:::: MENU ::::

Jalanan padat. Petang menjelang, semua orang bergegas menuju ke rumahnya masing-masing. Jam kerja telah usai. Entah apa yang ada di benak orang-orang. Pagi berangkat ke tempat kerja. Sore pulang dengan keadaan sangat lelah. Kendaraan di jalanan itu hampir semua milik pribadi. Isinya hanya satu sampai dua orang. Membuat polusi semakin menjadi-jadi.

Padahal jika lebih peka, jika lebih dekat melihat keadaan sekelilingnya, mereka akan menemukan anak-anak jalanan berkeliaran. Hampir tak ada yang peduli.

Perempatan Juanda - Martadinata  salah satunya. Dimana bocah-bocah kumal saling berebut mendekati mobil-mobil mewah begitu lampu stopan menyala merah. Meminta-minta. Sebagian ada yang mengamen.

"Selepas Magrib kita adakan kelas lagi Nad." Pria bertubuh kecil itu membuka percakapan.

"Boleh, Bas. Materi apa yang mau dikasih ke bocah-bocah itu?" Perempuan di hadapannya balik bertanya, sambil satu tangannya mengusap rambut gimbal bocah di dekapannya.

"Kita ajak mereka ke Balaikota saja. Belajarnya sekali-kali di Taman Vivanda."

"Ide bagus tuh. Saya suka itu, Bastian!." Nadia, memiliki wajah bulat, berseri. Dia membetulkan kacamata yang melorot ke batang hidung karena rasa senangnya.

"Omong-omong, kamu sudah bertemu dengan bocah itu, Nad?" Bastian menyapu pandangan ke seberang jalan. Arah matanya tidak pernah bertemu dengan mata perempuan di hadapannya.

"Belum. Kata temannya dia sudah dua hari tidak tampak."

"Kamu khawatir dengannya?"

"Kasihan, satu matanya tidak bisa melihat," Wajah keibuannya begitu syahdu, "sedangkan orang tuanya benar-benar papa, bukan seperti mereka yang broken home, lalu lari ke jalanan."

"Kamu khawaitir Nad?" Pria itu mulai mencoba untuk memerhatikan wajahnya lebih seksama.

"Tentu saja, Bas." Wajah syahdu itu mendongak menatap Bastian. "Bayangkan saja itu adikmu sendiri. Apa kamu tak dapat merasakannya?"

Begitu menyadari Nadia menatapnya, dan pandangannya saling beradu, Bastian itu melirik ke arah lain. Gaya tubuhnya dibuat agar dia terlihat sedang merasakan apa yang dirasakan si wajah syahdu.

"Saya paham apa yang kamu rasakan. Hanya ingin memastikan saja bahwa dirimu baik-baik saja."

"Apa ..., apa maksudmu?"

"Eh, oh tidak. Tidak kok! Maksudnya saya ingin bertanya kepada temannya, memastikan bocah itu baik-baik saja." Bastian terlihat begitu kikuk. Apa susahnya juga bicara apa adanya, maksudku aku ingin kamu baik-baik saja. Nanti kita cari tahu keadaan bocah itu. Kamu jangan khawatir ya, Nad.

(Baca kisah sebelumnya: "Is This What's Called Romance")

***

"Woi, yang benar dong mainnya!"

"Terserah gue lah, tangan gue sendiri."

"Iya, tapi lu berisik, gak lihat apa, ini lagi motong papan. Ganggu saja."

"Gak usah sewot dong. Kalau gak ingin keganggu pergi sono, tuh kuburan tempatnya sepi."

"Apa lu bilang? Ngajak tibut ya?"

"Siapa yang ngajak ribut, situ duluan yang ...."

"Heh sudah, cukup!" Bastian muncul dari bagian belakang taman melerai, "kenapa selalu ribut seperti ini, hah. Urusan sepele saja dibesar-besarkan."

"Noh Si Gimbal yang mulai Bang. Saya lagi enak-enakan main gitar," kalimat bocah bermata juling itu dipotong oleh temannya.

"Apa?! Gak lihat apa gue lagi motong ...,"

"Berhenti! Diam semua!" nada suaranya membuat orang-orang di taman itu melirik ke arahnya, "sudah. Kalian itu saling berteman. Bisa kan saling menghargai."

"Kamu Dito," telunjuknya mengarah kepada bocah berambut gimbal, "sudah teruskan saja tidak usah urus orang lain lagi latihan gitar. Toh, taman ini banyak suara lain yang berisik."

"Dan kamu, Galang," kali ini Bastian menunjuk bocah yang memiliki mata juling, "gitar boleh punya kamu, tangan-tangan kamu juga. Tapi hargain juga dong Si Dito. Dia kan abang kamu juga. Latihanna nu bener, ulah sakahayang sorangan. Nyaho teu? 1)"

Sore itu belasan bocah berkumpul di sebuah taman. Suasananya cukup ramai. Beberapa bagian taman dilengkapi sarana bermain, bangku-bangku panjang tersedia di beberapa tempat, pepohonan besar dan rindang, kolam ikan, air mancur, sungai buatan, air terjun mini (buatan juga), bahkan spot yang instagramable.

Bocah-bocah dekil sengaja dikumpulkan oleh Bas (dan Nad tentu saja) dua kali sepekan, menjelang senja. Mereka diambil dari perempatan jalan. Bocah jalanan. Anak-anak yang seharusnya mendapat pendidikan dan kasih sayang dari orang tuanya. Bocah seusia belasan tahun, yang belum saatnya untuk mengenal dunia orang dewasa, kerasnya mengais sepeser uang di jalanan.

"Baik, perhatian semua!" Nad, si wajah syahdu, dengan seorang anak kecil di pangkuannya mencoba menarik perhatian mereka. "Kali ini kita akan belajar di taman."

Riuh rendah suara senang, tepukan tangan, gonjrengan gitar, dan alat musik pukul yang bertalu merespon ucapan Nad.

"Yup betul kata Kak Nad. Biar tidak jenuh ya, teman-teman." Bas menimpali, "biasanya kita belajar di ruang kelas Gelanggang Generasi Muda. 2)"

"Gitu dong, Bas!" sambil duduk di bangku, bocah dekil lainnya nyeletuk dengan enteng. Gitar ukulele dipetik asal.

"Hush! Jaga omongannya Rud. Panggil Kak Bas!" dengan mata melotot Nad menghardiknya.

"Oh iya maaf. Kak Bas ...."

"Dan, itu kakinya. Masa anak saleh seperti itu sikapnya."

Suara teriakan, huuu, sontak diarahkan kepada Rud, ketika kakinya pelan-pelan diturunkan dari atas kepala temannya. Dengan wajah bersungut, Rud, menuruti juga perintah Nadia.

Suasana seperti ini selalu terjadi. Anak jalanan itu berkumpul untuk menerima pelajaran dari dua remaja yang memiliki sedikit peduli terhadap nasib mereka. Putus sekolah, sudah pasti. Bukan saja karena mereka tidak punya biaya, tapi kebanyakan karena broken home di keluarganya. Banyak yang mapan. Banyak yang mampu secara ekonomi, tetapi mereka memilih jalanan sebagai tempat melampiaskan amarah karena merasa terasing dengan keadaan di rumahnya.

***

Azan berkumandang dari menara Masjid Al Ukhuwah, masjid yang berada di komplek Balaikota Bandung. Orang-orang mulai meninggalkan taman Vivanda itu. Lampu-lampu tungsten satu per satu menyala. Lampu berwarna-warni mulai menyala pula, sinarnya menghiasi air mancur yang didesain bisa menari, mengikuti irama lagu.

"Kamu lelah, Nad?" Bastian mencoba untuk menatap wajahnya. Butiran kecil tampak di dahi perempuan itu.

"Lumayan lelah." wajahnya selalu tersenyum, memancarkan aura positif.

"Saya senang kamu tampak bahagia."

"Iya. Sejak mendengar kabar tentang bocah itu, hati saya jadi plong, Bas."

"Syukur lah. Anak itu menemukan tempat yang semestinya. Walaupun tidak diasuh sama orang tua kandungnya, setidaknya dia bisa merasakan kasih sayang yang layak."

Bas melihat anggukan pelan Nad. Senyum bahagia masih menghiasi wajah bulat itu. Bas ikut tersenyum. Senang mendengar kabar bocah yang amat disayangi Nad. Senang bisa melihat Nad akhirnya ceria kembali. Bahagia karena saat itu dia berada disamping seorang perempuan istimewa dan memastikan Nad baik-baik saja.

Syukurlah, semuanya bisa berjalan dengan baik. Dan akhirnya Nad bisa menemukan dunianya kembali. Nad, mungkin suatu saat saya memastikan kamu selalu berada di samping saya. Suatu saat, Nad, saya akan berusaha selalu membuatmu tersenyum. Akan membuatmu selalu menangis ..., karena bahagia.

"Yuk salat Maghrib. Kita bergegas, Nad."

Matanya membulat. Ekspresi wajahnya begitu menggemaskan. Ah seandainya saya bisa menggandeng tangannya, ....



-ooOoo-



1) Latihannya yang benar, jangan semaunya sendiri. Mengerti tidak?
2) Gelanggang Generasi Muda (GGM) = gedung tempat berbagai komunitas di Kota Bandung


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day28
#Fiksi

4 comments: