:::: MENU ::::

Pemanasan dulu ah, sebelum menulis sebuah cerita pendek yang keren. Ceritanya ada salah satu penerbit, sebut saja Jejak Publisher, mengadakan event "Lomba Cipta Cerpen Nasional, dengan tema “Kenangan Bersama Kakek Nenek”.  Mata saya langsung melotot. Adrenalin saya langsung terpacu, merasa ditantang oleh penerbit yang concern dengan buku-buku inspiratifnya.

Saya memang ada niatan untuk mengikuti event ini, karena selama berada di One Day One Post Community, tulisan saya lebih banyak tulisan fiksi. Anggap saja iseng-iseng berhadiah, mengukur sejauhmana kualitas tulisan kita sendiri.

Ada perasaan puas ketika kita mengikuti sebuah lomba. Jangan pernah diawali untuk berpikir dapat juara atau hadiah. Karena juara atau hadiah itu hanya sebagai bonus, bukan tujuan utama. Ketika ketika menulis (apa pun tulisannya), niatkan untuk menulis seseuatu yang bermanfaat dan memberi pengaruh positif kepada pembaca. Jangan pula diawali agar tulisan kita mendapat pujian atau aplaus. Tidak semua pembaca akan memahami atau menyukai tulisan kita sendiri.

Omong-omong soal kakek-nenek (yang menjadi tema lomba kali ini), pasti kalian semua pernah mempunyai kenangan dengan mereka. Dan saya yakin kenangan bersama keduanya selalu indah, menyenangkan, mengangenkan, dan selalu teringat akan kebaikannya. Bahkan saya sendiri, ketika masih kecil, lebih senang jika bermalam di rumah kakek, dibanding harus pulang dan tidur di rumah sendiri.

Ah, masa-masa ketika nenek --bernama Nyimas Tetih Jumaesih binti Mas Atmawiguna-- masih bisa bercengkerama adalah masa terindah yang pernah saya alami. Bagaimana perhatiannya, nada bicara yang lembut mendayu, serta candaannya yang ringan renyah. Kalian tahu apa yang paling dikenang dari nenek?

Setiap kali orang tua saya memberi oleh-oleh makanan kepadanya, entah bagaimana caranya, nenek selalu bisa menyembunyikan makanan itu untuk diam-diam diberikan kepada saya. Nah, orang tua saya melarang kepada anak-anaknya menerima apa pun yang diberikan nenek. Katanya lebhi baik kita memberi, orang muda kepada orang yang lebih tua. Jika ketahuan menerima pemberiannya, pasti saya akan dibentak.

Berbeda dengan nenek --yang lembut, penyayang, dan selalu tersenyum--, kakek saya terkenal dengan sosok keras --nama beliau Ukan Sukarna bin Umar. Latar belakang pendidikan membuat dirinya menjadi pribadi yang tidak pernah kenal kompromi untuk hal buruk. Sifat tegas dan kerasnya sangat menginspirasi dan membentuk kepribadian saya sampai saat ini.

Satu poin yang sangat mencolok adalah pribadinya yang jujur. Sangat jujur. Akhir karirnya adalah sebagai pengawas pendidikan kota (dulu namanya penilik). Namun rumahnya hanya dihiasi oleh sebuah motor Vespa PX150, dua ekor burung: jalak bali dan perkutut. Bayangkan saja, puluhan tahun mengabdi dengan loyalitas dan integritasnya, tidak pernah memiliki mobil sekali pun.

Bisa jadi karena memang penghasilan per bulan seorang penilik waktu itu sangat rendah. Wajar. Tapi tetap saja seorang pimpinan yang mempunyai kewenangan sangat luas, tidak pernah tergiur untuk melakukan hal yang dilarang oleh agama atau pun melanggar aturang undang-undang.

Kata-kata terakhir sebelum ajal menjemputnya begitu mengiang di telinga saya. Kalau teringat kata-kata itu, saya selalu merasa merinding, antara malu, takut, dan berharap kepada Tuhan akan sesuatu yang selalu baik. Kalian tentu saja akan merasakannya, karena saya akan menuliskannya di sini:

"Asalkan Gusti Nu Maha Kawasa, Allah Ta'ala ridho kepadaku, nanti suatu saat kelak, Kakek masuk neraka, Kakek akan ikhlas."

Nah, ini hanya sebagai pemanasan --seperti yang saya bilang dari awal. Silakan yang merasa terpacu adrenalinnya dengan tantangan dari Jejak Publisher, kuy!

Info lengkapnya bisa di klik di sini.

-ooOoo-

1 comment: