:::: MENU ::::

Cerita Fiksi Mini

"Huu ...! Huu ...!" Suara tangisan terdengar di sebuah gubuk. Dengan tergesa, Ki Silah, mendekati sumber suara itu. Dia kaget, ternyata orang yang menangis itu adalah menantunya sendiri.

"Ada apa Kabayan? Kenapa kamu menangis seperti itu?"

"Huuu ...." Tangisannya masih terdengar mengenaskan.

"Kamu lapar, belum makan?" Kabayan menggeleng. "Sakit?" Menantunya tetap menggeleng.

"Lalu kenapa?" Ki Silah mulai jengkel, "ditanya malah diam saja. Apa itu yang kamu pegang?"

"Ini baju baru, Bah."

"Baju baru? Kenapa kamu menangisi baju baru. Bukannya malah senang kamu bisa memiliki baju baru?"

"Baju ini sekarang baru. Tapi nanti baju ini bakal jadi kusam, jadi jelek."

"Itu mah sudah sewajarnya Kabayan. Lama kelamaan baju itu bakal jadi jelek."

"Huuu ...." Tangisannya mengencang.

"Bukan hanya baju baru yang lama kelamaan jadi bau apek, jadi kusam, jadi butut Kabayan. Rumah yang kita tinggali juga, bakal rusak. Mobil yang kita kendarai juga kalau sudah tua bakal hancur. Anak, bini, abah, emak, cucu sampai tujuh turunan, termasuk kamu sendiri bakal jadi tua, reyot, jalannya bakal bungkuk kayak padi yang sudah matang, meletoy."

Mendengar mertuanya ngomong, Kabayan meraung. Tangisannya semakin menjadi. Lalu dia duduk kesal. Kakinya dihentak-hentakkan di atas tanah.

"Tidak mau. Kabayan tidak mau baju ini jadi kusam. Kabayan pengen baju lebih baru lagi. Baju yang lebih wangi, lebih cantik!"

Ternyata teriakannya terdengar oleh istri Kabayan. Dia tergopoh-gopoh menuju gubuk yang terletak di pematang sawah itu.

"Apa Kabayan. Kamu mau cari istri lagi? Mau cari perempuan yang lebih cantik dibanding saya? Iya, Kabayan. Hayoh ngaku!"

"Tidak Iteung. Tidak. Akang mah setia sama Nyi Iteung. Akang tidak mau kita jadi tua Iteung. Giginya pada rontok, ompong. Badan bungkuk, kulit keriput, bau tanah. Tidak mau Iteung."

Perempuan itu terenyuh mendengar Kabayan berkata bahwa dia selalu setia kepada dirinya. 

"Akang tidak mau Iteung meninggalkan Akang, gara-gara melihat Akang jadi tambah tua, jadi keriput kayak odading yang dijual Si Mamang."

Ki Silah menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Si Kabayan. Macam anak kecil saja.

"Sudah, sudah. Kamu harus menerima apa pun yang kamu alami. Semuanya sudah kehendak Tuhan, Kabayan. Tidak usah ditangisi seperti anak kecil. Kamu tahu Kabayan, tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya bakal rusak, bakal hancur, bakal tiada. Hanya Tuhan yang tidak dapat rusak, Kabayan. Ingat itu." 

Perkataan Ki Silah semakin membuat Kabayan merinding, memikirkan semuanya bakal hancur, bakal rusak, bakal hilang. Seram amat! pikirnya. Tubuhnya bergidik sendiri memikirkan kata-kata Ki Silah.

"Terus saya harus bagaimana Ki Silah?"

"Atuh tidak harus gimana-gimana. Memang maunya gimana?"

"Biar saya tidak sedih memikirkan baju baru ini bakal jadi butut, bakal jadi rusak."

"Jalani saja Kabayan. Jalani semua ketentuanNya. Tuhan Maha Pengasih, tidak mungkin memberi penderitaan kepada hambaNya. Tidak mungkin!" Ki Silah berbicara sebijak mungkin, agar bisa dipahami oleh Kabayan.

"Hanya manusianya saja tidak paham. Wajar Kabayan. Karena otak manusia itu cetek, kayak otak udang. Tidak paham bagaimana Tuhan selalu mengasihi hambaNya. Tetap bersyukur, tetap sholat lima waktu, dzikir, berbuat baik, berkata baik, nanti kamu bakal bahagia, Kabayan."

Ki Silah tersenyum-senyum melihat Kabayan yang bertubuh gempal, sudah beruban, duduk di atas tanah. Kepalanya menunduk sambil menyeka air mata dengan baju hitam yang dipakainya.

SELESAI


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day7
#FiskiMini

13 comments:

  1. Pak itu "jadu" maksudnya "jadi" mungkin yaa, yg ini loh "bakal jadi rusak" hehehe hampura pak, tapi seru euyy dasarr kabayann

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...

      isshhh, muhun eta kedahna "jadi"-nya.. sip, hatur nuhun, tos dilereskeun

      Delete
  2. Kena euy pesannya... mantap kang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeeaaay, nuhun nuhun. ..!

      alhamdulillah

      Delete
  3. wah, merinding baca maknanya

    sekelebat dalam benak terdengar...

    Tak ada yang abadiii
    Tak ada yang abadiii
    Tak ada yang abadiii
    Tak ada yang abadiii

    Uwooooo

    ReplyDelete
  4. Ceritanya ngena. Mantap mas, dari baju baru bisa mengingatkan kita pada kefanaan :')

    ReplyDelete