:::: MENU ::::
makam, kuburan

Kayuhnya terus berputar, memacu laju sepeda melewati deretan pertokoan. Titik-titik peluh mulai keluar dari dahinya yang menghitam. Otot betis, paha, dan lengan tampak menonjol, pertanda pria itu telah khatam dengan pekerjaan yang mengandalkan fisik.

Karangan bunga itu harus sudah sampai sebelum matahari tepat di atas kepala. Pria itu semakin cepat mengayuh. Sebuah factory outlet di pusat kota baru saja mengadakan soft launching. Pemiliknya adalah anak dari salah satu pengusaha nasional yang sangat berpengaruh. Sedangkan karangan bunga yang dia bawa adalah pesanan dari calon walikota yang akan bertarung di Pilkada tahun ini. Klop!

"Permisi Pak," pria pengantar karangan bunga setengah membungkuk, "ada titipan bunga dari Bapak Ponco, ini mau diletakkan dimana ya?"

"Oh, iya. Silakan simpan saja di pintu masuk utama." Petugas keamanan factory outlet itu paham ketika pria pengantar bunga menyebut nama Pak Ponco.

"Baik, terima kasih." Dengan hati-hati dia membawa karangan bunga yang cukup besar itu, lalu diletakkan tempat yang sudah ditunjuk petugas tadi.

Peluh mulai mengering. Angin sepoi menyapu rasa gerah yang dia rasakan sepanjang jalan. Huuuf, pria itu membuang napas dengan keras, melepas lelah dan penat. Sesaat dia menyapu keadaan tempat itu, pria berdasi saling bercengkerama, empat lima kursi putih mengelilingi sebuah meja bundar berwarna jingga. Ada sekitar enam sampai delapan meja. Pepohonan rindang mengelilingi bangunan yang didesain dengan apik. Gayanya sangat menonjol, perpaduan heritage barat dan neo-klasik jawa.

Tuuut tuiit tuiit, bunyi nada pesan masuk dari gawainya. 

Ms Sigit, tolng mnt antar brg. ambil di gg kemuning 13, babadan. antar ke jl. ariajipang 10 depan puskesmas kertosono. ~ jimin.

Pria itu sumringah. Ah, rezeki ndak jauh dari orang yang berusaha. Baru saja mengantar orderan pejabat, sudah ada lagi yang order. Alhamdulillah, rasa senangnya tidak dapat disembunyikan.

***

Menyusuri jalanan yang padat dengan kendaraan, aku tidak merasa penat. Padahal sedari pagi orderan terus-terusan tidak ada hentinya. Siapa pun dapat melakukannya. Maksudku seruwet apa pun keadaan di sekitar kita, jika pikiran kita tetap fokus pada apa yang sedang dikerjakan, semuanya akan terasa ringan dan pekerjaan kita bukan menjadi beban, tetapi sebuah panggilan.

Gang Kemuning. Nah, itu dia sudah tampak. Tandanya ada gapura (baca tulisan tentang "gapura" di sini) berbentuk atap limas dengan tulisan berwarna emas. Deretan rumah berdempet berbaris sepanjang gang tersebut. Lalu tanah kosong di kiri kanannya. Hanya jarak belasan meter, berdiri rumah megah di tengahnya. Sebuah rumah putih yang sudah tua.

Sepi amat, padahal di depan gang orang-orang lalu lalang ramai sekali, batinku terheran. Tak ada seorang pun di pekarangan rumah itu. Apakah aku salah rumah. Tapi tercetak jelas di pintu rumah angka tiga belas. Hening. Pepohonan seperti bergerombol di seklilingnya: beringin, mahoni, kisabun, menambah kesan angker suasana rumah itu.

"Spada!" siapa tahu orangnya ada di belakang rumah. "Kulo nuwuuun!"

Tidak ada jawaban. Ah, mungkin sedang tidur atau istirahat. Pandanganku kembali menyapu sekeliling. Hiihhh .... aku merinding sendiri. Bulu kudukku lamat-lamat berdiri. Entah hawa apa yang ada di sini. Sepertinya rumah ini berhantu.

Akhirnya kuputuskan menghubungi orang yang meminta pesanan. Tombol on pada gawai aku tekan. 

Jimin. Dialling ....

"Wadah ..., copot copot!" Seseorang menepuk pundak, aku kaget setengah mati. Tampak seorang laki-laki berambut putih dengan tubuh yang bongkok tersenyum aneh kepadaku.

"Eh, bapak, bapak Jimin?" Tenggorokanku tercekat. Air ludah seakan hendak keluar.

"Mau ngambil barang?" suara seraknya menyiratkan pria yang tegas. Tapi aneh.

"Iya. Ini di sini," tanganku gemetar membaca tulisan di gawai, "tertulis kemuning 13. Berarti benar kan, kalau ...."

Deg! Mana laki-laki bongkok itu. Lho, lho. Tak ada siapa pun di sini. Keringat dingin mulai merembes di sela pelipis. 

"Ini mas."

Hwarakadah! Laki-laki itu tiba-tiba ada di hadapanku! "Beb, bapak, beb ...."

"Ini tolong antar secepatnya ke Kertosono." Tak ada nada, suaranya datar tak menyiratkan emosi apa pun. "Soalnya hendak segera dipakai.

Aku menerima barang yang dibungkus keresek hitam itu. Setengah ragu. "Ba ... ba, baik Pak. Baik." Baru saja aku rapikan barang seukuran layar empat belas inchi di boncengan belakang, laki-laki itu sudah tidak ada di tempatnya.

Hiii! Bulu kudukku semakin berdiri. 

***

Hari mulai baranjak gelap. Beruntung awan mendung hanya bergelayut di atas, tidak ada tetesan air pun yang turun ke bumi. Kertosono, hanya berjarak belasan kilometer dari Kemuning. Sayangnya, jalanan yang terus menanjak landai membuat sepedaku tak bisa dipacu lebih dari 10 km/jam.

Apalagi kejadian yang membuatku kaget setengah mati, membuat perjalanan seakan sangat lama. Jalanan semakin longgar. Wajar saja, karena Kertosono hanyalah pemukiman kecil yang menjorok ke daerah perkebunan. Letaknya lebih tinggi dibanding daerah Kemuning, yang termasuk daerah perkotaan.

Huh, lelah amat. Kayaknya segelas es teh manis bisa membuat diriku lebih segar. Setelah menepikan sepeda, sekilas keresek hitam di boncengan belakang terbuka setengahnya. Dan, apa itu. Barang itu, sepertinya ....

Papan kayu persegi memanjang dengan ukiran di atasnya. Duh, kenapa hari ini jadi horor begini ya. Itu kan, itu .... Pahatan itu membentuk sebuah nama. bin Slame ..., aku membuka bungkusan keresek lebih lebar agar bisa terbaca jelas. 

Jimin bin Slamet
lahir: 23-04-1947
wafat: 11-12-2017

Jii, Jimin, mulutku menganga. Itu kan Jimin. Nama yang memesan mengantarkan barang. Berarti dia, dia.

***

Langkahku semakin cepat. Sembari membawa bungkusan keresek hitam, aku bergegas menuju Jalan Ariajipang, depan Puskesmas Kertosono. Ternyata bukan jalan, tetapi hanya sebuah gang yang berundak. Terpaksa sepeda kutinggalkna di bawah. Akhirnya kuputuskan berjalan kaki. Setengah berlari.

Bebatuan berlumut, tanaman parasit, kecoa-kecoa yang berlarian kesana-kemari, dan matahari yang telah jatuh di ufuk barat, membuat langkahku seakan tak berkesudahan. Horor. Sepanjang hari begitu penuh cerita horor. Mengerikan. 

Puskesmas, puskesmas Kertosono. Ah, akhirnya sampai juga. Papan nama yang dipasang jelas, itu adalah Puskesmas Kertosono. Dan di depannya adalah Ariajipang sepuluh. Ariaji ..., hanya tanah kosong! Tidak salah lagi, nomor sepuluh hanya tanah kosong. Bagaimana ini. Tapi, tidak. Di sana ada bangunan kecil. Iya, di sana. Bangunan tidak beraturan. Berantakan. Seperti habis terkena gempa.

"Adik, cari siapa?"

Deg! Uh, kenapa diriku menjadi seperti ini. Lebih mudah terkaget-kaget. Dan, lebih terkaget lagi laki-laki yang berdiri di hadapanku. Dia, dia laki-laki bongkok yang meminta mengantarkan barang ke sini. Lho, kenapa bisa seperti ini.

"Saya mau mengantarkan beb, beb ..., barang ini, Mbah." 

"Oh, pasti papan nisan ya." Laki-laki itu menerima barang itu dengan perlahan. Seakan barang itu adalah barang yang sangat berharga.

"Maaf Mbah, kalau saya boleh tanya, Mbah siapa ya?" Aku memberanikan diri.

"Saya? Orang-orang di sini biasa memanggil saya Mbah Jimin." Dhueeng! Kepalaku berputar, seperti dihantam palu godam. Bagaimana bisa? Ini tidak masuk akal. Aku masih berusaha mengendalikan diri.

"Tapi Mbah, tulisan itu, di situ."

"Papan nisan ini?"

"I, iya Mbah. Bukannya namanya Jim, Jim ...."

"Betul. Memang Mbah Jimin sudah meninggal."

"Lalu?"

"Ah, maafkan saya anak muda. Sudah membuat kaget."  Dia, laki-laki bongkok itu menajamkan pandangannya ke arahku. "Mbah Jimin yang meninggal itu namanya Jimin bin Slamet, sedangkan saya, yang meminta kamu mengantar papan nisan itu, Sujimin. Sujimin bin Sawal." Deretan gigi yang tersisa satu dua itu tampak menghitam. Laki-laki bongkok itu terkekeh.

Sialan! Umpatku kesal.


SELESAI


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day9
#Misteri
#Fiksi

7 comments:

  1. Replies
    1. mbah, mbah siapa? mbah Jimin ya..?

      #wkwkwk

      Delete
  2. Ngakak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  3. Duh, aku dah ikutan tgang malah salah orang hahaha

    kayanya mteri kmarin langsung di eksekusi ya mas yan? settingnya keren abis

    ReplyDelete
  4. Dengar kata Jimin jadi mikir yang enggak-enggak... Wkwk πŸ˜‚ #Oi!

    ReplyDelete
  5. Udah merinding di awal sampe hampir akhir, dan endingnya. Hmmm, kuingin berkata kasar :|

    ReplyDelete