnya kang. T_T

    ReplyDelete
  3. Aku Mulai ngiri dengan hasil tulisan-tulisanmu, Mas Dwi

    ReplyDelete
  4. Subhanallah tulisannya keren kak.

    ReplyDelete
  5. Tidak sekedar dibaca tapi juga dirasakan, syukron jazilan jazakallah khoir bapak😊

    ReplyDelete