:::: MENU ::::

Jum'at, 9 Agustus 2013

Mataku mengerjap. Ruangan ini tampak lengang. Bangku dan meja kayu tergeletak tak beraturan. Entah ruangan apa yang kutempati sekarang. Lihat saja, lantai keramik putihnya muram, banyak jejak sepatu di sana-sini, berlumpur, bungkus makanan, dan satu dua plastik air mineral. Kaca jendela penuh debu. Ditambah gorden yang melambai-lambai tertiup angin muson barat.

Aku melirik ke dinding belakang. Ada yang menarik di sana. Beberapa mural, grafiti, dan gambar doodle begitu menarik. Pasti disengaja digambar oleh penghuni ruangan ini, yang kini pergi entah kemana. Tulisan dengan gaya gothic membentuk deretan huruf G-H-O-S-T. Hitam. Latar tulisannya menyiratkan keangkeran. Petir menyambar, kuburan usang, dan pohon-pohon tua berhantu.

Tak ada seorang pun. Sepi. Seharian hanya memandangi ruang kosong tak berpenghuni. Wajar kan, jika aku masih tak paham untuk apa aku berada di sini. Hanya mengikuti siapa pun yang menyuruhku berada di sini. Jika matahari sudah sepenggalah, diriku baru bisa melihat ruangan ini. Sedangkan pada malam hari, aku tak bisa melihat apa pun. Mungkin aku tidur sangat lelap. Atau aku tubuhku mati, lalu esok paginya hidup lagi.

Rabu, 14 Agustus 2013

Satu dua orang masuk ruangan. Disusul beberapa orang lagi dengan pakaian yang berbeda. Sisanya berlarian mencari tempat yang masih kosong. Ada yang berpakaian hijau kuning, ada juga yang berpakaian biru dengan motif merah di bagian tepinya. Barisan depan tampak berderet berpakaian sama, abu-abu kehitaman, garis putih memanjang di kedua sisinya. Asyik mengobrol. 

Ruangan yang kutempati kini lebih rapi. Meja bangku disusun rapi memanjang ke belakang. Suasananya ramai. Orang-orang itu --atau lebih tepat aku bilang anak-anak. Mereka masih remaja, usianya lima belas tahunan--  berpakaian olahraga. Papan nama dari karton bekas terpasang di dada dan punggungnya. Besar. Digantung dengan tali rapia warna-warni. Anak laki-lakinya menggunakan cat merah putih di kedua pipinya. Sedangkan anak perempuan mengenakan pita merah di kanan, dan pita putih di kiri diikat di kedua bagian kuncir rambutnya. 

Tak lama, satu orang lagi masuk. Kalau yang satu ini sudah berumur, berpakaian cokelat-cokelat seperti seragam pegawai Pemda. Lalu dia memberi aba-aba dan berkata entah apa. Sontak anak-anak teriak. Gaduh. Ada yang wajahnya kecewa. Ada yang senang bukan main. Kebanyakan saling bertatapan dengan teman sebangkunya, ketika anak bertubuh tinggi besar, melangkah ke depan.
Seluruh kelas bertepuk tangan. 

Laki-laki dengan wajah brewok berseragam cokelat itu memberikan kabar bahwa salah seorang anak di kelasnya mendapat predikat terbaik selama masa orientasi siswa baru. Tak ayal kabar itu membuat anak bertubuh besar itu berubah. Wajahnya menyungging senyum lebar, matanya membulat, dan posisi tubuhnya semakin tegak sedikit membusung. Laki-laki berseragam mengalungkan medali dengan bahan seadanya, hanya menandakan bahwa medali itu merupakan simbol siswa terbaik pada masa orientasi sekolah. Bayu, kubaca dari name tag yang terpasang di dada kanannya.

Kamis, 10 Oktober 2013

Tiga bulan berlalu, semenjak aku dipindahkan ke ruangan berdinding "Ghost". Ruangan yang diisi oleh anak-anak sosial, selalu berisik ketika tidak ada kegiatan belajar, tapi paling ramai dan aktif ketika diskusi. Ruangan yang kini aku mulai terbiasa dengannya. Pagi sebelum pekerja kantoran beraktivitas aku telah bangun. Sampai menjelang Isya, aku tiba-tiba terlelap, entah tidur atau mati. Aku mulai terbiasa dengannya.

Banyak kejadian terjadi. Bermacam-macam polah anak-anak itu. Hampir semua membuatku tertawa terpingkal, setidaknya aku akan tersenyum melihat mereka. Diriku selalu diam di suatu tempat. Hanya bisa melihat sekeliling, tapi tak bisa berpindah-pindah. Obrolan yang terjadi di ruangan ini pun tak kupahami. Mereka seperti bercakap-cakap dengan melihat mulutnya yang bergerak-gerak, tapi tak ada suara yang terdengar. Apakah diriku tuli?

Seperti kejadian hari ini, anak-anak itu ramai-ramai menulis sesuatu di kertas, "Pak, mana gurunya?" sambil meloncat-loncat tulisan itu diarahkan padaku. Mulut mereka mengatakan hal yang sama, Pak, mana gurunya. Tidak ada guru yang masuk.

Lalu, sesaat mereka seperti mendengarkan sesuatu. Menulis lagi di atas kertas dengan tulisan besar. Loncat-loncat lagi sambil kertasnya diarahkan padaku, "Tidak ada, tugasnya mana?". Aku melihat gerakan mulut mereka sekalil lagi, mengucapkan hal yang sama juga.

Bagian lain ruangan yang kutempati ini ada dua anak lain yang bertingkah aneh. Satu anak perempuan tomboy, berambut pendek, wajah hitam manis, tampak sedang bersitegang dengan seorang anak laki-laki. Perempuan hitam manis itu berkacak pinggang menyiratkan perasaan sebal dan marah. Sebaliknya, laki-laki itu setengah berlutut, merajuk, dengan wajah berharap dan menyesal, seperti mengatakan sesuatu, wahai perempuan, apa salahku sehingga kau begitu murka? Terimalah cinta murni diriku hanya untukmu. oh, bidadariku.

Akhirnya anak perempuan tomboy lari tunggang langgang menghindar dari tatapan dan rayuan seorang laki-laki yang menyukainya. Tak kalah gesit, laki-laki itu mengejar pujaan hatinya keluar ruangan. Demi melihat kejadian drama di hadapannya, spontan semua anak tertawa terpingkal, menyoraki kedua anak tadi.

Ugh, aku terpingkal melihat kejadian itu. Begitu dramatis. Cukup pantas dijadikan sebuah adegan sinetron. Siapa tahu bisa meraih nominasi aktor dan aktris favorit. Kalian tahu kan aku tak dapat mendengar percakapan apa pun. Namun kejadian drama percintaan itu membuatku seperti mendengar semua teriakan dan apa pun yang mereka bicarakan.

Senin, 23 Desember 2013

Hari berganti. Lewat jendela ruangan aku bisa melihat gerimis sedari tadi turun tak tertahan. Sampai sekarang belum juga menampakkan tanda-tanda akan berhenti. Sesekali guntur terdengar di kejauhan. Ghost masih tercetak gagah pada dinding belakang ruangan. Ah, aku kira awalnya mereka pemuja hantu, hehe. Membuat tulisan Ghost dengan bangganya. Ternyata aku salah. Nama ghost menunjukkan label yang tersemat pada ruangan ini, ruangan yang dijadikan kelas tempat belajar. Dari sanalah nama itu muncul, Generation Hits of Social Two, memberi ciri bahwa mereka adalah anak-anak sosial dua.

Tapi hari ini, aku tak melihat wajah-wajah seperti biasanya. Satu dua anak masuk ruangan, tampak kedinginan. Beberapa anak masuk lagi. Wajahnya persis seperti anak yang pertama masuk, serius, tak ada ekspresi bercanda, wajah setengah ditekuk.

Bunyi bel panjang menandakan semua anak harus berada di ruangannya masing-masing. Kenapa kelihatan lengang ruangan ini. Aku heran, semua tas disimpan di depan ruangan dan di meja hanya ada alat tulis serta beberapa lembar kertas. Seorang guru masuk ruangan. Kertas-kertas dari amplop coklat besar dikeluarkan, dibagikan kepada tiap anak yang kali ini duduk satu meja satu orang.
Hening. Tak ada satu anak pun yang bercengkerama atau sekadar menoleh kepada temannya. Semakin hening ketika guru yang membagikan kertas tadi menunjuk jam tangannya sendiri dan berkata entah apa. Dia berjalan berkeliling melihat lembaran kertas semua anak. 

Ah, membosankan. Aku hanya melihat beberapa anak menggaruk kepalanya padahal mungkin saja kepalanya tidak gatal. Anak lainnya menguap panjang. Ingin rasanya ikut menguap agar rasa bosan ini terbuang jauh-jauh. Ya, seandainya aku bisa ikut menguap seperti yang lain.

Sabtu, 28 Juni 2014 

Hampir setahun berlalu. Tak terasa. Rasanya baru kemarin aku berada di ruangan yang penuh dengan anak-anak hebat. Mereka selalu datang dan pergi setiap harinya. Sedangkan aku, tak pernah beranjak sejengkal pun dari tempat aku berada kini.

Suasana hening yang membosankan setengah tahun lalu adalah momen ketika mereka sedang mengerjakan ulangan akhir semester. Sebuah momen yang menurutku tak akan pernah mereka lupakan. Susananya, pikiran yang penuh, pengawas yang selalu berdiri tegak dan berkeliling ruangan, tas-tas berbaris rapi di depan ruangan.

Kini, kenangan hampir setahun lalu itu akan berakhir. Hari ini para orang tua berdatangan ke sekolah. Masuk dengan khidmat ke dalam ruangan. Mereka mengenakan pakaian terbaik, wewangian, dan beberapa orang tua membawa serta anak lainnya yang masih bocah. Suasananya meriah. Hangat. Aku merasa momen inilah yang paling aku suka.

Selasa, 5 April 2016

Hari semakin gelap. Azan Isya sudah lama berkumandang. Hujan semakin deras mengguyur bumi yang gersang, menimbulkan gemercak ketika jatuh menimpa atap. Biasanya aku sudah terlelap atau dimatikan pada jam-jam segini. Tumben. Aku masih bisa melihat seisi ruangan dengan jelas. Terang benderang malahan.

Rasa heranku bertambah setelah anak-anak mulai berdatangan masuk ruangan. Ada apa gerangan? Apakah malam ini ada belajar tambahan? Atau ada sesuatu yang mendesak sehingga anak-anak dikumpulkan semalam ini? Lagi pula mereka berpakaian begitu rapi, bukan pakaian seragam seperti hari-hari biasa. Dengan mengenakan koko, bersarung, dan berkopiah semua anak laki-laki berada di bagian kanan ruangan. Sedangkan anak perempuan berada di bagian kiri mengenakan jilbab putih-putih.

Pada jam yang sudah disepakati akhirnya ruangan menjadi temaram. Hanya berkas cahaya dari proyektor menjadi penerang ruangan. Lamat-lamat lantunan ayat Alquran diperdengarkan dilatari oleh salawat dari seluruh anak dan guru yang hadir pada saat itu. Selang beberapa lama, seorang guru mulai memberikan beberapa wejangan dan muhasabah. Semua tertunduk. Mata terpejam. Perlahan anak-anak itu terisak. Tubuhnya berguncang menahan perasaan mengharu biru.

Penentuan di akhir masa sekolah seminggu lagi. Berbagai cerita dan kisah romansa kelas Ghost mengelebat di benak. Potongan-potongan rekaman masa lalu seperti adegan film yang diputar ulang. Kenangan bersama sahabat, bergandengan tangan dalam suka dan duka. Guru-guru yang tak lelah mendidik mereka, memberi kesan mendalam, memberi inspirasi yang terpatri kekal dalam ingatan.

Selasa, 17 Mei 2016

Lembaran-lembaran kertas berhamburan dilempar anak-anak. Mereka tampak bersorak, gembira tak terkira. Aku melihat mereka dengan perasaan terbang lepas, ikut merasakan kebahagiaan mereka. Akhirnya aku tahu, setelah tiga tahun menonton beribu kejadian kelas dengan anak-anaknya yang spektakuler, inilah akhir dari petualangan mereka. Akhir dari pengalaman belajar di sebuah sekolah manusia.

Kabar gembira dari seorang guru bahwa mereka dengan baik telah menempuh pengalaman belajar dan dinyatakan sebagai anak-anak yang berhasil dengan predikat “lulus”. Bukan selesai, teteapi babak baru kehidupan mereka segera dimulai. Kehidupan sebenarnya yang semakin keras dengan tantangan dan problematikanya.

Selamat aku ucapkan anak-anak Ghost. Aku tahu kalian bisa melihatku, namun tak akan pernah bisa mendengarku, tak akan pernah bisa memahami bahasaku. Namun kalian tahu aku selalu hadir kapan pun di ruangan ini. Aku bukan malaikat, tapi aku merekam semua momen yang terjadi di ruangan ini.


SELESAI


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day19
#Fiksi

6 comments:

  1. Kang, aku itu cctv?
    Gegara judulnya, saya udah was-was loh kang, tak kira aku ini ghost-nya. Hiii... tapi setelah dibaca kelanjutannya, bukan. Hingga akhirnya saat 10 oktober 2013, ah, si aku ini cctv? Eh, bener gak si Kang?
    Di luar rasa penasaran itu, seperti biasa, tulisannya Kang Yan mah udah keren ajah. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, cctv. cerita ini diambil dari sudut pandang cctv, hahaha ...

      makasih Mbak Nia :)

      Delete
  2. Keren.selalu panjang dan enak dinikmati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah, makasih Mbak Wid. Berkat Mbak Wid juga

      Delete
  3. Awalnya pnasaran, aku kira critanya agak sdokit mistis. Dan waw luar biasa salfok. DAn keren mas dwi... Jmpol bgt dah ah👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, alhamdulillaah.. makasih makasih

      Delete