:::: MENU ::::

Rintik hujan kembali turun. Setelah kemarin sore, seakan tak pernah ada jeda, hujan mendera sampai tengah malam tadi. Dan sekarang, sepagi ini, jutaan tetes air itu membasahi tanah yang belum juga kering, bahkan masih menyisakan genangan di sana-sini.

Kenapa harus sepagi ini. Kenapa tidak menunggu matahari sepenggalah dulu, baru rintik yang selalu membuat rindu turun. Kalian tidak akan pernah tahu kenapa semua hal di dunia ini terjadi. Bahkan daun yang meranggas di halaman depan rumah saja, entah kenapa harus lepas dan terjatuh pada siang hari.

Tetapi ada satu hal yang harus kalian yakini. Tidak ada satu pun kejadian di alam ini tanpa kehendakNya. Tidak ada satu helai rambut yang lepas tanpa izinNya. Dan Tuhanlah yang Maha Mengetahui makna dari dibalik semua hal yang terjadi. Termasuk kejadian pagi ini, ketika ruang kelas masih lengang. Hujan membuat sebagian anak-anak malas beranjak dari rumahnya.

"Tumben sepagi ini sudah berangkat?"

"Enggak juga. Lihat jam dong."

"Eh iya. Lima menit lagi bel masuk."

"Biasanya juga saya sudah ada di kelas jam segini. Anak-anak yang lain saja belum nampak batang hidungnya." Perbincangan dua orang, mencoba mengusir dingin dan senyap yang dirasakannya. Mereka adalah murid kelas XII IPA di sebuah sekolah kabupaten. 

"Waduh celaka, nih." Tangannya spontan memegang kening, "omong-omong kamu bawa alat dan bahan praktikum, Law?"

"Bawa lah." Perempuan berambut panjang lurus itu tersenyum. "Memangnya kamu tidak?"

"Ah, bahan-bahanku tertinggal."

"Kamu tuh ya, Dhimas, selalu saja ceroboh."

"Bukan begitu Law. Saya sudah menyiapkannya. Saya simpan di meja ruang tamu. Entah kenapa pas tadi mau bersiap berangkat saya tidak melihatnya."

"Tuh kan jadi rumit. Terus gimana?"

"Ya, entahlah. Mungkin ibu saya yang membereskannya, sebelum subuh."

"Tetap saja ceroboh."

"Iya, tapi kan ...," Dhimas kehilangan kata untuk meneruskannya, "Law, boleh kan saya pinjam alat dan minta bahannya. Sedikit saja." Pria itu membujuk.

"Tidak!" Jawab Lawrencia ketus.

"Kita kan berteman. Sesama teman harusnya saling ...,"

"Tidak!" Law memotong omongan Dhimas, "sekali saya bilang tidak, ya tidak. Itu kan sudah jadi tanggung jawab kamu. Kalau tidak bawa alat bahan, risiko sendiri dong. Tidak ada alasan."

Wajah Dhimas spontan memerah. Ada perasaan yang mengganjal. Terbersit penolakan atas jawaban ketus temannya. Dia tidak bisa menerima jawaban itu!

***

"Oke, mohon tenang anak-anak. Pertemuan kali ini kita akan melakukan percobaan tentang larutan asam basa." Sosok perempuan tinggi umur tiga puluhan mencoba menenangkan anak-anak yang sibuk dengan persiapannya.

"Iya, Miss." Serempak mereka merespon guru kimianya.

"Masih ingat apa dan bagaimana larutan asam basa itu?"

"Miss!" Laki-laki yang duduk paling depan mengangkat tangan.

"Silakan Hendri." Senyuman menghiasi wajahnya.

"Larutan asam itu larutan yang menghasilkan ion hidrogen, sedang basa menghasilkan ion hidroksida atau OH min." 

"Bagus." Satu jempol terangkat mengarah kepada Hendri. "Ada pendapat lain?"

"Saya, Miss Currie."

"Mangga, silakan Hartland, apa pendapat kamu?" Sorot matanya memerhatikan perempuan yang duduk di pojok belakang.

"Bisa dilihat dari rasanya Miss. Kalau asam rasanya masam, kalau basa agak-agak pahit gimana gitu." Beberapa anak membungkuk, saling berbisik pelan.

"Iya, kayak wajah kamu Hart, masam." Celetukan Oji membuat seisi ruang laboratorium terbahak.

"Hoo, apa luh Ji. Wajah kamu tuh yang pahit, sepet kayak larutan basa." Saling ejek Oji, anak terbengal di kelas IPA 1 dengan Hartland sontak menambah riuh ruangan.

"Sudah, cukup!" Miss Currie mengetuk-ngetuk meja kerjanya. "Kedua jawaban bisa kita terima ya."

"Tapi Miss, kan kalau mau dicicipi agar bisa tahu larutan itu asam, bisa bahaya dong." Law, anak paling pintar di kelas IPA 1 bersidekap.

"Maksudnya?"

"Kalau jeruk atau buah-buahan masih bisa kita cicipi, oh ini asam." Anak berambut lurus itu mencoba mengutarakan maksdunya, "nah kalau larutan asam sulfat atau asam nitrat, kan tidak mungkin dicicipi."

"Iya, betul Miss. Bisa-bisa yang nyicipinya jadi ko'it." Anak-anak di ruang itu kembali riuh.

Tidak lama, seorang anak berkacamata tebal dan bertubuh gempal mengangkat tangannya. "Iya, kamu Rissa?"

"Kita tidak bisa mencicipinya, tapi kita bisa gunakan indikator. Indikator asam basa."

"Indikator kan mahal, Ris."

"Tidak juga. Kita bisa membuatnya dari kunyit."

Miss Currie tampak senang mendengar jawabannya. Bahkan sebagian anak memberi tepukan tangan untuk jawaban Rissa.

***

Satu jam berlalu. Wajah mereka begitu serius menghadapi berbagai larutan yang tersedia. Terkadang mencampurkan dua larutan menjadi satu. Pada kesempatan lain, mengukur suhu larutan di dalam labu erlenmeyer yang dipanaskan menggunakan pemanas bunsen, kassa, dan kaki tiga.

Bau nyegak meruap ketika larutan asam pekat dikeluarkan dari lemari asam. Sifatnya sangat korosif. Coba saja diteteskan di telapak tangan. Dijamin telapak tangannya akan menganga, bolong. Boro-boro larutannya, uap yang terhirup bisa melubangi organ dalam.

"Lho, mana larutan asetat punya saya?"

"Ada apa Law?" Oji, si biang kerok mendekat begitu melihat Law terlihat panik.

"Larutan asetat! Saya tadi bawa 100 mL asetat, tapi kok sekarang tidak ada." Perempuan itu mengeluarkan semua alat dan wadah alat percobaan. 

"Kamu simpan dimana?"

"Di sini, bareng sama alat pipet tetes dan termometer." Law menunjuk ke arah tas plastik biru yang terletak di atas meja kerjanya. Di sana juga tergeletak alat-alat yang semuanya ditempel stiker biru. Tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal, "ah, kacau nih. Gimana donk?"

Keduanya terdiam dan menundukkan kepala begitu mendengar Miss Currie berdehem.

"Maaf Miss, larutan asetat saya tidak ada."

"Tahu konsekuensi bagi kelompok yang tidak bawa bahan?"

Keduanya tak dapat berkata apa-apa. Langkah beratnya memaksa mereka keluar dari ruang laboratorium, tidak dapat melanjutkan praktikum. Artinya mereka akan mendapatkan nilai nol atau mengulang praktikum dengan tugas laporan dilipatgandakan.

***

Bel tanda selesai pelajaran berbunyi. Sekali diberi tanggung jawab, dia akan berusaha mati-matian menyelesaikannya. Dan sekarang dia dihukum gara-gara larutannya menghilang entah kemana. Pikiran Law menjadi berantakan, seakan dunia ini bertambah sempit

Berkebalikan dengan teman kelompoknya Oji.

"Sudah Law, gak usah terlalu dibikin pusing. Santai saja."

"Bukan begitu Ji. Kamu kan tahu saya belum pernah dihukum seperti ini. Lagipula kemana sih itu larutan? Kamu tahu kan saya membawanya."

Mata Oji membesar seketika, "jangan-jangan ada yang mengambilnya. Iya Law, bisa saja ada yang sengaja mencuri."

"Ish, kamu tuh. Gak baik berburuk sangka. Kalau benar ada yang mengambilnya apa buktinya."

"Nah itu yang jadi kendala. Kita tidak punya buktinya."

Sedang serius-serius kedua kawan itu berbincang, dari arah laboratorium terdengar teriakan-teriakan histeris. Beberapa anak berjas putih berhamburan keluar ruangan.  Sebagian lagi berteriak meminta tolong.

Tanpa menunggu lama, Law dan Oji bergegas mendekati laboratorium. Bergegas keduanya memasuki ruangan itu. Pandangan matanya terhalang. Kepulan asap memenuhi setiap sudutnya. Tampak ada kobaran api menjilat gorden jendela sisi kanan.

"Miss, ada apa ini?" Begitu melihat kobaran api, Oji mendekati Miss Currie sambil membawa fire extinguisher. "Kenapa bisa begini?"

"Tidak ada waktu lagi. Kamu matikan apinya dulu, nanti Miss jelaskan."

Secepat kilat kobaran api mengecil setelah zat kimia foam disembur Oji dari alat pemadam itu. Tidak menunggu waktu lama, beberapa orang guru dan security mengamankan dan menenangkan anak-anak yang berlarian panik.

"Dhimas, dia terkena semburan api!" Miss meminta security untuk membawanya ke ruangan UKS. "Dia tadi sedang mencampurkan asam asetat dengan natrium bikarbonat. Tapi ada kesalahan yang dilakukan anak itu."

Law, Oji, dan beberapa orang guru bergerombol mengelilingi Miss Currie yang mencoba menjelaskan.

"Begitu asam dan bikarbonatnya dicampurkan, pasti menghasilkan gas. Gasnya memang tidak berbahaya. Dan bukan karena gas yang menyebabkan kebakaran ini. Dhimas mengambil asam sulfat pekat di lemari asam. Padahal seharusnya dia encerkan dulu." Miss Currie menarik napas perlahan. "Begitu dia panaskan di atas pembakar bunsen, sebuah letupan kecil terjadi. Cukup untuk memcahkan gelas kimia kecil."

"Anak itu tersontak kaget, menyenggol pembakar bunsen. Apinya menyambar lengan dan wajahnya. Akhirnya api pembakar bunsen itu mengenai gorden ruang laboratorium."

Oji diam-diam memandang wajah Law. Ada perasaan duka melihat teman sekelasnya mengalami luka bakar. Di sisi lain ada perasaan geram karena apa yang dilihatnya di atas meja kerja Dhimas. Apa yang di lihat saat itu telah menjawab pertanyaan selama ini. Dia bertambah yakim bahwa Law tidak salah.

"Law, coba lihat wadah larutan itu." Suaranya dibuat sepelan mungkin.

"Wadah mana?"

"Di atas mejanya Si Dhimas."

"Lho itu kan?" Dahi Law mengerut, matanya membelalak melihat wadah larutan berwarna biru.



SELESAI

#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day14
#Kimia
#Laboratorium
#Fiksi

12 comments:

  1. kimia... aku suka.
    keren kang, mengingatkan perlunya berhati-hati bila sudah berhubungan dengan larutan kimia.
    juga pesan yang terselip, mulutmu harimaumu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kimia tuh pelajaran paling asyik.. penuh racun dan ledakan, hehehe :D

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Whooaaa... aku buta kimia. Bisa sambil belajar yaa 😊

    ReplyDelete
  3. Keren tuh... Pak Guru kita satu ini emang oke. Kimia... aku mumet kalau pelajaran Kimia. Untung udah lulus.

    ReplyDelete
  4. Perlu perhitungan meskipun dalam hal gurau

    ReplyDelete
  5. Kimia banget cerpennya. Bisa jadi alternatif metode belajar kimia ini πŸ˜†πŸ˜†

    ReplyDelete