:::: MENU ::::
Bayah, Sawarna, Lebak, Banten

Hari Pertama

Tas ransel, pakaian empat stel, sandal jepit, ransum, kaus kaki cadangan, keresek besar, topi rimba. Oke semua! Hm, apalagi ya? Dia meletakkan semua barang di teras rumah. Satu barang disimpan, lalu memberi tanda cek di buku catatannya. Ambil satu barang lagi, cek lagi di baris di bawahnya. Dan seterusnya.

Tampaknya semua lengkap. Tinggal sarung tangan, sepatu, helm, kacamata hitam, ambil peta, lihat rute paling dekat menuju Sawarna. Batinnya, sembari tersenyum puas. Membayangkan bagaimana petualangan yang akan dia alami selama liburan akhir tahun ini.

Ya, dia telah merencanakan jauh-jauh hari liburan bersama sahabatnya. Sebuah liburan yang mungkin tak semua orang berani melakukannya. Tujuannya, Sawarna, sebuah pantai sangat indah di pesisir selatan Banten. Bukan pantainya yang memang merupakan tempat wisata, melainkan dia --dan sahabatnya-- akan mengendarai sepeda dari pegunungan Manglayang.

Mana nih Si Gagak Hitam, gak nongol-nongol. Janjinya jam delapan, sekarang hampir jam sembilan belum kelihatan juga batang hidungnya.

"Wiih, anak bapak. Keren amat." Dari dalam muncul sesosok laki-laki berbadan besar tinggi, dengan tulang pipi yang menonjol kokoh, "jadi besok berangkat?"

"Jadi atuh Bah. Gara-gara cerita Abah, jadi Alvin dapat inspirasi, mau nyoba petualangan yang Abah lakukan dulu." Sambil membetulkan memeriksa kondisi sarung tangan dan kacamata hitam, dia merespon pertanyaan ayahnya.

"Mental harus siap."

"Muhun Bah. Iya Bah, siap!"

"Petualangan kamu cukup berat. Tapi tetap harus yakin, kamu bisa melewati, apa pun nanti rintangannya." Perut buncitnya terlihat ketika duduk di amben teras depan. "Perbekalan makan secukupnya saja, yang penting minum. Fisik juga jangan disepelekan, harus prima."

"Kalau itu sudah pasti, Bah. Seminggu terakhir kan Alvin lari pagi dan sore. Angkat barbel juga, don't worry." Wajahnya begitu cerah, seringainya lebar.


***

Aku terus mengayuh sepeda sekuat tenaga. Huh, ternyata berat juga nih. Padahal baru setengah perjalanan.

Hosh, hosh, hosh ...!  Lenguhan nafasku begitu kentara. Entah aku sanggup atau tidak. Di depan jalanan masih menanjak landai, berbelok panjang ke kiri. GPS meterku menunjukkan angka 3,106 mtrs long. Wow, baru tiga kilometer!

Ah, bagaimana ini. Ternyata boro-boro setengah perjalanan, seperempat juga belum!

Hosh, hosh nafasku semakin tersengal. Sedang Juan sudah jauh berada di depan. Sepertinya dia tidak mengalami kesulitan sama sekali. Kayuhan sepedanya begitu ringan. Bahkan dengan entengnya sekali-kali dia menenggak air di botol minum.

"Hai Gagak Hitam! Ayo lekas!" Juan dengan satu tangan di stang sepeda, satu tangan lainnya melambai ke arahku. "Loyo amat. Kayak kakek-kakek." Dia tertawa terbahak, melihat diriku kepayahan.

"Berat banget. Tanjakannya panjang nih."

"Ini belum seberapa. Sehabis ini kita akan sampai di Padalarang. Jalanannya lebih ekstrim." Teriakan Juan beradu dengan deru kendaraan dan klakson, saling beradu.

"Capek ..., sesak nih ...," nafasku semakin memburu, "huh, huh!" Aku berusaha tetap mengayuh. Setengah kesal, setengah malu kayuhanku begitu lambat.

"Sudah jangan banyak mengeluh. Ayo, semangat!"

Sisi kiri jalan mulai tampak tebing-tebing curam. Bebatuan kapur terlihat putih kekuningan. Beberapa bagian tampak sisa alat berat telah menggerusnya. Tandus. Gersang. Keropos. Hanya beberapa yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar. Menghijau seperti permadani.

Sedangkan di kanan jalan, jurang, hanya dibatasi oleh besi memanjang setinggi 50 sentimeter. Belokan tajam ke kanan dan kiri silih berganti. Tanjakan tajam masih sering kami jumpai. Namun semakin mengayuh, semakin sedikit tanjakannya. Mulai berganti dengan turunan landai panjang, dengan belokan tajam silih berganti.

Aku melewatinya dengan susah payah. Juan tidak. Padalarang, daerah yang kini kami lewati. Salah satu deretan pegunungan yang mengepung kota kelahiranku. Bandung, jika dilihat dari atas seperti mangkuk. Tengah mangkuknya adalah kota Bandung. Pinggirannya adalah deretan pegunungan yang mengelilinginya

Hari Kedua

Kami melanjutkan petualangan, setelah bermalam di salah satu warung kopi daerah Rajamandala, Cianjur. Kalian tahu, jika ingin menghabiskan liburan dengan kesan yang tak pernah terlupakan? Habiskanlah liburan dengan berpetualang. Tanpa membawa perbekalan yang cukup. Di sana kalian akan menemukan sederetan cerita yang tak akan ada habisnya.

"Jalanan lebih ramah Gak, tenang saja." Juan selalu saja memanggilku Gagak Hitam. "Jalur terberat sudah kita lalui. Hebat lah!"

"Saya hampir pingsan tahu! Kamu enak, fisiknya bagus. Lha saya?"

"Hahaha ...!"

Dia tertawa renyah melihat diriku terlalu payah untuk melewati rute Batujajar - Padalarang - Rajamandala. Bayangkan saja dengan jalan berkelak-kelok dan menanjak ditambah dengan tipisnya udara di daerah datara tinggi itu. Kalian akan sukar bernafas dengan udara yang tipis.

Ketingiannya sangat bervariasi. Dari dasar "mangkuk" di Kota Bandung aku mencatat ketinggiannya sekitar 421 mdpl. Setelah itu jalanan terus menanjak landai, melewati Gunung Batu dan Batujajar. Puncaknya adalah di daerah Cikahuripan yang memiliki ketinggian 870 mdpl. Wajar kan kalau saya hampir pingsan karena kelelahan. Semakin tinggi suatu tempat, kadar oksigen semakin rendah atau udaranya semakin tipis.

Dan benar saja apa yang dikatakan Juan. Jalanan terus menurun. Sisi kanan dan kiri hanya terbentang pesawahan, kebun, dan sekali-kali rumah-rumah yang tertata apik. Aku bisa mengayuh sepeda sampai kecepatan 35 km/jam. Wow! Keren kan. Padahal kecepatan rata-rata pebalap Tour de France saja hanya 40 km/jam.

Hampir tak ada hambatan yang berarti dalam rute kali ini. Jarak tempuhnya pun lebih jauh dibanding hari kedua. Awan mendung yang terus bergelayut sepanjang jalan menambah suhu udara menjadi sejuk. Hujan menyirami kami berdua ketika tepat memasuki Sukaraja, pintu gerbang Kota Sukabumi, lebih dari satu jam lamanya.

Akhirnya kami melewati Kota Sukabumi dengan pakaian yang telah kembali kering. Jalanan terus menurun, terkadang menemui turunan tajam. Senang sekali aku bisa mengimbangi laju sepeda Juan dengan kondisi jalanan seperti ini.

Hari Ketiga

Awan pekat masih menggelayut di langit. Tampaknya hujan akan turun sepanjang hari ini. Hari terakhir petualangan tiga hari bersepeda dari Pegunungan Manglayang menuju Pantai Sawarna, Bayah. 

"Bangun woi!" Tampak seonggok tubuh meringkuk, sarung menyelubungi seluruh badannya. "Jam enam nih. Entar hujan keburu turun."

Tubuhnya tak bergeming sedikit pun. "Huh, dasar tukang ngorok."

Itulah Juan. Jika sudah tidur, susah untuk bangun. Dengkurannya membuat aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi ditambah suhu yang cukup dingin, aku kira baru satu jam lagi Juan akan terjaga dari mimpinya.

Inilah rute yang aku tunggu-tunggu: Palabuhan Ratu - Cisolok - Bayah - Sawarna. Yup, kami bermalam lagi di sebuah warung makan yang cukup lega. Letaknya tepat sebelum Hotel Samudera Beach --hotel yang terkenal dengan kisah kamar 308, tempat Nyi Roro Kidul bersemayam. Hanya berjarak kurang dari 40 km, tapi memiliki medan yang sangat menantang.

"Berangkat!" Akhirnya Juan telah berada di atas sepedanya dengan kacamata hitam diletakkan di kening, persis ketika matahari menyembul di ufuk timur, mengintip diantara rimbunan awan kelabu dan hitam pekat.

Baru 5 km aku mengayuh, jalanan mulai menanjak tajam. Hosh, hosh! nafasku mulai memburu. Tanjakan pertama dengan panjang seratus meter. Terpaksa aku menuntun sepeda tepat di tengah tanjakan. Hosh, hosh! Aku mencoba untuk tetap bernafas. Sepuluh meter di depan, akhirnya Juan menuntun juga sepedanya.

Selagi masih mengatur nafas agar kembali normal, tetesan pertama menyentuh punggung tanganku. Hujan! batinku. Waduh, bisa berabe nih. Semoga hujan tidak turun sampai Sawarna.

Selesai tanjakan pertama. Kami kembali mengayuh sepeda. Lurus sepanjang 200 m, berbelok tajam ke kanan, lalu turunan landai dan tajam. Di depan jurang menganga dengan pemandangan laut lepas di kejauhan. Wow. aku takjub begitu menyapu pandangan di depan. Hamparan hutan lebat, pegunungan, turunan landai tajam, dan lautan lepas Samudera Hindia, sebuah lukisan maha indah.

Kami seakan-akan sedang berkendara dengan kecepatan penuh, siap-siap untuk terjun ke lautan. Tiba-tiba jalan berbelok tajam ke arah kanan. Datar. Sekitar 150 m. Berbelok tajam lagi ke kiri. Dan aku berhadapan dengan ... sebuah tanjakan curam!

Aku mengayuh dengan kecepatan penuh sebagai ancang-ancang. Begitu menyentuh awal tanjakan, tetesan air kembali turun, semakin banyak. mengenai helm dan kacamata hitamku. Hujan. Jalanan semakin menanjak. Aku tuntun kembali sepedaku. Hujan deras!

Pandanganku mengabur. Jarak pandang hanya berjarak panjang lapangan sepakbola. Aku tak melihat Juan. Hujan terus turun semakin deras. Tak memerlukan waktu lama untuk membuat semua tubuhku basah kuyup. Tanjakan seakan tak ada ujungnya. Aku tak tahu, karena jalanan kembali berbelok landai ke kiri, terhalang oleh rimbun pepohonan. Nafas semakin tersengal. Juan? Entah berada berapa jauh di depanku.

Sepedaku semakin berat. Sangat berat. Aku baru menyadarinya ketika jalanan kembali datar dan kembali mengayuh sepedaku. Begitu melihat bagian bawah, bannya ternyata ... bocor!

Pandanganku terhalang air yang mengenai bola mata. Perih. Pantai Sawarna yang indah semakin jauh dari angan-angan. Kepalaku terasa pusing. Bumi seakan berputar-putar. Mana Juan? Aku belum melihat batang hidungnya. Perlahan jalanan di depanku menghitam, perlahan menjadi gelap. Gelap. Semakin pekat.


SELESAI


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day3

3 comments: