:::: MENU ::::

Di depan teras rumah Ki Silah pada suatu malam. Rintik hujan masih turun dari langit Kampung Dadaha, membuat jalanan becek dan liket. Dari arah walungan Cidurian tampak Kabayan jalan tergopoh, menghindar gerimis, melindungi kepalanya dengan daun pisang.

"Sampurasun ...!"

"Rampees!" sapaan khas Kampung Dadaha, "darimana Kabayan, sepertinya dirimu sangat senang?"

"Habis Nobar Ki."

"Nobar, nobar pertandingan sepakbola final Piala Presiden itu?"

"Bukan Ki."

"Pertandingan yang digelar di Bung Karno kan?"

"Iya Ki, betul kalau final dua tim tangguh itu diadakan di Stadion Bung Karno." Kabayan sedikit kesal, tampaknya Ki Silah lebih tertarik mendengar pertandingan sepakbola daripada mendengar jawaban pemuda pengangguran itu.

"Hasilnya siapa yang menang?"

"Atuh tidak tahu Ki, yang sayah tahu mah beberapa oknum penonton merusak pagar dan bangku-bangku stadion. Padahal stadionnya sudah bagus, dudukan kursinya bukan bangku panjang lagi. Lampu, fasilitas, rumput semuanya nomor satu."

"Kenapa bisa dirusak? Ki Silah mah tidak mengerti dengan pikiran orang-orang itu," kakinya diangkat satu menghindar dinginnya tanah di bawah amben, "giliran stadionnya jelek, rusak, mencibir, bilang gak becus. Eh, sudah dibagusin malah dirusak. Mental tahu," gayanya mirip seorang politisi ketika sedang berorasi.

"Gak ada hubungannya sama Kabayan, Ki! Kabayan tadi habis pulang dari nobar. Tapi bukan nobar sepakbola," matanya melirik ke arah Ki Silah, "nobar Mata Najwa. Dengar enggak Ki Silah?"

"Iya, dengar Kabayan. Saya kan bukan bolot yang kupingnya gak beres."

"Lagian dari tadi Ki Silah kayak orang bego."

Malam tambah larut. Suara jangkring dan katak di pematang saling bersahutan. Hewan malam memulai pengembaraannya mencari ganjal perut. Puluhan siraru 1) berterbangan mendekati tempat terang. Pesta pora. Dua gelas kopi panas kembali disajikan oleh Nyi gandasari, kekasih Ki Silah yang bahenol. Beberapa potong ubi rebus dan pisang goreng menambah hangat badan kedua kawan lama itu yang mulai menggigil.

"Coba Ki bayangkan, masa ada orang yang gajinya setengah milyar setahun, tapi kerjanya malas-malasan."

"Hm," Ki Silah masih asyik menyeruput perlahan kopinya, "pasti orang itu pencuri."

"Hus, jangan sembarangan. Bukan, bukan pencuri. Kata Mbak Nana sih orang itu kantornya di Jakarta, di daerah Senayan kalau gak salah."

"Itu mah anggota dewan."

"Nah, iya itu Ki, anggota dewan. Kan orang itu wakil rakyat ya, Ki?"

"Iya, Kabayan. Jumlahnya banyak, bukan hanya satu orang dua orang."

"Nah, kalau kerja mereka loyo, malas-malasan dosa dong."

"Itu kan sudah sepantasnya mereka dapat gaji yang besar. Kerjanya juga berat Kabayan."

"Berat apaan, Ki. Mereka itu tugasnya kan buat undang-undang, tapi dalam setahun cuman enam yang bisa dibuat. Kerjanya ribut melulu, bahas yang enggak penting, jagonya mengritik, tapi kalau dikritik gak mau."

"Ish, kamu bisa omong seperti itu darimana, hah? Jangan asal omong."

"Lho, itu kata Ren, Ren, siapa itu yang pengarang buku Change Ki?"

"Siapa? Kamu mah asal ngomong aja."

"Rhenald Kasali, Ki. Iya itu," satu suapan terakhir pisang goreng dilahap Kabayan dengan muka penuh kemenangan, "malah dia kasih nilai buat anggota dewan cuman 2,5!"

Glek! Ki Silah tersedak minumannya sendiri, "apa kamu bilang, 2,5?!" baju pangsinya terkena muncratan cikopi yang tersembur dari mulutnya, "nilai segitu mah buruk sekali Kabayan. Si Utun saja yang anak sekolahan dapat nilai 5 sudah jadi aib buat saya, abahnya."

"Nah, itu tadi Ki. Saya bingung dengan wakil rakyat yang katanya terhormat itu."

"Eh, tapi jangan berburuk sangka dulu. Siapa tahu itu hanya omongan yang ingin menjatuhkan nama baik para anggota dewan."

"Nih, gini Ki Silah. Giliran ada salah yang dilakukan lawan politiknya mereka langsung bersuara lantang, ini gak bener, itu gak bener, dan mereka mengklaim sebagai badan pengawasan sudah menjadi kewajibannya memperingatkan."

"Tapi giliran ribuan calon jamaah umroh yang kena tipu, guru-guru honorer di provinsi termuda yang haknya 'dirampas', mereka semua tidak ada yang bersuara," telunjuknya terus bergerak kesana kemari seakan kekesalan Kabayan bisa didengar oleh anggota dewan, "bilangnya sih, kita membela yang terzalimi, sesama saudara. Pret, tai ucing!"

"Tenang Kabayan, tidak usah emosi seperti itu." 

"Memangnya para calon jamaah umroh itu bukan saudaranya, memangnya guru-guru honorer sebagai ujung tombak peradaban negeri ini, tidak pantas buat dibela? Iya, hah?"

"Kenapa kamu jadi marah-marah ke saya? Sadar heh, borokokok."

"Saya tahu sekarang. Pokoknya kalau ada keuntungan secara politik, ada peluang buat merebut kekuasaan, bisa melempar isu agar rakyat jadi benci sama satu golongan tertentu sehingga lawan politiknya terjengkak, baru mereka bersuara lantang, seolah membela rakyat kecil. Iya, kan?"

"Tanya saja ke mereka, kenapa terus menerus kamu tanya ke saya?" meja bambu di hadapan Ki Silah sekali digebrak, membuat Kabayan tersontak kaget.

"Eh, iya Ki, maaf, hapunten saya terlalu emosi."

"Dasar Si Borokokok siah Kabayan."


TAMAT




*) ngawangkong = ngobrol obrolan santai di teras rumah, biasanya ditemani kopi pahit panas dan goreng pisang

1) siraru = laron

11 comments:

  1. Tenang Kabayan, tidak usah emosi seperti itu.

    ReplyDelete
  2. Biarpun begitu, saya teh setuju sama Kabayan. Applausss... ^_^
    Ikutan emosi ini :D

    ReplyDelete
  3. Dasar si borokokok. Sabar atu hihi

    ReplyDelete
  4. Aih kabayan, bagi atuh pisang goreng sama kopinya

    ReplyDelete
  5. Opini politik yg dikemas dengan ringan, aku suka

    ReplyDelete
  6. Eh kabayan, jangan kritik doank. Jadi anggota dpr juga napa.. Biar kalo ada kamu, dpr makin baik. Aamiin

    ReplyDelete