:::: MENU ::::

Apakah perpisahan selalu menyisakan kesedihan? Ketika kita bertemu bersama, lalu pada saat waktunya berpisah, apakah selalu dibarengi oleh air mata? Apakah semua orang merasakan hal yang sama, selalu ingin bersama dan tidak ingin berpisah satu sama lainnya?

Satu minggu saya berada di kota kelahiran, kota tercinta yang selalu menghadirkan sejuta pesona, Bandung. Satu minggu itu pula saya bertemu dengan orang tua tercinta. Bertemu dengan kakak-kakak dan adik-adik. Bertemu dengan teman yang sudah lama tidak bersua. Sangat lama.

Bandung bagiku adalah sebuah tempat yang selalu memesona, selalu membuat saya menjadi manja, seberapa pun macet dan semrawutnya di sebagian jalan-jalan raya. Bandung bafiku membuat diriku selalu ingin wisata kuliner, menikmati setiap sudut-sudutnya, selalu ingin mengobrol ringan penuh canda tawa sambil ngopi bareng di sebuah cafe. Membuat diriku selalu ingin bngun lebih lambat, dan baru mandi menjelang tengah harinya.

Apalagi setelah bertemu dengan orang tua. Rasanya, setiap detik dan setiap saat kami hanya ingin mengobrol di ruang tengah, sambil tertawa-tertawa menyaksikan tingkah konyol Sule dan Andre di salah satu stasiun TV swasta. Tak ada obrolan berat. Tak ada obrolan gaya mahasiswa atau aktivis LSM yang penuh orasi. Paling sering kami hanya membicarakan kenangan masa lalu, masa-masa yang penuh konflik, namaun begitu nyaman untuk ditertawakan.

Obrolan seputar makanan, obrolan lantai keramik yang sudah berlubang, obrolan kondisi kesehatan yang mulai menurun. Tapi obrolan-obrolan itu selalu membuat kami bahagia, selalu membuat kami tertawa lepas.

Lalu saya berpikir, sesederhana itukah kebahagiaan didapat?

Dan, ketika waktu satu minggu selesai karena saya memiliki tanggung jawab lain di luar kota, pertemuan kami harus diakhiri. Saat-saat itulah ada perasaan sesak yang (kalau saya bisa atur alam ini) tidak ingin saya rasakan. Saat-saat itulah saya ingin menghentikan waktu, sampai saya menginginkan menjalankannya kembali.

Mungkinkah?

Tentu saja tidak! Waktu terus berputar. Ketika kita alami hari ini dengan kelelahan dan kekecewaan, di lain waktu kemudian, pasti kita akan tertawa mengenangnya. Tidak bisa waktu diputar ulang. Tidak bisa kita memaksakan waktu berhenti, dengan teknologi super canggih sekali pun.

Apakah perpisahan selalu menyisakan kesedihan? Tidak juga. Mengambil dari kata-kata Surayah alias Pidi Baiq, perpisahan itu tidak menyedihkan. Tapi yang menyedihkan, jika sudah berpisah kita saling lupa.

Ketika kita bertemu bersama, lalu pada saat waktunya berpisah, apakah selalu dibarengi oleh air mata? Tidak juga, jika kita paham bahwa pertemuan itu selalu sementara. Selalu! Karena dunia ini fana, dunia ini tidak akan kekal, tidak abadi.

Apakah semua orang merasakan hal yang sama, selalu ingin bersama dan tidak ingin berpisah satu sama lainnya? Malah sebagian besar orang memilih berpisah. Karena dengan adanya pemisah jarak dan waktu, rasa rindu kita akan bertambah dan tumbuh menjadi sesuatu yang baik. Karena dengan berpisah, sebagian orang malah lebih sering mengingat, merindukan, dan mendoakannya ketimbang setiap hari bertemu.

1 comment: