:::: MENU ::::

Sudah hampir tiga minggu Andar berada di hotel yang terletak di ujung selatan Jawa Barat itu. Rasa bosan dan jengah mulai menyerangnya. Kesibukan hanya di waktu tertentu --biasanya pada jam padat pengunjung-- membuatnya menghabiskan sisa hari hanya dengan mengobrol ringan dengan rekan kerja. Tempat favorit baginya adalah helipad hotel, yang letaknya paling atas bangunan berlantai delapan itu.

Tangannya masih memain-mainkan rokok filter. Masih setengah. Dari tempat itu, Andar bisa memandang megahnya Samudera Hindia, lautan yang seolah tak bertepi. Angin berhembus sangat kencang, membuat dirinya sangat nyaman, bisa melepaskan beban pikiran yang menghimpit.

"Ngapain, Ndar?" seorang pria seumuran menarik kursi di sampingnya, duduk bersebelahan.

"Biasa lah, Gun. Sore cerah kayak gini mah selalu asyik nongkrong. Damai banget."

"Enggak gabung sama yang lain, tuh lagi kompetisi voli di pantai."

"Enggak lah, malas. Saya kan bukan anak pantai," senyum simpulnya ringan. Selalu tampak akrab dengan siapa pun, "mending menulis cerita fiksi."

"Iya sih, pas banget kalau mencari inspirasi di sini."

Suara angin bergemuruh, melaju kencang dari arah lautan. Ombak mulai meninggi, menandakan tak lama lagi arus pasang akan tiba di pantai selatan itu. Sekali-kali cahaya putih berkelebat di horizon.

"Saya bosan, Gun." Mulutnya terbuka lebar, "hoaam! Kita pergi kemana yuk."

"Mau kemana?"

"Kemana saja, yang menantang gitu."

"Kita lihat kamar 308 aja, Ndar."

"Wah gila luh."

"Belum pernah kan?" Gungun yang terkenal perangainya yang suka nekat menantang temannya, "kapan lagi Ndar, mumpung kita masih tugas di sini. Nah, pas malam Jum'at tengah malam kita beraksi."

"Boleh juga," raut wajahnya meragu, "tapi ngeri euy. Gimana ya. Saya gak berani senekat itu."

"Sudah jangan banyak mikir. Ntar kita ajak juga si Wakhid. Siapa tahu kamu kesurupan."

"Hush, jangan ngaco ah." Semakin jelas ada rasa takut di diri Andar. Tetapi rasa penasaran mengalahkan takutnya.


***

Pantai selatan selalu menyimpan cerita-cerita mistis. Berbondong-bondong mereka datang ke sini hanya untuk membunuh rasa penasaran pada kisah-kisah itu. Jika kalian pergi ke daerah Sukabumi Selatan, tepatnya di Pantai Pelabuhanratu, kalian akan menemukan banyak kisah yang terkadang membuat bulu kuduk bergidik.

Nama Palabuhanratu --orang awam akan menyebutnya dengan Pelabuhan Ratu-- sendiri sudah menyimpan banyak misteri: tempat berlabuh sang ratu, yang tidak lain adalah Nyi Roro Kidul. Konon, di daerah itulah sosok mistis seorang perempuan anggun berpakaian serba hijau bersemayam.

"Sehari lagi Ndar, besok waktunya nih. Kamu yakin tetap mau ikut?" Gungun memastikan kawannya yang penakut itu turut serta.

"Duh, kayaknya badan saya kurang fit, Gun."

"Tuh, kan giliran mau beraksi saja, alasannya macam-macam," sambung Wakhid yang kali ini ikut dalam obrolan mereka berdua. "Saya bisa pastikan gak bakal terjadi apa-apa. Maenya sieun ku ririwi, ku bungaok,1) malah sama larangan Tuhan gak ada takutnya."

"Benar Khid. Ngapain juga saya cari alasan."

"Karena kamu takut Ndar, penakut." Gungun tertawa mengejek. Wakhid ikut terpingkal melihat wajah Andar memerah malu.

"Sudah gini saja. Kita sepakati besok jam sebelas malam sudah stand by. Tempat bertemunya di lobby lantai tiga, sebelum kita beraksi ke kamar 308 itu ya." Wakhid, dengan perawakan sedang dan wajah bersih menyeruput kopi yang mulai mendingin.

"Terus, Si Andar gimana?"

"Terserah, itu mah," menujuk Andar yang duduk terbungkuk, "kalau ikut kita tunggu di lobby."

***

Malam yang sudah disepakati tiba. Hawa dingin dari angin laut menerbangkan gorden di ruang lobby itu. Sebuah bangunan yang dibangun tahun 60an, sebagai hotel mewah pertama di negeri ini. Letaknya tepat di bibir pantai Palabuhanratu, diapit oleh dua pantai lainnya: Pantai Karang Hawu dan Pantai Citepus.

Aura mistisnya begitu terasa. Begitu menginjak lantai tiga, bulu kuduk langsung berdiri. Lantai ini tak pernah dijamah oleh siapa pun. Cahaya yang temaram, bahkan lebih mendekati gelap. Tidak ada petugas hotel, office boy atau para tamu yang bermalam. Hanya hari-hari tertentu saja beberapa orang berpakaian pangsi2) hitam-hitam mendatangi kamar 308, memberikan sesajen dan kemenyan yang dibakar di dalamnya. Kamar tempat Nyo Roro Kidul selama ini bersemayam.

"Lihat Gun!" Wakhid menunjuk sofa yang berada di lobby.

"Si ..., siapa itu?" dia terkaget melihat sosok yang duduk terpekur. Kepalanya tertunduk dengan tangan menahan dagu.

"Kayak Si Andar."

Perlahan mereka berdua mendekat. Mengendap, setengah ragu dan takut. Semakin mendekat, semakin perlahan langkahnya. Dengan hati-hati Wakhid mendekatkan tangannya ke pundak sosok orang yang duduk sedari tadi.

"Waaa ...!" bersamaan mereka teriak.

Tiba-tiba sosok itu memalingkan wajahnya. Sorot matanya tajam menatap mereka berdua.

"Andaar?!" setengah tak percaya Gungun meninju bahu temannya itu, "bikin kaget saja!"

Andar tersenyum. Tubuhnya tetap terpaku di atas sofa. Dan senyuman itu ....

"Kamu sehat kan Ndar?" dengan keheranan Wakhid menatap lekat-lekat temannya yang hanya mengangguk lemah.

"Katanya kamu tidak enak badan. Kok sekarang ada di sini, gabung dengan kita-kita?"

Dia masih tersenyum. Tak ada kata terucap dari mulutnya.

"Ya sudah, ayo kita langsung ke kamarnya." Dengan mengendap mereka bertiga berjalan beriringan menuju kamar 308, seperti yang telah direncanakan.

Pintu kamar tidak terkunci. Mereka dengan mudah memasukinya. Semakin perlahan, ketiganya memasuki kamar yang tersohor angker berpenghuni Nyi Roro Kidul itu. Wakhid dan Gungun tampaknya sungkan untuk masuk lebih jauh. Berbeda dengan Andar. Dia tampak melangkah yakin, mendekati lukisan besar.

"Lihat Kawan. Itu hanya sebuah lukisan." Andar berbicara seakan hanya melihat sebuah biasa.

"Kamu tidak merinding Ndar?" Wakhid yang selama ini terkenal ahli wirid, terkejut dengan sikap Andar. Padahal selama ini dia lah yang terkenal paling penakut.

Andar hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Di sana terlukis sesosok perempuan tinggi besar, dengan pakaian tradisional kebaya. Dari atas ke bawah motif kainnya serba hijau. Kepalanya bermahkota hijau, gelang dan kalung yang menghiasinya pun bermotif hijau. Hanya kakinya yang tidak beralas, menapak di atas sebuah ombak yang bergulung hebat. Rambut hitamnya tersibak lebar, menandakan angin kencang yang menyebabkan deburan ombak begitu tinggi.

Lalu sesajen tampak di bawah lukisan besar itu. Buah-buahan, kopi hitam, kemenyan yang dibakar, empat pasang dupa, bubur beras merah dan putih, tertata rapi disusun sedemikian rupa.

"Ayo, silakan dimakan." Andar mengambil gelas berisi kopi dan langsung menyeruputnya.

Kedua temannya terbengong-bengong.

***

Matahari pagi bersinar terang sekali, menyembul di batas horizon langit timur. Pantai Palabuhanratu adalah salah satu spot terbaik untuk melihat keindahan sunrise dan keagungan Sang Pencipta.

"Tumben Si Andar belum nongol. Kemana dia?"

"Mungkin kelelahan. Semalaman kan sudah begadang." Matahari pagi masih menyemburat hangat. Keduanya menikmati suasana pagi itu dengan secangkir kopi di tepi pantai.

Dari kejauhan terhuyung berjalan seseorang yang sangat mereka kenali.

"Gun, tuh Si Andar. Baru juga dibrolin."

"Ndar, kesini cepat!" Gungun melambaikan tangan ke arahnya, "kopi, keburu dingin!"

Dengan gontai sosok itu berjalan.

"Kamu kenapa Ndar?"

"Kan sudah saya bilang, saya kurang fit kemarin."

"Masih ngantuk ya, habis begadang semalaman?" kedua temannya berseloroh, "tapi aku salut sama kamu Ndar. Berani amat."

"Begadang apaan? Dari bedug Isya saya langsung ngeringkuk di kasur. Gak kemana-mana."

Mata kedua temannya melotot saling pandang.

"Jangan bercanda lah, jelas-jelas kamu yang duluan sampai di lantai tiga." Gungun meyakinkan dirinya.

"Ngapain bercanda pagi-pagi begini."

"Bohong luh" Wakhid mulai khawatir sekaligus takut.

"Enggak, aku gak bohong. Kan tahu sendiri kalian, aku bilang badanku kurang fit. Minum obat sakit kepala, langsung tidur sampai subuh tadi."

"Waduh!" Gungun menepok jidatnya sendiri, "berarti yang semalam bareng kita ... itu, itu siapa dong ...?"


SELESAI


1) Masa takut sama hantu, sama genderuwo

2) Pangsi, salah satu pakaian khas adat Sunda. Bentuknya seperti kameja, ukurannya sangat longgar, dengan panjang lengan hanya lebih sedikit dari siku. Filosofinya mencerminkan sifat terbuka serta gerakan yang luas.


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day23
#Fiksi
#Misteri
#PetualanganDiIndonesia
#Adventure

4 comments:

  1. Itu kembarannya Andar. Masa kalian gak kenal sih? Namanya Standar.

    ReplyDelete
  2. Merinding..
    Jadi sedan tuh menjelma menjadi sosok Andar?

    ReplyDelete
  3. Masa takut sama hantu, sama genderuwo

    Apa itu??? 😭😭😭😭😭 ngeri

    ReplyDelete