:::: MENU ::::

Judul Buku: Jalani,  Nikmati, Syukuri: Learn to Enjoy Every Minutes of Your Life, be Happy Now
Penulis: Dwi Suwiknyo
Penerbit: Noktah (Diva Press Group)
Jumlah Halaman x: 260 hlm

Membaca buku "Nikmati, Jalani, Syukuri" teringat kembali pengalaman saya ketika menempuh sebuah perjalanan dari Bandung menuju Cirebon. Sudah lama memang, namun cerita yang penuh makna itu tidak pernah hilang dari ingatan.

Waktu itu saya belum berkeluarga, ceritanya hendak menuju rumah kekasih saya yang tinggal di Cirebon. Saya sendiri berdomisili di Kota Bandung. Nah, demi bertemu dengan kekasih yang dicintai tentu saja saya akan melakukan apa pun. Ehm .... Iya betul kok. Kalian juga punya pengalaman yang sama bukan?

Entah karena hebat atau nekat, tanpa bekal sepeser pun saya menempuh perjalanan yang cukup jauh itu dengan mengendarai sepeda motor. Di tengah perjalanan daerah Majalengka, tiba-tiba mesin motor mati. Tidak bisa dihidupkan lagi. Ternyata tangki bahan bakar benar-benar kosong. Dan apesnya lagi tak ada uang di dompet. Padahal perjalanan masih jauh. Terpaksa saya mendorong motor di tengah terik matahari.

Sambil melepas lelah, saya coba melihat isi tas ransel. Setelah dikorek-korek ternyata ada beberapa keping uang receh. Entah bekas kembalian atau apa. Setelah dikumpul semuanya berjumlah Rp 4.700,-. Alhamdulillah, cukup untuk membeli bensin yang waktu itu harganya Rp 4.500,- per liternya. Setelah mendorong motor sekitar setengah kilometer saya pun bisa melanjutkan perjalanan menemui kekasih.

Ketika kejadian itu saya alami, saya tak merasakan apa pun, atau makna yang bisa diambil. Ternyata peristiwa itu mirip dengan bagian awal dari sebuah buku karangan Dwi Suwiknyo "Jalani Nikmati Syukuri: Learn to Enjoy Every Minutes of Your Life, be Happy Now", (NJS) dimana penulis membeberkan sebuah kalimat sangat menggugah saya, tanpa masa-masa sulit, saat-saat bahagia tidak akan begitu menyenangkan. Dan betul sekali, ketika awalnya kita merasa hidup ini begitu sulit, tetapi jika sedah melewatinya, pasti kita akan merasa bahagia.

Dalam prolognya, Dwi Suwiknyo berkisah tentang seorang temannya yang tengah terbaring sakit. Usut punya usut ternyata temannya tersebut mengalami sakit karena beban yang terlampau berat dalam pekerjaannya. Bukan menerima rasa senang atau bahagia bekerja, malah sebaliknya, dia menderita tekanan yang teramat, awalnya hanya mengalami pusing, tetapi semakin lama tubuhnya tidak kuat lagi menerima stres yang berkepanjangan. Padahal dalam firmanNya: "Aku tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Al Baqarah : 286)

Benar-benar sebuah buku yang sangat kaya akan makna dari tiap-tiap kejadian yang hampir setiap orang mengalaminya. Buku NJS ini berisi lebih dari lima puluh kisah pendek dengan beragam latar belakang (sebagian besar adalah pengalaman pribadi penulisnya) membuat siapa pun yang membaca buku ini serasa sedang mengemil makanan padat gizi dan nutrisi, tidak membuat kenyang tetapi menyehatkan.

Pada bagian lain buku NJS ada cerita bagaimana mengetahui tanda-tanda seseorang berbahagia, yang tentu saja harus dimiliki setiap karena hidup ini sudah seharusnya mendapat kebahagiaan. Diantaranya, orang itu memiliki hati yang selalu bersyukur. Bukan saja ketika mendapat harta melimpah, atau ketika mendapat jabatan baru. tetapi setiap saat, bahkan ketika dirundung duka pun, orang yang selalu bersyukur pasti akan bahagia. Tanda-tanda lainnya adalah memiliki pasangan hidup yang soleh, anak-anak baik dan tinggal di lingkungan yang baik pula.

Jika kalian membaca buku NJS yang keren ini, kalian tidak akan merasa sedang digurui, ataupun bosan dengan rangkaian kata-katanya. Pada bagian-bagian tertentu terselip halaman berisi komik tentang tema yang sedang dibahas, membuat kalian akan semakin mudah mencerna isi buku ini. Tidak itu saja. Pemilihan ukuran dan jenis font dibuat agar bisa memanjakan mata siapa pun yang membacanya.


Anggapan bahwa seseorang yang sedang belajar atau berilmu tinggi selalu  memiliki pribadi yang serius, setelah saya sampai pada bagian "Jangan Terlalu Serius" anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Justru orang-orang yang berilmu tinggi biasanya memiliki sense of humor yang besar.

Dikisahkan ada seseorang yang bertanya kepada Amir bin Syuharbil asy Sya'bi, "jika aku mandi di sebuah sungai, maka ke manakah aku harus menghadap? Apakah ke arah kiblat, atau membelakanginya, atau menghindar dari arah keduanya? Dan bagaimana pula jika suatu kali aku tidak tahu dimana arah kiblat?"

Pertanyaan kesannya serius dan butuh pemikiran untuk menjawabnya, karena tidak bisa seorang ulama menjawab sembarangan. Namun apa jawaban Amir bin Syuhrabil, sangat cerdas, "menghadap ke arah dimana pakaianmu kau letakkan. Supaya jangan sampai pakaian itu terhanyut oleh air sungai atau diambil orang." Hehehe ....

Coba simak lagi satu kisah menarik lainnya, cerita yang bagi kalangan pesantren sudah sangat populer: "Gus ...." salah satu santri bertanya. "Kalau kami berkumpul dan mengirim doa untuk orang yang sudah meninggal, apa iya doanya sampai?"

Mendengar pertanyaan itu, tokoh pesantren yang sangat disegani bertanya balik, "lha, doanya balik lagi gak?"

"Maksudnya gimana Gus?"

"Lha, kalian ngirim doa itu?"

"Inggih, Gus."

"Lha, iya. Doanya balik lagi enggak?"

"Ya, tidak Gus."

"Ya, sudah, berarti doanya sudah sampai."

Saya langsung manggut-manggut mendengar cerita di atas. Sesederhana itu, dan tidak usah dibuat pusing, karena ranahnya memang bukan ranah manusia yang kemampuannya terbatas.

Saya hampir tertipu dengan buku ini, karena ketika awal-awal membaca, saya tidak menemukan daftar isi. Penasaran, lalu saya balik-balik buku sekali lagi, dari bagian awal, terus ke bagian paling akhir. Ternyata memang tidak memiliki daftar isi, tidak seperti pada buku kebanyakan. Ingin saya memprotes atau sekadar mencibir bahwa editornya ceroboh tidak memasukkan daftar isi.

Tetapi saya teringat lagi dengan buku yang sedang saya pegang ini. Lho, ini kan buku NJS kenapa saya harus pusing-pusing memikirkan daftar isi. Toh, saya bisa membuka sembarang halaman lalu mulai membaca. Sudah pasti saya akan menemukan cerita yang selalu asyik dan sarat makna. Tinggal baca, nikmati, dan bersyukur sudah menemukan buku yang luar biasa ini. Sebuah ide cerdas dari penerbit Noktah, yang tidak lain masih satu grup dengan penerbit Diva Press.

Penasaran dengan buku ini kan? Sudah pasti, karena kalian harus membaca sendiri agar bisa berpikir bagaimana menyikapi setiap kejadian sehari-hari yang terkadang membuat kita kurang nyaman. So, selamat membaca dan menyantap hidangan yang disajikan di dalam buku ini.

Salam.


#LombaBlog
#JalaniNikmatiSyukuri

7 comments:

  1. Mantaaap photo by siapa tuh 😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Keren ih bukunya,
    Pak guru juga review-nya menggoda.
    Boleh nih tak pinjem bukunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh boleh, dateng ke rmh yaa.. ditunggu lho

      Delete
    2. Alhamdulillah. Siap meluncur =))

      Delete
  3. Keren. Aku akan menjalaninya dengan penuh damai.

    ReplyDelete