:::: MENU ::::

Kita semua sudah mahfum bagaimana kebajikan dan kebijaksanaan para awliya, ...

... para penyebar ajaran Islam di masa awal di negeri ini. Salah satunya adalah Wali Songo. Sembilan orang ulama yang menyebar ajaran Islam di Pulau Jawa dengan hikmah dengan penuh kelembutan dan tepa selira.

Beliau-beliau paham betul bagaimana karakter dan budaya asli masyarakat yang mendiami Pulau Jawa kala itu. Maka, dakwah yang mereka lakukan sudah barang tentu menyesuaikan dengan budaya tradisi penduduk asli. Wali Songo tidak serta merta merubah budaya tradisi hanya karena ingin menyebarkan ajaran yang diyakininya. Sudah banyak cerita tentang kealiman sembilan ulama tersebut dan bagaimana rendah hatinya mereka walaupun ilmu yang dimilikinya sangat mumpuni.

Diantara beratus cerita tersebut ada satu kisah yang selalu saya ingat dan menyentuh sanubari, yaitu tembang "Lir-Ilir". Tembang atau bahasa kekiniannya seperti lagu yang diperkenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga kepada masyarakatnya. Dari syairnya tembang ini tampak biasa saja, seperti tembang lainnya untuk menemani bocah-bocah bermain di tanah lapang ketika sore tiba.

Syairnya seperti ini:

Lir-ilir lir-ilir

Tandhuré wis sumilir

Tak ijo royo-royo

Tak senggo temanten anyar

Bocah angon, bocah angon

Pénékno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu pénékno

Kanggo mbasuh dhodhot iro

Dhodhot iro, dhodhot iro

Kumitir bedah ing pinggir

Dondomono jlumatono

Kanggo seba mengko soré

Mumpung padhang rembulané

Mumpung jembar kalangané

Yo surako surak hiyo!'


Karena digubah oleh seorang waliyulloh yang memiliki hati dan pikiran sebersih-bersihnya, lagu sederhana ini begitu sarat makna. Sarat akan pesan untuk disimak sepanjang zaman. Luar biasa.

"Para awliya menyisipkan nilai-nilai ajaran Islam dimana-mana. Di dalam lagu, pada bangunan dan simbol-simbol, permainan anak, pada slogan, bahkan dalam lelucon," begitu kurang lebih perkataan Kakek Tamma dalam obrolan virtualnya bersama seorang anak muda.

Lagu "Lir-ilir" sendiri merupakan terjemahan bebas dari Alquran surat Al Mudatstsir ayat 1 - 4. Surat ini merupakan wahyu kedua setelah surat Al 'Alaq yang diturunkan di Gua Hira. Kurang lebih tafsiran lagu tersebut seperti ini:

lir-ilir lir-ilir
Bangkitlah-bangkitlah, selaras dengan pesan di dalam surat Al Mudatstsir di awal ayat.

tandhuré wis sumilir
Benihnya telah bersemi, keimanan yang ditanam para Wali itu telah tumbuh bersemi

tak ijo royo-royo
Tampak hijau segar, ijo, hijau melambangkan warna lambang Islam yang selalu membuat ummat manusia segar, damai, tenteram

tak senggo temanten anyar
Bagai pengantin baru, seperti sepasang manusia baru yang dirubung dengan kekaguman akan kecantikan dan ketampanan atau kemurnian Islam yang memesona, yang bercahaya

bocah angon, bocah angon
Wahai para gembala, setiap dari kita adalah bocah angon, menggembala diri sendiri agar tetap berada dalam keimanan yang kokoh, berjalan pada jalan yang lurus, seperti sabda Nabi SAW, kulluukum raa'in

pénékno blimbing kuwi
Panjat, ambillah belimbing itu, belimbing yang memiliki sisi lima dilambangkan sebagai agama Islam yang memiliki lima rukun. Memanjat di sini menyuruh agar kita memeluk erat ajaran Islam

lunyu-lunyu pénékno
Sekalipun licin, tetap panjatlah, akan selalu datang ujian, kesusahan, tetap pelajari dan laksanakan ajarannya

kanggo mbasuh dhodhot iro
Untuk mencuci pakaian kalian, untuk membersihkan akhlak kita semua agar tetap terjaga dan selalu memiliki hati dan pikiran suci

dhodhot iro, dhodhot iro
Pakaian kalian, pakaian kalian, sekali lagi menekankan kepada pakaian, akhlak mulia yang harus kita miliki

kumitir bedah ing pinggir
Terburai sobek di pinggirnya, masih terselip kekurangan untuk menutupi aurat dan menghiasi jasad manusianya

dondomono jlumatono
Maka jahit dan sulamlah, maka tambal, tutup dengan ibadah-ibadah sunah, hiasilah dengan akhlak mulia

kanggo seba mengko soré
Untuk (kau pakai) menghadap nanti sore, untuk bersiap sebagai pakaian yang digunakan salat Maghrib, atau diterjemahkan juga sebagai bekal kelak ketika kita menghadap Allah Azza wa Jalla saat usia senja

mumpung padhang rembulané
Selagi benderang cahaya rembulan, selagi cahaya Islam masih menyinari kalbu, selagi cahaya Islam masih menyinari semesta

mumpung jembar kalangané
Selagi masih terbuka lebar kesempatannya, mumpung masih berada di alam dunia, masih hidup sebelum mati, mumpung masih kaya sebelum miskin, mumpung masih lapang sebelum sempit

yo surako surak hiyo!
Mari bersorak, sorak ayo!, selalu merayakan, bersyukur ketika ikhtiar telah kita lakukan sebaik-baiknya, tinggal bertawakal

Subhanallah wal hamdulillah. Saya sendiri menulis tulisan ini dengan mata berkaca. Sungguh luar biasa kedalaman ilmu yang dimiliki, dan begitu rendah hati. Lalu bercermin melihat diri sendiri. Malu, karena hati ini masih begitu kotor. Bahkan ketika mendapat satu ayat, saya dengan bangganya memamerkannya kepada orang lain, serasa telah khatam satu surat.

Tabik, semoga bermanfaat.


#OneDayOnePost
#KisahHikmah
#WaliSongo

5 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. iya, mangga Kak Nia.. Alhamdulillaah, moga bermanfaat :)

      Delete