:::: MENU ::::

SEPEDA

Matahari belum menyembul juga. Padahal jalanan sudah ramai, padat merayap. Ternyata dia masih bersembunyi di balik pegunungan Manglayang. Sehingga membuatku gemeretuk. Menggigil. 

Kayuhku terus mencoba mengusir rasa dingin yang menusuk. Sesekali jalanan menanjak landai. Kupu-kupu berkejaran. Bunyi rantai beradu dengan gear memberi rasa senang yang tak bisa dijelaskan. Coba rasakan sendiri. Alam ini begitu indah. Waktu seakan berjalan melambat. Kau tak akan pernah merasakannya. Kecuali kau lakukan sendiri.

Di tengah deru raja jalanan, motor mobil yang melaju dengan kecepatan penuh, aku tetap mengayuh. Tak terpengaruh dengan bising dan kepulan asap. Memangnya mau kemana mereka? Seperti dikejar makhluk tak kasat mata saja. Atau sedang mengalami teror, apa pun yang terjadi, pokoknya harus melaju kencang. Sekencang-kencangnya.

Apakah jika mereka melambat dunia ini akan mundur peradabannya? Atau, apakah jika kita semua melaju kencang di jalanan, negeri ini akan menjadi hebat dan berada di barisan terdepan?

Aku ingin selalu menikmati alam ini, dengan waktu yang semakin melambat. Kring, kring ...!


-ooOoo-

MOBIL SPORT

Konon katanya ada seorang pembantu negara, abdi negara, entah apa namanya sekarang. Aparatur sipil negara (mungkin). Mengenakan seragam cokelat-cokelat. Bersepatu hitam mengilap. Tugasnya mengabdi kepada negara, melayani masyarakat. Iya toh? Kan mereka dibayar dari hasil keringat orang-orang di negeri ini.

Konon katanya mereka juga disumpah (dengan nama Tuhan lho). Sebuah sumpah jabatan dengan tangan terbuka, bukan dengan lambaian tangan. Konon katanya mereka berjanji akan melaksanakan tugasnya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab. Konon katanya juga mereka akan bekerja dengan jujur dan penuh semangat untuk kepentingan negara. Katanya.

Pada sebuah pagi yang berawan, meluncur sebuah Mitsubishi Xpander GLX M/T, abu-abu metalik. Melaju perlahan. Lalu menepi di parkiran, sebuah supermarket ternama di kota itu. Masih berseragam cokelat-cokelat, seorang pria berjalan santai. Menuju sebuah restoran cepat saji.


-ooOoo-

SPUTNIK

Anak-anak berlarian. Berhamburan dari dalam kelas menuju lapangan. Berisik. Saling dorong agar tidak berdiri pada barisan paling depan. Topi-topi mulai terpasang di kepala mereka. Lalu sabuk hitam, kaus kaki putih, sepatu hitam, dan merapikan seragamnya.

Satu gerombolan anak menahan lajunya. Diam di tempatnya. Tidak berani melangkah bergabung dengan teman-temannya berbaris di lapangan. Tidak tampak dasi abu-abu yang terpasang di leher baju putihnya. Dasi mereka digenggam cemas. Melirik kesana-kemari. Takut-takut ada guru BK yang memergokinya. Ih, bantu aku sih. Pasangin dasi ini di bajuku.

Rehat setelah seharian mengajar di sekolah kabupaten. Teh tawar hangat sudah tersuguh di atas meja. Bersama biskuit kalengan yang dibeli tadi pagi di warung Mak Ijah. Siaran televisi menyiarkan berita teknologi terkini: Dubai akan membangun pencakar langit Burj Khalifa jilid II; pesawat ulang-alik Russia, Sputnik RS-28, akan memulai misi pengamatan bintang Proxima Centauri.

Lalu, pikiranku bertanya-tanya "kapan anak-anakku bisa turut serta menjelajah ruang angkasa?"




#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day17
#Fiksi

1 comment: