:::: MENU ::::

Bagian 2 - Budak Cageur

"Hari ini jadi mengajariku kan, Al?" wajahnya menyungging senyum rekah.

"Iya, tentu saja," Aldi menepuk bahu Eduard, "kau tahu, aku tidak bersedia mengajarkan aritmetika, kepada semua temanku. Kau satu-satunya pengecualian."

"Kenapa?" 

"Entahlah. Saya merasa harus berbuat lebih. Bukan hanya mengejar prestasi diri sendiri," Matanya menerawang ke arah awan yang bergerombol, "karena pada akhirnya hanya ada rasa hampa. Kau tahu itu Eduard, orang baik adalah yang selalu berguna buat orang lain. Tidak peduli dia orang mana, tidak ped walaupun uli dia kaya atau pintar."

"Apa yang kamu bicarakan, Al? Saya mah tidak mengerti," matanya membulat berbarengan dengan mulutnya yang selalu menganga.

"Ah, tidak. Lupakan saja." Aldi tersenyum senang, walaupun temannya itu tidak paham apa yang diobrolkannya.

Hubungan yang lebih dari sekadar pertemanan, kedua kawan itu berjalan beriring. Bahkan telah menjadi sahabat. Latar belakang keduanya berbeda, terpaut sangat jauh. Aldi seorang anak dimana menginjak dewasa lebih awal, dididik sangat keras oleh keluarga keturunan chinese, bahkan terlampau keras.

Eduard. Jangan sangka dia berasal daerah timur karena namanya. Kawan baik Aldi sejak kecil. Berperawakan sedang, kulit sawo matang dengan mata sayu. Hiasan wajahnya selalu ada senyum. Keluarga yang kuat memegang tradisi Sunda, sehingga dalam dirinya melekat kepribadian atikan silih asah, silih asih, silih asuh. Pribadi yang selalu ramah kepada orang lain, selalu menanamkan kebaikan, mengasihi.

Belasan tahun keduanya berteman. Masa kanak-kanak yang hampir semua orang melewatinya dengan gembira. Selama itu pula kegembiraan dirasakan mereka bersama. Berbagai rintangan dan kesedihan selalui dilalui kedua bocah itu. 

Perlahan semuanya mulai berubah. Selepas sekolah dasar Aldi mendapat perlakuan keras dari orang tuanya. Tujuannya adalah menjadi yang terbaik, menjadi yang terpintar. Hampir semua lomba diikuti. Berbagai medali dan piala kejuaraan telah direngkuhnya. Setiap kegiatannya adalah kompetisi, siapa bisa mengalahkan yang lainnya.

Walaupun masih satu sekolah yang sama, Eduard mendapat pendidikan yang berbeda. Dalam filosofi pendidikan Sunda dikenal dengan cageur, bageur, bener, singer, pinter. Ambunya mengenalkan Eduard kecil bukan menjadi orang pintar, 'pinter' dulu. Tetapi yang terpenting adalah menjadi orang yang sehat, cageur


-ooOoo-

"Aih, ada Nak Aldi. Ayo masuk," perempuan setengah baya beruban menyambut kedatangan Aldi, "jangan malu-malu."

"Iya, Ambu. Terima kasih." ciuman tangan Aldi disambut pelukan hangat oleh Ambu, yang sudah menganggapnya sebagai anak kandung sendiri.

"Ambu, Edu mau belajar sama Aldi. Boleh ya?"

"Muhun, kénging bageur.1) Ambil minuman dulu gih."

"Asyik, nuhun Ambu.2)" wajahnya sumringah, berlari ke dapur dengan riang.

"Maaf ya Nak Aldi, jadi merepotkan."

"Tidak apa-apa Ambu. Saya yang minta maaf. Selama ini terlalu sibuk dengan les, pelajaran tambahan, lomba-lomba, sampai jarang main ke sini." Jemarinya dilipat, terselip diantara kedua pahanya.

"Edu juga sering cerita. Katanya Nak Aldi sekarang sudah jadi orang hebat, orang sibuk." Ambu menutup giginya dengan telapak terkekeh.

"Panggil saja Aldi, seperti dulu waktu saya sering bermian bareng Edu di pesawahan." Wajahnya merona, canggung karena dipanggil dengan Nak oleh perempuan yang sudah memberi kasih sayang kepadanya, "ah, enggak juga Ambu. Saya memang tidak jarang diizinkan main setelah sekolah."

"Dan sekarang boleh main ke sini?"

"Enggak Ambu. Saya sembunyi-sembunyi main ke rumah Aldi. Kebetulan guru lesnya tidak hadir, jadi hari ini tidak ada jam tambahan."

Sementara Edu masih berkutat di dapur, keduanya berbincang hangat, melepas rasa rindu yang telah lama hilang. Rasa yang hanya dimiliki seorang ibu kepada anaknya. Bagaimana keluh kesah yang selama ini dipendam Aldi menemukan tempat berlabuh yang hangat. Tempat peraduan segala sedih, kecewa, amarah tanpa membuat dirinya merasa bersalah.

"Lalu, Papa menganggap sekolah bukanlah hal yang penting lagi. Dia sering mengatakan bahwa sekolah kami hanyalah sekolah tai ayam, mengajarkan sesuatu yang sia-sia --upacara bendera, patuh sama guru, menghormati yang lebih tua walaupun mereka tidak sepintar diri kita."

"Akhirnya saya terbiasa dengan semua itu. Perlahan, satu per satu teman-teman menjauh, tapi tidak membuatku bersedih. Walau tetap saja di hati kecil terselip perasaan bersalah dan ingin melepas semua ego saya." Rahang wajahnya mengeras, "dan waktu jualah yang menjawabnya. Saya semakin puas dengan prestasi sekarang. Tak ada orang lain yang bisa meraih seperti yang saya lakukan."

"Sebegitunya kamu, Nak. Begitu berubah?"

Aldi menunduk semakin dalam, "kamu anakku yang sudah bertahun-tahun memakan nasi dari keringat Ambu. Kamu betul-betul berubah. Apakah medali dan piala yang kamu rengkuh itu membuatmu menjadi bahagia?"

Mulutnya tercekat. Tidak ada gerakan apa pun dari tubuhnya. Tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. 

"Kemari Nak. Kemari ...," dirangkulnya kepala bocah malang itu, diusap ubun-ubunnya dengan lembut, "kau tetap menjadi anakku selamanya. Ambu tidak akan pernah tahu masa depanmu seperti apa. Tapi kamu akan tetap berada dalam doa-doa Ambu pada sepertiga malam. Semoga Tuhan, Allah Ta'ala, selalu melindungimu dimana pun kamu Nak, berada."


-ooOoo-

#OneDayOnePost  #Fiksi

1) Iya, boleh anak baik
2) Makasih, Ambu

0 komentar:

Post a Comment