:::: MENU ::::

Tersebutlah seorang perempuan tua yang memiliki anak laki-laki. Keduanya hidup satu atap, dan tidak memiliki sanak famili lain. Hidup sebatang kara dan tidak berharta benda membuat si anak berpikiran untuk merantau.

Pada suatu saat, pemuda itu memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya, tanah Minang, untuk mengembara ke ibu kota negara. Tidak lain tujuannya adalah memperbaiki nasib dia dan ibunya yang hidup berpuluh tahun tanpa harta benda. Dengan diiringi haru biru serta linangan air mata, mereka berpisah. Sedih. Pemuda itu meninggalkan sang ibu dengan begitu sedih. Begitu pun sang ibu yang ditinggalkan si anak, sangat berat melepas kepergiannya.

Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun pemuda itu masih di tanah pengembaraan. Si ibu mulai khawatir akan nasib putranya. Tak ada kabar. Hujan telah berganti kekeringan. Kemarau kembali berganti menjadi penghujan. Berpuluh kali musim berganti. Namun selama itu pula sang ibu hanya berharap dengan cemas bahwa anaknya masih hidup di pulau seberang.

Ah, ternyata si anak telah melupakan perempuan yang telah melahirkannya. Si anak telah terbuai oleh harta benda dan perempuan sehingga dia ingkar akan ibu kandungnya sendiri. Terbukti ketika dia kembali pulang ke tanah Minang, tanah tempat dia dibesarkan. Sang ibu menyambut dengan sukacita, namun si anak malah mencampakkannya.


-ooOoo-

Seorang bijak pernah berkata bahwa setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Maka, berbondong-bondonglah mereka ramai (entah latah entah karena apa), setiap kali menemui momen kelulusan akan mengadakan perpisahan. Ramailah orang kantoran akan mengadakan perpisahan ketika pimpinannya dipindahtugaskan, atau memasuki masa pensiun (entah karena sukacita atau agar mendapat simpati dari atasan).

BACA TULISAN LAINNYA: "KITAB SABILUL 'ABID JAUHARAH AT-TAWHID"

Dan momen itu akan diwarnai dengan isak tangis, foto-fotoan, dan seremoni lainnya yang lebih mendekati sakral. Padahal sejak dulu kala, orang bijak itu selalu mengatakan setiap ada perjumpaan, pasti akan ada lambaian tangan. Setiap ada kedatangan pasti ada kepergian. Keniscayaan yang tak dapat dielakkan.

Sama seperti nafas, selalu ada tarikan dan selalu ada hembusan. Memangnya kita pernah, karena teralu sayang udara yang sudah kita hirup, terus-menerus menarik nafas tanpa dihembuskan lagi? Tidak kan?

Atau ketika kita menghirup nafas, kita akan senang, tapi ketika menghembuskan nafas, kita akan sedih dan meneteskan air mata. Tidak juga kan? Analoginya sama seperti itu. Perpisahan pun adalah sunatullah.


-ooOoo-

Tenang saja, perpisahan ... tak meyedihkan
yang menyedihkan adalah, bila habis ini ... saling lupa

Nah, makna dari dua cerita di atas, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa perpisahan itu bukanlah sebuah peristiwa yang terlalu menyedihkan. Karena kita pasti akan berpisah. Senada dengan apa yang didendangkan oleh Pidi Baiq*) dalam syair lagunya "Tenang Saja".(klik di sini)

Tenang saja, perpisahan ... tak menyakitkan
yang menyakitkan adalah, bila habis ini ... saling benci

Hal yang paling menyedihkan adalah, ketika berpisah kita bercucuran air mata, saling rangkul, saling berpesan, namun setelah itu, setelah berbulan-bulan lamanya kita lupakan begitu saja pertemanan yang sudah terbangun. Kita lupakan tali silaturahmi yang sudah kuat, erat, kokoh, yang telah diikat belasan tahun lamanya.

Bahwa kita pernah, selalu bersama-sama
Lalu kita sadar, bahwa kita harus berpisah

Lupa pasti akan lupa ... bila saling melupakan
Hilang pasti akan hilang ... bila saling menghilangkan
Lenyap pasti akan lenyap ... bila saling melenyapkan

Satu keniscayaan yang juga pasti kita alami adalah perpisahan dengan alam dunia ini. Ya, kita semua, saya, kamu, orang tua kita, nenek kakek kita, mereka, anak-anak kita, anak dari anak-anak kita, Pak RT, Lurah, Camat, Gubernur, Sekjen PBB, Kim Jong Un, pasti akan berpisah dengan alam dunia ini.

Apakah kita akan sedih meninggalkan alam dunia ini? Atau malah kita akan merasa senang, merasa bahagia ketika suatu saat kelak kita meninggalkan alam fana yang penuh dengan keserakahan dan tipu daya ini?

Apakah orang-orang di sekitar kita, teman, anak buah, pimpinan, tetangga, akan senang ketika kita meninggalkan alam dunia ini? Atau mereka semua akan berduka sedalam-dalamnya, sedih merasa kehilangan yang teramat ditinggalkan oleh manusia yang banyak berjasa?

Semoga, perpisahan tidak membuat kita terlalu sedih, karena kita akan selalu ingat satu sama lain. Karena perpisahaan adalah keniscayaan dan tali silaturahmi kita teteap terjaga erat, selamanya. Semoga dari dua paragraf terakhir di atas, kita termasuk kepada kelompok yang kedua, golongan orang yang diberikan 'husnul khatimah'.



"Some people can't life forever, but some people can stay forever in our hearts"




#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day30
#AudLangSyn
#Fiksi


*) Pidi Baiq, Pidi Baiq (lahir di Bandung) adalah seniman multitalenta asal planet bumi. Lulusan FSRD (katanya). Dia adalah penulis novel dan buku, dosen, ilustrator, komikus, musisi dan pencipta lagu. Namanya mulai dikenal melalui grup band The Panas Dalam yang didirikan tahun 1995. Pidi Baiq semakin dikenal para pecinta karya sastra khususnya bergenre humor melalui karyanya berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990 (terbit 2014).

Saya sendiri mengenalnya dalam acara "Pasar Seni ITB", dimana band The Panas Dalam selalu tampil membawakan lagu-lagu "nyentrik"-nya. Sekarang tinggal di Margahayu, Bandung (kalau tidak salah ya).

4 comments:

  1. Susah mempertahankan yg demikian, sudah habis masa bersama, berpisah, tetiba lupa. Semoga ukhuwah akan selalu terjaga.

    ReplyDelete
  2. Perpisahan adalah penghubung kebersamaan dengan kenangan dan kelupaan. Biasa sih faktor U.

    ReplyDelete