:::: MENU ::::

"Hai Yogi! Ayo lekas!" Juan dengan satu tangan di stang sepeda, satu tangan lainnya melambai ke arahku. "Loyo amat. Kayak kakek-kakek." Dia tertawa terbahak, melihat diriku kepayahan.

"Berat banget. Tanjakannya panjang nih."

"Ini belum seberapa. Sehabis ini kita akan sampai di Padalarang. Jalanannya lebih ekstrim." Teriakan Juan beradu dengan deru kendaraan dan klakson, saling beradu.

"Capek ..., sesak nih ...," nafasku semakin memburu, "huh, huh!" Aku berusaha tetap mengayuh.

"Sudah jangan banyak mengeluh. Ayo, semangat!"

Sisi kiri jalan mulai tampak tebing-tebing curam. Bebatuan kapur terlihat putih kekuningan. Beberapa bagian tampak sisa alat berat telah menggerusnya. Tandus. Gersang. Keropos. Hanya beberapa yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar. Menghijau seperti permadani.

Aku melewatinya dengan susah payah. Juan tidak. Padalarang, daerah yang kini kami lewati. Salah satu deretan pegunungan yang mengepung kota kelahiranku. Bandung, jika dilihat dari atas seperti mangkuk. Tengah mangkuknya adalah kota Bandung. Pinggirannya adalah deretan pegunungan yang mengelilinginya.

(Baca "Petualangan Si Gagak Hitam")

***

Maka, malam ini kami berdua singgah di sebuah warung kopi. Tentu saja bukan hanya mengopi, tetapi tidur semalam, sebelum melanjutkan perjalanan esok pagi.

Seorang bapak tua menyambut kami dengan ramah. Dia adalah Aki Herman, pemilik warung sekaligus sesepuh di kampung itu. Usianya sudah melebihi tujuh dekade, rambut memutih, giginya sudah banyak yang tanggal. Rasa takjub ketika pertama melihat dirinya, badan masih tegap, wajah bersih serta sorot matanya tajam tidak menyiratkan usianya yang sudah tua.

"Mangga diminum kopinya," dua cangkir disuguhkan di hadapan kami, "Aki mah harus pakai mug. Tanggung atuh kalau gelas, kurang segud," tawanya terkekeh.

"Aki sudah lama tinggal di sini?" Juan menyeruput kopi panasnya.

"Bukan lama lagi, nenek moyang Aki sudah sejak lama hidup dari Tatar Priangan ini."

"Wah, luar biasa." Pikiranku melayang dengan gugusan batu kapur yang terbentang ketika kami melewati Padalarang, tadi siang.

"Bagaimana dengan perjalanan kalian?"

"Cape banget Ki. Jalanannya, wuih, luar biasa."

"Luar biasa bagaimana?"

"Yang di Padalarang tuh, tanjakannya curam. Ditambah jurang di sisi jalan, bikin merinding."

"Gunung kapur yang ada di sana itu kenapa bisa seperti itu ya, Ki?"

"Konon, dulu kala, daratan Padalarang berada di bawah laut."

"Laut?"

"Iya. Lautan dalam. Karena pergeseran bumi, daratan itu terangkat. Kalian pernah dengar, anak muda, di sana pernah ditemukan fosil-fosil ikan laut?"

Kami serempak menggeleng. "Di sinilah luar biasa Kekuasaan Tuhan, Allah Ta'ala. Logika manusia tidak akan pernah sampai, kok bisa ya Padalarang yang dataran tinggi dulunya berada di bawah laut? Memangnya tinggi permukaan lautnya seberapa dalam?"

"Iya, benar Ki. Saya pun baru dengar cerita ini."

"Nah, ada yang lebih menakjbukan lagi."

"Apa itu Ki?" mata Juan membelalak, rasa penasarannya timbul.

"Tanah yang kalian pijak sekarang ini, dulunya adalah sebuah gunung. Gunung berapi yang maha besar, sangat besar." Ketenangan bicaranya membuat pikiran kami hanyut dalam romansa zaman baheula. "Kota Bandung adalah sebuah gunung purba. Suatu waktu, gunung purba Bandung itu meletus. Sangat dahsyat!"

"Abunya terlontar sangat jauh. Ada warta yang mengatakan sampai ke dataran Inggris di Eropa sana."

"Wuuiiih ...!" Juan hampir bertepuk tangan dengan keras.

"Lama kelamaan letusannya tidak berhenti. Karena sangat dahsyat, terbentuklah kawah yang besar. Nah, kalian lihat di sana," Aki Herman menunjuk kerlap-kerlip di kejauhan, di keremangan gelapnya malam, "di sanalah Kota Bandung."

Tampak sangat indah, beribu lampu seperti hiasan di dalam sebuah mangkuk besar.

"Cekungan itulah dulunya kawah. Air kawahnya surut, dan berubah menjadi cekungan Bandung."

"Berarti Kota Bandung itu mirip mangkuk raksasa ya, dan dasar mangkuk itulah sekarang jadi pusat kotanya. Sisi-sisinya deretan pegunungan Manglayang, Padalarang, Patuha, Ciwidey, dan lainnya."

"Eh, tapi Ki, kemana larinya air kawah yang sangat banyak itu? Kenapa tiba-tiba surut? Pasti kan ada jalur atau pipa untuk keluar air."

"Besok kalian akan Aki ajak ke sebuah gua besar. Gua itulah sebagai pintu keluar air beribu-ribu liter."

"Gua?"

"Benar, sebuah gua."

"Namanya Ki?"

"Nama gua legendaris itu bernama Sanghyang Tikoro."


SELESAI


#OneDayOnePost
#ODOP
#30DaysWritingChallange
#30DWC
#Day27
#WarisanSejarah
#Fiksi

3 comments: