:::: MENU ::::

Bayangkan jika kita masuk ke dalam sebuah kelas, menemukan seluruh murid-murdinya pandai bercerita dan mendongeng? Mereka selalu bergerombol dalam lingkaran besar, terkadang dalam kelompok kecil. Obrolan mereka selalu tentang cerita khayal, cerita imajinasi belaka. Ada yang berkisah tentang kehidupan rumah tangga, tentang sejarah, tentang nilai kehidupan, bahkan ada yang berkisah tentang perang, sampai bercerita tentang makhluk luar angkasa.

Wow, seru bukan?! Seisi kelas menjadi hidup, saling berceloteh, saling bercanda, saling lempar joke-joke yang positif. Jangan salah, di ruangan itu pun ada saja murid yang iseng, jahil sama teman sebangkunya. Ada juga yang pendiam, tetapi berilmu mumpuni, ada ketua kelas yang galak, dan tentu saja ada silaturahmi, kunjungan ke rumah masing-masing murid.

Albert Einstein saja pernah berkata seperti ini "Imajinasi lebih penting dari pengetahuan." Nah lho. Kalau saya terjemahkan bebas berarati "Kelas Fiksi (imajinasi) itu lebih penting dan lebih keren dibanding kelas non-fiksi (pengetahuan)." Hehehe, maksa sedikit enggak apa apa ya. Sudah jelaskan, ilmuwan sekaliber Einstein lebih memilih Kelas Fiksi, padahal dia peraih Nobel bidang Fisika bukan Nobel Sastra.

Tiga paragraf di atas mungkin bisa memberi sedikit gambaran tentang "Kelas Fiksi ODOP #Batch 4" yang digawangi oleh Mbak Wiwid, Mas Wakhid, dan Kang Yoga. Tentu saja saya pribadi merasa senang dapat berada di dalam kelas fiksi ini. Bukan hanya karena saya menyukai bacaan-bacaan fiksi, atau mempunyai keinginan menerbitkan sebuah buku fiksi ilmiah, tetapi banyak hal lain yang membuat saya senang.

Apa indikator sebuah kelompok atau kelas telah berbaur menjadi satu hati?

Menurut saya, jika sebuah kelompok atau kelas dimana orang-orang di dalamnya tidak ada yang merasa lebih atau merasa rendah. Jika orang-orang di dalamnya tidak pernah berkelompok kecil, dan memilih hanya satu dua orang sebagai teman. Dan yang lebih penting lagi, jika orang-orang di dalamnya tidak sungkan-sungkan untuk bercanda tawa, bahkan sampai memberi julukan tertentu, dan semuanya tertawa, tidak ada yang marah, tidak ada yang tersinggung, tidak ada yang merasa orang yang harus disegani.

Asyik ya? Ya, begitulah yang saya rasakan. Sampai saat ini setidaknya. "Kelas Fiksi ODOP #Batch 4" selalu paham, mana waktunya bercanda, mana waktunya serius mengerjakan hal yang menjadi kewajibannya. Namun, tentu saja, sebaik-baik suatu kelas, ada saja kekurangannya. Saya pun harus fair dong, harus obyektif menilai kelas yang saya jadikan sebagai rumah kesekian.

Setiap tulisan yang dibuat murid-muridnya masih jarang mendapat tanggapan, kelebihan dan kekurangannya. Toh, selama ini murid-murid menulis, namun belum maksimal dalam hal menanggapi masing-masing tulisan. Kalau perlu, murid dipanggil satu-satu, lalu dibahas tulisannya bersama-sama. Dulu pernah ketika masih kelas ODOP besar. Nah, bisa dilakukan juga sepertinya di kelas Fiksi ini.

Lainnya sih sudah oke. Dan sebentar lagi kelas fiksi ini akan segera berbuah, dengan buah-buah yang ranum dan segar. Segera! Semoga lancar, diberi kemudahan, dan selalu berada dalam keberkahan.

Saya pribadi mohon maaf atas segala kekurangan selama ini, dan terima kasih.


#OneDayOnePost

4 comments:

  1. Nah itu, merasa tersinggung nggak sih klo dikuliti..

    ReplyDelete
  2. Hm... saran yang bagus. Bisa kita mulai. Keren tulisannya.

    ReplyDelete
  3. Kelas fiksi lebih baik dibanding kelas non fiksi? Baiklah.
    Tapi denger2, kelas ini sepi. Oh ... sediihhh

    Yuk semangat biar rame kelas kita ^^

    ReplyDelete