:::: MENU ::::

Bagian 1 - Tampuk Kekuasaan

"Darimana saja kau, Aldi?" dengan tangan terlipat di atas dada, pria berperawakan tinggi itu menatap tajam.

"Eh, anu Papa. Tadi, tadi saya mampir dulu ke rumah Eduard." Pandangannya tertuju ke lantai marmer putih.

"Dari tadi siang sampai larut malam gini, ngapain di rumah anak bodoh itu?" kaki disilangkan sedemikan rupa, belum diturunkan dari pahanya.

"Kan sudah bilang Papa, Mamahnya minta tolong agar Aldi bisa bantu Eduard aritmetika." Bola matanya bergerak ke atas, melirik perlahan agar bisa melihat wajah ayahnya.

"Kuping kamu ditaruh dimana, hah? Papa kan sudah bilang tidak usah mengurusi anak orang lain! Kalau seperti ini kamu tidak akan pernah menang bersaing dengan anak lain. Kamu akan ketinggalan, Aldi."

"Aldi tetap belajar kok Papa. Tiap malam. Bahkan membaca lebih banyak dengan yang lain. Lagipula Eduard daya tangkapnya lambat. Butuh bantuan untuk belajar."

"Lalu apa peduli kita? Itu tanggung jawab orang tuanya, bukan tanggung jawab kita. Apalagi kamu ngajarin anak bodoh itu, hanya habisin waktu. Paham tidak?"

Ada rasa seseuat menekan dadanya, gumpalan ketidaksukaan yang tak dapat dia buncahkan, "tapi, Papa ...."

"Sudah, cukup! Tidak usah beralasan lagi." setengah membentak, telunjuknya mengarah ke lantai atas, "masuk ke kamar. Besok pagi kita berangkat ke ibu kota provinsi."

"Besok ada praktikum kimia, Papa."

"Tidak usah hirau. Belajar di sekolah negeri itu tidak penting. Sekolahan tidak bermutu."

"Dengarkan baik-baik, Aldi. Kau harus kuat, harus lebih hebat dibanding anak-anak lain," tatapan tajamnya semakin menyengat, "besok kau hadir di seminar 'Dare to Dream'. Nanti kau akan tahu bagaimana menjadi seorang juara, bagaimana menjadi orang hebat."

Aldi mengangguk pelan. Kepalanya tetap tertunduk, tak berani memalingkan pandangan dari lantai marmer itu. Dengan langkah tergesa, bocah usia belasan itu menaiki tangga menuju kamarnya.

Suara penyiar berita dari sebuah stasiun televisi samar-samar masih terdengar di ruang tengah. Papa --ayah dari Aldi--, dengan serius menyaksikan apa yang disajikan dari kotak persegi tipis itu. Jemarinya tak henti-henti menekan tuts keyboard laptop yang selalu dia bawa.

Dean Fanggohans, siswa SMAN 8 Pekanbaru kembali mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, dengan meraih medali emas dalam Olimpiade Sains Internasional. Prestasi ini disambut dengan gembira oleh seluruh pelajar di tanah air, tak terkecuali ketua dewan dari Partai Cemara, Ahmad Firdaus.

"Saya sangat terharu karena Indonesia berhasil meraih medali emas di ajang yang prestisius ini. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari peran komisi sepuluh yang selalu concern dengan kemajuan pendidikan adik-adik pelajar kita."

Jemarinya berhenti menekan tuts keyboard. Perhatiannya teruju kepada orang yang baru saja memberi komentar tentang keberhasilan seorang pelajar. Puih! Dasar munafik. Prestasi yang diraih anak itu, kenapa dia yang merasa telah berperan dengan keberhasilannya.

Pandangan pria berjambang lebat itu menerawang ke langit-langit. Senyum lebar merekah di wajahnya. Matanya menyiratkan rasa percaya diri menatap masa depan Aldi, anak yang selalu dia banggakan.


-ooOoo-

Tubuh tinggi kurus itu direbahkan di atas spring bed yang diletakkan begitu saja di atas lantai. Kedua tangannya diletakkan di belakang kepala sebagai pengganti bantal. Dinding putih yang mengurung pria itu berhiaskan bermacam poster tokoh dunia. Salah satu poster dengan gambar seorang pria berambut jabrik dengan lidah menjulur tampak sangat mencolok. Albert Einstein, Physics Nobel Prize winner, the best scientist in the world, tertera di bagian bawah poster itu.

Poster lain memperlihatkan tubuh ilmuwan sohor yang duduk di kursi roda. Sosok itu tak mampu menyangga kepalanya sendiri, sehingga hanya terkulai menumpu di bahu. Tulisan di bawahnya menjelaskan siapa ilmuwan itu,  "Seratus tahun ke depan bisa jadi adalah masa paling berbahaya dari planet Bumi. Bumi pada masa itu aku yakini akan terjadi tragedi besar, perang nuklir."

Medali-medali emas dan piala kejuaraan sains terpajang di sebuah lemari kaca, berderet seakan sebuah barisan batangan emas yang akan membuat berdecak siapa pun yang melihatnya. Pria itu tersenyum puas. Sangat puas. Dadanya membusung. Rona wajahnya menyiratkan ambisi yang telah tertanam puluhan tahun.

Akhirnya mata pria itu terpejam. Mendengus keras. Serasa ribuan beban yang menghujam kepala terlepas menumpah ruah ruang kamar tidurnya.

Besok hari penentuan. Karirku akan mencapai puncaknya. Tinggal menyingkirkan orang partai itu, maka tampuk kekuasaan sudah pasti aku genggam. Mudah. Sangat mudah, Aldi. Orang-orang sekarang gampang dibodohi. Kata siapa mereka sudah pintar. Orasiku tinggal dikasih sedikit bumbu religius. Tebar kebencian, bawa isu suku agama, semua beres. Yakin, Aldi. Itu sangat mudah.

Pria itu bergumam, meyakinkan dirinya sendiri. Lamunannya terbang membawa segudang ambisi.


-ooOoo-

"Kamu benar-benar hebat, Nak!" tangan seorang kakek menepuk-nepuk bahu pria itu, "sekarang kau telah jadi orang hebat." Senyumnya mengembang melihat anak semata wayangnya dilantik menjadi ketua dewan, wakil rakyat di negeri ini.

"Itu semua berkat kerja keras saya sendiri Papa," wajahnya tiba-tiba berhias sinis.

"Kamu bilang apa, Nak?" suara rentanya bergetar.

"Ingat dulu Papa bilang, hanya diri kita lah yang menentukan jalan hidup kita sendiri di masa depan." Di tengah riuhnya suasana gedung garuda itu, percakapan keduanya menjadi tidak penting.

"Tidak ada seorang pun yang berhak mengatur jalan hidupku sekarang, termasuk Papa!"

"Tapi saya, Papa kamu, yang telah mendidik kamu sampai menjadi sukses seperti ini."

"Nonsense, Papa!" mendengar ucapan anaknya, kakek itu mulai naik pitam.

"Papa sudah tua. Mulai besok saya akan belikan rumah di kampung halaman. Istirahat lah dengan tenang di sana. Habiskan masa-masa tua Papa."

"Kamu membuang Papa? Kamu anggap apa Papamu sendiri, hah?"

"Saya dididik untuk menjadi orang hebat, Papa. Tidak ada waktu untuk mengurus seorang kakek tua, hanya menghabiskan waktu dan pikiran saja."

Deg! jantung seorang tua itu terhenyak. Tak percaya apa yang didengarnya. Tak pernah terlintas dalam pikiran sekali pun menerima perlakuan seperti itu dari anaknya. Pandangannya mengabur. Samar-samar mulai menjadi gelap. Bumi seakan berputar, perlahan. Semakin cepat, cepat, dan semuanya dalam sekejap  menghilang.


-ooOoo-


BERSAMBUNG

2 comments: