:::: MENU ::::

: Prosa Liris

Aku selalu mencari berbagai barang antik. Semacam harta karun. Bisa dibilang seperti itu.
Setiap harinya aku menatap hari dengan kesenangan,
karena keyakinanku bahwa harta itu akan selalu didapat jika kau berusaha.
Entah sampai kapan pencarian ini berakhir. Sampai malaikat izrail menghampiriku,
atau menghampiri dirimu, kau! yang membaca tulisan ini. Bisa dibilang seperti itu.

Bayangkan saja oleh dirimu, barang-barang itu tergeletak begitu saja.
Aku hanya butuh melangkah sekali dua kali. Terkadang secara tak sadar aku tersandung.
Apa itu?
Sebuah benda. Dan itu sangat menarik bagiku, sangat berharga. Dengan barang-barang itu,
aku tetap bisa tersenyum, setidaknya aku tetap bisa menikmati secukil nasi dan secuil ikan asin.
Betapa indah hidup ini, Kawan. Aku yakin, kau tak sanggup menikmati
kenikmatan yang kurasakan. Bisa jadi kau terlalu mencintai dunia. Jadi tak pernah puas
akan apa yang kau miliki.

Anehnya, ini sungguh-sungguh aneh bagiku, kenapa orang-orang selalu menutup hidung
ketika aku melewatinya. Kenapa? Kau tahu kenapa, bisa bantu aku menjawab?

Aku tak pernah merasa malas. Kau tahu itu, Kawan.
Bahkan sebelum orang-orang pergi ke masjid, pada pagi buta,
aku sudah melangkah bekerja. Dan kau, kau mungkin yang termasuk ke dalam
golongan mereka. Mereka yang selalu berkata cuih! jika aku lewat.
Atau kau tidak pernah berkata seperti itu,
tetapi selalu membuang muka.
Atau, kau tidak membuang muka.
Ya, bisa saja kau tidak berkata cuih! dan tidak membuang muka.
Tetapi kau akan berkata di dalam hatimu, bau, dasar sampah! tiap hari bawanya sampah.

Bukan hanya kau! Adikmu, kakakmu, orang tuamu, istrimu, teman-temanmu, 
teman dari teman-temanmu, saudara-saudaramu!

Bahkan adikmu selalu senang melihat orang gila, dan menganggap mereka sampah.
Jika melihat orang gila, sambil melompat-lompat dan bertepuk, mereka akan menyanyi:
Nu gélo mawa runtah! Nu gélo mawa runtah! Nu gélo mawa runtah!
Tak mau kah kau menasihati adikmu, bahwa itu akan menyakiti perasaanku, dan perasaannya.
Atau kau juga malah senang dengan kelakuan adikmu. Kau menganggapnya lucu.

Aku muak dengan kalian semua!
Muak!

Setiap kalian bersenang-senang di tempat keramaian kau selalu menyisakan kotoran.
Setiap kali mengadakan seminar-seminar, kau akan membuang kotoran.
Setiap kalian berorasi, tentang perubahan iklim, tentang harga-harga yang terus meroket,
tentang kenaikan upah, seakan-akan kalian sangkuriang yang bisa membawa 
perubahan di negeri ini dalam satu malam,

tapi kau hanya menyisakan kotoran! Kau akan selalu membuang sisa-sisa tanpa pernah 
peduli mau diapakan kotoran itu, tanpa pernah berpikir bagaimana cara mengurangi
kotoran-kotoran itu, atau setidaknya memilah mana sisa-sisa dari alam, mana sisa-sisa
hasil produksi dari pabrik kimia

yang bagiku adalah harta karun, 
yang bagiku sangat berharga,
yang bagiku tetap bisa tersenyum, setidaknya 
aku tetap bisa menikmati secukil nasi dan secuil ikan asin.


#OneDayOnePost

2 comments:

  1. sedih jadinya,di daerahku banyak anak-anak bawa karung pagi-pagi macam ini. jadi miris sendiri lihatnya..

    ReplyDelete
  2. aduh meni nalangsa macana eung :'(

    ReplyDelete