:::: MENU ::::


BOLPOIN

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bolpoin berarti pena yang bermata bulat (tumpul) yang dilengkapi dengan tinta kental di tabung; atau pena bola. Tapi menurutku bolpoin adalah benda setengah nyata setengah gaib.

Aku sepakat dengan KBBI benda itu mempunyai tinta di dalamnya. Dan keyakinan lain bahwa itu bisa kupegang. Berarti nyata. Anehnya bolpoin berada di dalam peganganku ketika tintanya penuh. Setelah tintanya tinggal setengah atau sepertiga, tiba-tiba dan di luar akal pikiran, alat menulis terpenting semasa sekolah itu hilang. Raib, entah kemana.

Gaib. Ya, bolpoin adalah benda setengah gaib. Sia-sia ketika aku berusaha untuk memberi label di sisi pembungkusnya: milik Dekita Lestari. Anggapan awal bahwa tulisan itu merupakan cara jitu untuk mempertahankan bolpoinku sampai tintanya habis, ternyata salah. Salah besar.

Hanya selang waktu seminggu saja, benda setengah nyata itu akan kembali raib. Hilang entah kemana. Terang saja aku ngamuk. Teriakanku di ruang kelas, woi, siapa yang ngambil bolpoin punya gue, hah? hayo, ngaku!, hanya dijawab suara kentut di pojok ruangan. 

Lalu, aku menemukan sebuah benda hitam panjang bermata bulat yang dilengkapi tinta kental di atas lantai tepat di bawah meja Si Estri. Bagian sisi pembungkusnya tertempel label, milik kita estri, dengan coretan pada huruf De, L dan a.


BANGKU

Kata orang-orang, masa sekolah adalah masa yang terindah dan tak akan pernah terlupakan. Masa-masa ketika remaja merasakan getaran cinta pertama kali. Masa-masa ketika adrenalin membuat mereka berani melakukan apa pun, berpetualang, dan mencoba hal-hal yang tak pernah dilakukan sebelumnya.

Dan bagiku masa-masa itu adalah masa dimana rasa iseng dan jahil merajalela. Jika kau bersekolah, pasti pernah mengalaminya. Anak-anak iseng itu biasanya bergerombol. Satu orang membawa kain sarung. Satu orang lainnya sengaja mengajak ngobrol anak yang menjadi target --agar perhatiannya teralihkan.

Sekonyong-konyong kain sarung itu ditutupkan di atas kepala sehingga si korban tidak bisa melihat apa-apa. Ramai-ramailah anak iseng, jahil, kurang kerjaan itu memukuli kepala si korban --anak yang malang. Setelah selesai, anak itu ditinggalkan begitu saja. Jadi si korban tidak bisa menunjuk orang-orang yang iseng bin jahil tadi, karena dirinya tak bisa melihat siapa saja yang memukulinya.

Keisengan paling hakiki adalah anak yang "hobi" menyimpan permen karet bekas dikunyah. Dengan cara super kreatif dan cerdas, anak itu menempelkan permen karet di atas bangku yang biasa kududuki. Agar tidak curiga, si anak kurang ajar itu menempelkannya di sela-sela lubang kecil bangku. (bangku zaman old pasti mempunyai lima lubang kecil di atasnya, entah kalau bangku zaman now)

Hari naas itu terjadi. Aku duduk tanpa ada sangkaan apa pun. Beberapa waktu aku tersadar ada yang tidak beres dengan celana abu-abuku. Ada sesuatu yang lengket menempel. Benar saja, anak kurang ajar itu menjahili diriku. Apes. Permen karet itu menempel seperti direkatkan dengan lem super. Tak akan pernah hilang, dan bekasnya masih ada, terasa sampai sekarang.


GORGOM

Putih abu-abu. Masa dimana kita merasa bisa melakukan hal apa pun. Menjahili teman, membolos naik tembok belakang, pertama kali mengendarai mobil, lebih memilih nonton sepakbola di stadion daripada ikut ujian tengah semester. Termasuk memberi julukan kepada guru.

Semasa sekolah, ada seorang guru Bahasa Indonesia yang terkenal sangat galak. Tubuhnya tinggi besar, kulitnya setengah legam, rambutnya kribo khas orang kebanyakan dari Indonesia bagian timur.

Dasar anak iseng bin jahil kurang kerjaan, mereka memberi julukan "Gorgom"! Iya, Gorgom. Kau tahu Gorgom?

Kalau kalian hidup di masa film "Ksatria Baja Hitam", pasti mengenalnya. Dia adalah musuh utama super hero asal Jepang itu. Monster dengan perawakan yang mirip, sebelas dua belas dengan guru Bahasa Indonesia tadi. Dan jahat.

Inilah hal yang sungguh kusesali, karena aku pun menjulukinya seperti itu. Jika beliau membaca tulisan ini, aku ingin meminta maaf. Karena kini, ketika menjadi seorang guru, selalu saja anak-anak didikku akan kabur, berlarian, begitu melihat diriku keluar dari kantor menuju kelas. Mereka seakan melihat makhluk gaib yang sangat menakutkan.

Dalam hati aku berkata, memangnya saya monster apa? kenapa kalian berlarian begitu melihat diriku?


SELESAI


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day25
#Fiksi
#KisahDiSekolah

9 comments: