:::: MENU ::::

Malam telah melewati tengah. Tak lama lagi dua pertiganya akan tiba. Samar-samar suara kokok si jago dari kejauhan. Tapi semuanya tak membuatku tersadar dari apa yang sedang kulakukan. Otakku sangat penuh. Pikiranku menerawang jauh. Sangat jauh dari kampung tempatku tinggal. Dan apa yang kulakukan kini, akan mengubah sejarah negeri ini, menjadi sebuah negeri yang porak poranda.

-ooOoo-

Entah sejak kapan dajjal telah merasuki diriku. Sampai kini, antara sadar tak sadar, aku tetap senang melakukan semuanya. Sebuah kesenangan ketika berhasil membuat orang lain terpuruk. Jangan memandang sinis seperti itu. Mereka menjadi terpuruk seperti itu tentu saja bukan salahku. Toh, mereka yang berbuat. Maka, Tuhanlah yang mengazab mereka. Aku?Aku hanya mempercepat datangnya azab kepada mereka.

Selama aku membenci orang itu, selama itu pula tak ada kebaikan pada dirinya. Salah siapa banyak omong. Salah siapa selalu menyerang keputusan yang kubuat. Gampang saja. Sekali kukorek kesalahannya, tamatlah riwayatnya. Benar kan, dia kini tak lagi mendapat apa pun dari teman-temannya. Bahkan harta dan jabatannya dipeloroti setelanjang-telanjangnya. Hahaha, aku senang sekali. Sekali lagi, dia sendiri yang berbuat salah. Tanggung sendiri akibatnya.

Kau pernah lihat iblis? Hoho, tentu saja belum. Kau tak punya kemampuan untuk itu. Namun ketika bangsa terkutuk itu bersemayam pada diri manusia, kau akan lihat dengan sangat jelas kelakuannya. Bukankah iblis selalu mengajak umat manusia ke dalam kesesatan? Iya, kan?

Tentu saja. Lalu, apa bedanya dengan orang yang senang menggunakan alat pembunuh, dan membunuh mansuia lain yang menurutnya sesat. Kaafir. Dengan gagahnya mereka merusak tempat tinggalnya. Lalu, dengan sekali picu, tewaslah orang-orang yang mereka benci, mereka anggap sesat. Pertanyaannya, dalam keadaan apa manusia lain yang "sesat" itu mati? Dalam keadaan baikkah? Atau masih dalam keadaan "sesat"? Jika seperti itu, apa bedanya mereka dengan iblis, membuat manusia-manusia lain tetap dalam kesesatannya.

Ah, mungkin ini terlalu berat kau dengarkan. Jadi, tidak usahlah kau anggap serius, karena aku telah kerasukan dajjal. Dan kau tak akan percaya. Karena diriku bisa menjelma menjadi apa pun. Diriku sangat pandai bersilat lidah, siapa pun yang mengajak diriku debat, aku pasti akan menang. Kau akan kusihir dengan semua uacapanku. Tiba-tiba diriku berubah menjadi seorang jenderal. Pada waktu lain, menjadi orang alim dengan sorban putih, gamis putih, dan janggut tebal. Jika pagi menjelang, kau hanya akan melihat seorang manusia biasa yang selalu menarik simpati manusia-manusia pintar tapi gampang dibodohi.

-ooOoo-

0 komentar:

Post a Comment