:::: MENU ::::
bulan, supermoon, moon, one day one post

Lia begitu senang malam itu. Dia melompat-lompat kecil. "Ma, Mama lihat" 

"Ada apa Sayang?" Mama Lia berjongkok mendekatkan tubuhnya.

"Lihat Ma bulannya ada dua?"

"Masa bulannya ada dua?"

"Iya, benar deh Ma." Terlihat benda bulat kemerahan di atas langit.

"Bulan itu hanya ada satu. Lia salah lihat kali," sambil mengusap lembut rambutnya, mama berusaha meyakinkan.

"Ih, masa Mama mah gak percaya," wajahnya ditekuk. Manyun, "Kata Bu Guru jadi anak gak boleh bohong. Jadi Lia gak mungkin bohong, Ma."

"Iya, Mama percaya kok Lia gak pernah bohong. Tapi, tetap saja bulan itu hanya satu, Sayang."

"Uh, sebel deh." Langkah-langkah kecilnya terdengar menghentak. Lia masuk rumahnya tanpa menoleh ke arah mamanya.

***

Ting, tong!

"Horee, Papa pulang, Papa pulang!" dari dalam kamar Lia berlari langsung memeluk ayahnya.

"Heuup ...!" tubuh anak kecil diangkat setinggi mungkin, "duh, anak Papa berat amat sih. Lia sudah tambah gede ya."

Lia tertawa terkekeh senang.

"Pa, Papa, tadi Lia lihat bulan lho."

"Oh, ya?"

"Iya, dan bulannya ada dua," jari-jari tangannya dilipat, menyisakan jari telunjuk dan jari tengah.

"Masa sih? Tadi di luar Papa lihat bulannya besar banget."

"Tuh, iya kan ada dua Pa? Pas tidur di rumah nenek, Lia lihat ada bulan. Tadi juga Lia lihat lagi bulan di luar rumah Pa."

"Hmmm, tapi kalau kata Papa, bulan itu hanya satu Lia." jari telunjuknya terangkat.

"Ih, dua Pa. Bulannya ada dua." Lia setengah merengek. Tapi jari telunjuk papanya tetap terangkat.

Wajah Lia kembali ditekuk. Cemberut. Dia memukul-mukul dada papanya. Memberontak, minta untuk diturunkan dari pangkuan papa. Begitu terlepas, dia berlari sekencangnya. Membanting pintu kamar.

Kenapa sih mama sama papa gak percaya, kalau bulan ada dua. Aku kan gak pernah bohong. Tapi kenapa mereka tetap gak percaya. Andai ada peri yang bisa membawa papa dan mama ke bulan, biar semua percaya bulan ada dua ....

***

Malam itu Lia tertidur gelisah. Matanya terpejam, tetapi pikirannya melayang-layang tidak karuan. Dia masih teringat kepada papa mamanya yang tidak percaya bulan ada dua. 

Tiba-tiba di luar jendela muncul sinar sangat terang.

Lia mengerjap-ngerjap, mengucek matanya. Matanya membelalak, tidak percaya apa yang dilihat. Seekor kuda putih bertanduk, terbang mengitari jendela, lalu masuk ke dalam kamar.

"Si, siapa kamu?"

"Jangan takut Lia. Aku Equus Caballus, kuda phoenix yang dikirim dari dunia dongeng."

"Kau tahu namaku?" tubuh Lia masih gemetaran.

"Tentu saja. Ayo, naik ke punggungku. Kau akan aku bawa terbang ke langit, pergi ke bulan."

Akhirnya Lia naik ke atas punggung kuda putih itu. Di kanan kirinya terdapat sayap yang dapat membentang. Sekali mengibaskan sayapnya, kuda itu terbang tinggi melesat ke angkasa.

Lia senang sekali bisa terbang naik kuda phoenix. Dari ketinggian dia melihat rumah-rumah begitu kecil. Seperti rumah mainan. Matanya tidak bisa berhenti melirik kesana kemari, saking senangnya. 

"Itu rumah papa mama. Eh, itu ada lagi rumah nenek aku. Kelihatan juga dari sini."

"Nah Lia, lihat di bawah sana. Kamu bisa melihat rumah orang tua kamu kan? Kamu jiga bisa melihat rumah nenek?"

"Iya, kecil banget deh."

"Sekarang lihat ke atas sana."

"Lho kok bulannya cuman satu?"

"Bulan yang kamu lihat di rumah nenek dan bulan yang kamu lihat di rumah orang tua kamu, bulannya sama saja, itu-itu juga."

"Jadi?"

"Bulan itu hanya satu Lia. Karena bulan itu sangat jauh jaraknya, dan kamu melihat dari berbagai tempat, jadi tampak seperti ada dua, padahal bulannya sama."

Lia mengangguk-angguk. Pikirannya ingat pada papa dan mama.

"Berarti selama ini papa dan mama benar ya? Aku saja yang menyangka bulan itu ada dua." Wajahnya semakin berseri, "kalau begitu besok pagi Lia harus meminta maaf, karena Lia yang salah.

"Anak pintar."

***

Harum masakan mama selalu menggoda. Aromanya sampai ke kamar tidur Lia. Bergegas anak itu turun dari tempat tidur, lari menuju ruang makan.

"Pa, Ma, Lia semalam diajak jalan-jalan."

"Oh ya? Diajak jalan-jalan sama siapa Sayang?" Mamanya mendengar penuh perhatian.

"Lia diajak sama Equus Caballus, terus diajak terbang pergi ke bulan."

"Terus, terus?"

"Ternyata Lia selama ini salah. Bulan itu ternyata hanya satu, persis kata Mama dan Papa kemarin malam."

"Jadi, bulannya ada berapa Sayang?" Papa ikut nimbrung di meja makan.

"Ada satu dong Pa."

Akhirnya, Lia tahu bulan hanya satu. Bulan yang dilihat di rumah nenek dan di rumah orang tuanya adalah bulan yang sama.


SELESAI



#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day24
#Fiksi
#Fabel

6 comments:

  1. Huah... lagi, cerpennya keren kang.
    Mau juga dong terbang dengan Equus Caballus ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayu, sekali2 penghuni Mars jelong2 ke bulan

      Makasih..

      Delete
    2. InsyaAllah Pak Guru ^_^
      Ayooo... berkumpullah imajinasi agar kau dapat jelong-jelong ke bulan :D

      Delete
  2. Bulan itu ada 13 kalik. 1 di langit, 12 di kalender. Wkwkwk...

    ReplyDelete
  3. Nuansa yang sangat manis antara ayah, mama dan anak. Sukaaaa

    ReplyDelete