:::: MENU ::::

Hujan. Kenapa selalu membuat hati manusia menjadi melankolis. Beribu puisi telah ditulis bersama hujan. Beratus judul buku diterbitkan dengan latar belakang hujan. Bahkan novel Tere Liye yang fenomernal tercetak jelas, hanya satu kata dengan judul hujan.

Sama seperti siang ini. Hujan, turun tanpa malu-malu. Dalam sekejap mata membuat genangan besar di lapangan itu. Lapangan tempat kita saling melepas rindu. Lapangan dengan rumput hijau dan tanah liket menjadi saksi awal pertemuan kita menaruh asa.

Ah, dimana sekarang dia berada? Sedang apa pria bercambang lebat itu di siang berhujan ini? Apakah dirinya sama denganku, selalu menyimpan rasa rindu pada apa yang telah kita janjikan dulu, ketika kau akan pergi jauh, menjaga perbatasan negeri ini?

Duarr!

Suara kilat begitu keras. Degup jantung mengencang, membuyarkan lamunanku akan sahabat yang telah lama pergi. Aku rapikan kembali jilbab yang membungkus tubuhku. Aku seka pipi yang tak sadar telah basah.

Ish, apa ini, secarik kertas terjatuh dari buku diary usang yang terjatuh dari rak buku. Bagas Pradana Triyadi, tulisan tangan yang sudah memudar tercetak dengan tinta biru. Deg! hatiku langsung berdegup. Tanganku menjadi gemetar, entah kenapa. Pelan-pelan aku rapikan lipatan-lipatannya. Di sana ercetak tulisan tangan lainnya, don't forget me, ... dengan dua belas digit angka nomor telepon.

***

Jalanan cukup lengang untuk hari libur panjang bagi sebuah ibu kota kabupaten. Matahari semakin condong ke ufuk barat. Hanya satu dua mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Sisanya kendaraan roda dua yang semakin merajalela di jalanan.

Sekilas aku melirik cermin spion mobil. Kacamata bulatku begitu modis. Mungkin semua orang yang tahu fashion akan mengaguminya. Angkutan umum yang kutumpangi terus melaju membelah jalanan daerah Balaraja, salah satu pusat keramaian di Kabupaten Tangerang. Perpaduan kerudung merah maroon, blouse abu-abu terang, celana katun biru langit katun bergaya hawaii dan sepatu putih, membuat mata tak lelah memandangnya. Langkah panjang membawa diriku ke sebuah café.

Sejenak memastikan pesan di gawai yang aku terima tiga hari lalu, oke, kita ketemuan di Kabitalogy café ya,... @4pm. Lalu melirik ke kedua ujung jalan, memastikan tidak ada lagi café di sekitarnya.

Ah, pasti ini tempatnya. Hmm, kayaknya tempat ini nyaman banget. Aku membatin. Setelah memastikan pakaian rapi dan bersih, aku bergegas duduk tepat di pojok kanan pintu masuk.

"Selamat sore, mbak," seorang pelayan menyapa ramah, "silakan ini menunya."

"Sore juga. Oh oke, saya tunggu teman sebentar ya, mbak."

"Silakan, silakan mbak santai saja. Kalau sudah ada pesanan tinggal panggil saya saja."

Aku mengangguk, berusaha tersenyum seramah mungkin, "atau ada yang mau diambilkan untuk minuman pembukanya."

"Boleh. Saya minta kopi hitam saja."

Deretan sofa dari tong drum bekas didesain sangat elegan. Drum dalam posisi "tidur" dibelah menjadi dua bagian, membentuk setengah silinder. Bagian yang rata berada di bawah, sedang  bagian yang melingkar dipotong lagi seperti irisan. Diangkat sebagai sandaran kursi. Lubang yang menganga karena irisan tadi diberi busa sebagai alas duduk.

Wuih, daftar menunya membuat keroncongan perut siapa pun yang datang ke sini. Sederhana. Namun tetap disajikan dengan high class, bahan-bahan kualitas nomor satu, tanpa membuat isi kantung terkuras.

Oke, di sini ada nasi dan ayam berbagai varian. Roti, pisang, macam-macam kopi, minuman jus, martabak mini, dan Indomie. Widih, kece banget, asupan favorit para mahasiswa ada juga.

Sambil sesekali mengamati layar gawai --mungkin ada pesan masuk atau panggilan telepon-- aku coba mencari menu yang pas untuk sore berhujan ini. Indomie goreng saus tiram, kornet, isi sosis, kari ayam spesial atau Indomie keju yang menjadi menu khas Kabitalogy café ini.

"Maaf mbak, silakan kopi hitamnya. Selamat menikmati."

"Oh, iya. Terima kasih."

"Jika masih lama menunggu, di meja bartender tersedia buku-buku novel. Boleh dibaca."

"Wah, benar Mbak."

Pelayan itu mengangguk ramah, "dan gratis ...!" tawa renyahnya menyiratkan keakraban yang tidak dibuat-buat.

Lampu tungsten mulai mendominasi cahaya di ruang café ini. Senja semakin merayap. Udara di luar mendingin dan semakin temaram. Aku mendekati meja bartender, memilah-milah buku novel yang sekiranya pas menemaniku bersantap.

Satu porsi Indomie rica-rica akhirnya menjadi pilihan menu utama. Lemon tea, pisang bakar coklat meses, dan martabak mini choco chips menjadi menu tambahan yang sangat serasi. Bayangkan saja, dengan empat menu yang kupesan, ditambah satu cangkir kopi hitam sebagai pembuka, aku hanya merogoh kocek tidak lebih dari empat puluh ribu. 

Soal rasa, jangan ragu-ragu, karena di café ini cita rasa nomor satu. Belum cukup di situ. Suasana hommy, fasilitas free wifi, buku bacaan novel, perangkat bermain anak, dan ruangan yang dingin menambah betah pengunjung.

***

Jarum jam di dinding menunjuk angka tujuh. Ah, ternyata sudah larut. Bagaimana ini? Tak ada kabar sama sekali dari Bagas.

Aku benar-benar tak menyadari bahwa di sini keberadaanku sedang menunggu seseorang, sahabat yang lama tak bersua. Gerimis memang masih turun di luar sana. Tapi, bukan gerimis yang membuatku lupa akan janji seseorang yang akan datang.

Walaupun gerimis selalu membuat seseorang menjadi melankolis, membuat rasa rindu bermunculan, tapi tidak berlaku bagi diriku. Rasa rindu akan Bagas, seorang sahabat karib yang lama tak berjumpa, terkalahkan oleh sajian yang ada di sini. Waktu pun seakan berhenti melaju. Tak ada perasaan lain selain kenyamanan yang dihadirkan café ini, tempat nongkrong asyik yang menyajikan buku novel.

Boleh lah kapan-kapan kita bersua, rendezvous' di tempat ini, di Kabitalogy café.


SELESAI


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day26
#Kuliner
#Fiksi

3 comments:

  1. Indomie Rica Rica dan novelnya menggoda tuh..mau..

    Di mana ini alamatnya?

    ReplyDelete
  2. Jadi Bagas datang gak? Mau nitip tagihin utang gue.

    ReplyDelete