:::: MENU ::::

Selalu saja ada hati yang tertinggal ketika kembali ke tempat ngumbara, tempat dimana kami mengais rezeki, menjemput sebagian nikmat yang diberikan Tuhan. Selalu saja ada rasa rindu akan tempat asal, ketika kesibukan yang begitu padat membuat penat seluruh badan.

Kalian pernah merasakannya?

Jika nasib kalian sama denganku --mengembara di tanah seberang--, pasti akan merasakan hal yang sama. Apalagi ketika hari raya tiba. Gelaran "pesta akbar" bernama mudik adalah keniscayaan. Mungkin hanya di negeri ini tradisi mudik tersaji. Tidak ada negara lain yang mempunyai tradisi yang sama.

Beratus ribu, bahkan berjuta orang ikut menyemut meramaikan tradisi ini. Memangnya kenapa, itu kan hanya tradisi? Toh, di waktu lain juga bisa? Kenapa harus memaksakan diri, bahkan sampai ada yang meninggal, hanya untuk sampai di kampung halaman? Konyol! Itu seloroh yang selalu aku dapatkan dari orang-orang "pintar" yang selalu mengandalkan logikanya.

Padahal di dalam tradisi mudik itu sangat banyak makna yang terdapat di dalamnya. Bahkan seluruh umat manusia di muka bumi ini, seharusnya merasakan bagaimana perjalanan mudik itu. Dan konon, kita semua adalah pengembara. Kalian tahu, bahwa saya, kalian, dan mereka adalah pengembara. Pengembara dunia. Dan kelak, pasti (haqqul yaqiin) akan mudik ke kampung akhirat.

Tapi tulisan ini tidak akan membahas tentang mudik. Saya hanya ingin bercerita tentang tempat saya berasal, tempat saya mudik. Lemah cai, dimana saya akan berpulang kelak, suatu saat nanti.

-ooOoo-

Kenapa disebut lemah cai, tanah air?

Sebagian besar tubuh kita terdiri dari air. Karena kita tercipta dari tanah, dan air yang kita minum adalah air dari bumi dimana kita berpijak. Lemah cai saya adalah sebuah kota kecil yang dikepung oleh pegunungan. Aki Ukan, kakek saya, pernah bercerita bahwa kota tempatku dilahirkan dulunya adalah sebuah gunung. (baca kisah selengkapnya: "Sanghyang Tikoro")

Kini, gunung purba itu telah berubah menjadi cekungan, mirip mangkuk, yang kini diisi oleh ratusan tahun, dengan hotel-hotel, mall, jalan aspal, gedung, taman, dan sungai. Suhu udaranya yang dingin disebabkan karena kota kelahiranku memiliki ketinggian 768 mdpl (tertinggi berada di sebelah utara 1.050 mdpl).

Dulu, orang-orang Londo menyebutnya Parijs van Java, kota Paris dari Jawa. Julukan yang membuat diriku terbang ke atas awan. Bangga. Sebagai kota mode, Paris menjadi trendsetter dalam dunia fashion. Apa yang terjadi di Paris, maka kota ini akan segera mengikutinya. Jauh melampaui ibu kota negara sekalipun.

Kesohoran nama daerah di Jawa Barat adalah selalu diawali oleh Ci-. Begitu pula tempat asal muasal diriku berada. Lihat saja nama-nama seperti: Cicadas, Cicaheum, Cikaso, Cibeureum, Ciwastra, Cibiru, Cikonéng, Ciparay, Cicendo, Cibeunying, dan masih banyak Ci-Ci lainnya.

Kenapa seperti itu?

Ci dalam Bahasa Sunda berarti air (berasal dari kata cai). Tanah-tanah di daerah ini memang banyak mengandung sumber air. Bahkan ratusan mata air tersebar merata. Uniknya, nama ci akan diikuti dengan kata lain yang menjelaskan air tersebut. Misalnya Cikonéng, --Ci, berarti air dan konéng artinya kuning--, mengandung arti bahwa air di daerah itu berwarna kuning. Airnya mengandung zat besi.

Nama lain seperti Cicadas, memiliki arti air yang bersumber dari batu cadas (batu kapur). Airnya sangat jernih dan melimpah. Kini, daerah itu telah menjadi salah satu tempat terpadat di dunia!

Kalian pasti akan mengenang kota tempat saya dibesarkan sebagai pusat kuliner, jajanan yang berlimpah dengan cita rasa tinggi. Mulai dari batagor, baso tahu, cimol, surabi, mie kocok, es cendol, peuyeum, tutug oncom, dan masih banyak lagi.

Dan di sanalah saya menyimpan setengah hati lainnya, agar kelak jika mulih ka jati, mulang ka asal, kembali ke asal mula, saya tidak akan tersesat menemukan tempat istirahat. Di sana ... di Kota Bandung.


-ooOoo-



#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day29
#WarisanSejarah
#Fiksi

6 comments:

  1. Huah ... Pengetahuan baru.
    Terimakasih Kang ^_^
    Mesti dicari juga nih, pengetahuan tentang kampung halaman.

    ReplyDelete
  2. Saya selalu ingin k Bandung, tapi belum berkesempatan 😥

    ReplyDelete
    Replies
    1. kuy lah, selalu ada kenangan yg tertinggal di sana

      Delete