:::: MENU ::::
Cirebon, gapura, Kraton, Sunan Gunung Jati

Selesai sudah liburan akhir tahun kemarin. Selamat datang tahun 2018. Ahlan wa sahlan. Saya sendiri menuntaskan liburan di dua tempat: Kota Kembang Bandung dan Kota Udang Cirebon. Keduanya adalah rumah saya, rumah tempat segala kenangan dan tempat kembali di akhir napas saya kelak.

Kalian pernah ke Kota Cirebon? Yaitu sebuah kota kecil di bagian utara Jawa Barat, berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara dan provinsi Jawa Tengah di sebelah timur?

Jika belum, mampirlah ke sana sekali-kali. Dan kalian tidak akan pernah menyesal menginjakkan kaki di kota itu. Jika sudah, perhatikan baik-baik bangunan apa yang selalu ada di tiap-tiap perkantoran atau pertokoan di jalan-jalan protokol.

Kalian akan melihat banyak gapura dengan gaya khas Kerajaan Cirebon masa lampau. Lihat saja bentuknya, unik, khas, dan hanya terdapat di kota Cirebon. Bukan sembarang bentuk, melainkan mempunyai maknanya tersendiri.

Saya sendiri jika melihat gapura, selalu teringat sebuah buku kecil karya Abdul Ghofar Abu Nidallah, yaitu "Mengaji Pada Sunan Gunung Jati", buku fiksi yang menceritakan tentang ajaran-ajaran luhung Eyang Syaikh Syarif Hidayatullah atau dikenal juga dengan Sunan Gunung Jati. Baca di sini.

Gapura sendiri berasal dari kata Bahasa Arab, ghofuuro' yang berarti ampunan (h. 14). Sehingga setiap kali melewati sebuah tempat yang dihiasi oleh gapura, saya akan teringat akan ampunan Tuhan, Allah Al-Ghofuur. Saya akan teringat akan kesombongan hati yang terkadang secara tidak sadar tumbuh dalam diri ini. Bahkan sekali waktu saya pun secara sadar mempertontonkan apa yang saya miliki dengan kebanggaan (kesombongan).

Gapura adalah sebuah simbol yang dibuat oleh Wali Songo (khususnya Sunan Gunung Jati) agar manusia selalu eling, selalu ingat akan ketidakberdayaannya, dan akan bergantung kepada ampunanNya, ampunan Allah Ta'ala selamanya. Sebab ampunan Tuhan itulah tujuan dan nikmat utama dalam hidup manusia.

Bayangkan saja, manusia yang selalu beribadah kepada Tuhannya, mengerjakan segala kewajiban dan menjauhi larangannya, kemudian dia hidup dalam kekayaan, banyak kawan, dan disenangi banyak orang. Maka, hakikatnya dia menerima segala kenikmatan bukan karena ibadahnya semata. Bukan. Melainkan karena karunia, ampunan, dan ke-Maha Pemurah-an Allah Ta'ala semata. Haqqul yaqin.

Sebuah syair dari Abu Nawas yang sangat terkenal bisa menjadi pengingat diri kita agar terlepas dari sifat angkuh dan sombong serta selalu ingat semuanya pasti selalu bergantung pada ampunanNya.

Ilahiy,
Last, lil Firdawsi ahlan
Wa laa aqwaa 'alaa naaril Jahiimi

Fahabli tawbatan waghfir dzunuubiy
Fa innaka ghoofirudz dzanmbil 'adziimi.

Makna bebasnya adalah:

Tuhanku,
Tiadalah (pantas) aku ini (tergolong) ahli surga
namun (pasti) aku tak kuat menghadapi api neraka

Maka terimalah pertaubatanku dan ampuni dosa-dosaku
Sebab Engkaulah Maha Pengampun, seberapa pun besar dosaku.

Biasanya pada tiap-tiap gapura di kanan-kirinya ditanami pohon Sawo Kecik dan Tanjung. Dan kebiasaan bukan tanpa makna yang tersirat (ulama-ulama zaman dulu selalu menyelipkan hakikat di dalam setiap budaya yang dibuatnya). 

Dalam sebuah dialog virtual, seorang kakek yang telah puluhan tahun merawat Makam Sunan Gunung Jati, memberi petuah kepada cucunya, "Pohon Sawo Kecik melambangkan pesan agar kita harus sarwo becik, selalu baik, berbuat baik, bertutur baik dan berpenampilan baik. Sedang Pohon Tanjung melambangkan kemuliaan, kehormatan, harkat dan martabat kemanusiaan. Tanam dan peliharalah keduanya agar tumbuh rindang dan berbuah."

16 comments:

  1. Aku suka sawo kecik dan wangi bunga tanjung. Jadi pengen nanem...

    ReplyDelete
  2. Dalam filosofinya ya.

    Kapan-kapan saya mampir ke cirebon ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kota yang kaya akan budaya. mampir ke rumah

      Delete
  3. Replies
    1. wong Cerbon jeh. Mbak Ren, org Cirebon juga ya?

      Delete
  4. duh pengen maen ke cirebon. Paling waktu itu cuma naik kereta doang, terus balik lagi ke Bandung

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayu Kang, urang zarah ka makam Sunan Gunung Jati

      Delete
  5. Mantap ya filosofi gapura itu. Nice info, kang. Suwun, nggih udah share πŸ‘

    ReplyDelete
  6. Dulu saya punya teman sekamar asli org Cirebon saat saya ada Diklat d JKT. Bersama dia saya keliling JKT pake busway, dan menaiki tugu Monas pertama kalinya, tulisan mas Dwi mengingatkan saya dgn beliau, si teteh dr Cirebon 😍

    ReplyDelete
  7. Kangen nasi jamblang sama garang asem

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo ke Cirebon, ada nasi jamblang Mang Dul

      Delete