:::: MENU ::::


Bukan membenarkan yang terbiasa, tapi biasakanlah yang benar. 

Mengingatkan kembali bahwa dalam perbendaharaan kosa kata, kita banyak menggunakan kata --karena sudah biasa-- yang dianggap benar. Hanya dianggap benar.

Kelirumologi dicetuskan pertama kali oleh seorang "bakul jamu" Jaya Suprana. Beliau --merupakan seorang pianis, kartunis, seminaris, humorolog, jamulog, kelirumolog-- orang yang pertama kali menggunakan istilah kelirumologi pada tahun 1996. Dalam kurun waktu 2 tahun beliau mengumpulkannya dalam buku-buku Kaleidoskopi Kelirumologi jilid I sd VII. Ada lagi Ensiklopedi Kelirumologi yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Jaya Suprana juga menulis Kelirumoligi Genderisme dan Kelirumologi Reformasi. 

Istilah "kelirumologi" saja sebetulnya sudah salah. Karena jika istilah itu mengacu pada sebuah ilmu yang mendiskusikan kekeliruan dalam kosa kata, seharusnya menjadi kelirulogi. Namun itulah Jaya Suprana. Dengan istilah yang dicetuskannya, dia semakin menegaskan bahwa itulah kesalahan yang lazim digunakan orang-orang.

Sering sekali kita temui percakapan seperti ini, pada saat seseorang membeli makanan. Apakah itu di warung nasi, gado-gado, ketoprak, atau bubur ayam. Lalu si pelayan akan bertanya, minumnya apa, Mas? Kira-kira apa jawaban dari si pembeli? Mereka --atau kita pun sering-- menjawabnya dengan air putih saja.

Nah lho. Untung si pelayan tidak balik bertanya, maksud lo apa: air susu, air santan, atau air kapur? Paham ya. Air putih itu berarti air berwarna putih (memangnya putih itu warna ya? Ungkapan warna putih saja sudah keliru). Putih bukan bening atau transparan. Anehnya si pelayan langung ngeuh dengan keinginan pembelinya, langsung menyodorkan segelas air bening. Tapi, kalau kita menjawab dengan air bening atau air transparan, apa tidak jadi rancu dan aneh ya, hehehe ....

Masyarakat Jawa Barat, dengan budaya Sundanya berhasil menggunakan kata tersebut lebih tepat. Ungkapan "air putih" yang dimaksud kita sebagai air bening memiliki makna yang sama dengan "cihérang", yang berarti air bening (dari ci atau cai yaitu air, dan hérang diartikan sebagai bening). Saya pikir lebih tepat dengan istilah cihérang. Istilah itu digunakan dalam masyarakat Sunda sudah sangat lama, ratusan tahun lampau. Dari kata cihérang ini seharusnya lebih menyadarkan kita bahwa karuhun kita sudah lama bijaksana dan ilmu yang luhung.

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA: "SAMPURASUN"

Kelirumologi lainnya terdapat pada kata "WC" yang merupakan kata serapan dari water closed, mengalami pemendekan istilah menjadi WC. Ehm, coba bagaimana kita mengucapkan kata tersebut? 

Apa? We-se atau dabl-yu se. Pernahkah kita mengucapkannya dengan we-ce? Ih, kaku amat kedengarannya ya, we-ce. Lalu apanya yang salah kalau kita bilang, maaf Mbak, mau tanya kalau we-ce di sebelah mana ya? Bukankah kata tersebut hanya dua huruf, yaitu "w" dan "c". Darimana kita bisa mengatakan se? Bahasa Indonesia, bukan. Apalagi Bahasa Inggris, jelas-jelas bukan. Karena jika dieja dalam English akan menjadi dabl-yu sie.

So, biasakan dengan mengatakan "we-ce" ya. Hmm ....

Kata lainnya adalah aqua yang dimaksudkan jika kita hendak membeli air mineral. Dan itu sudah digunakan sangat lama, sehingga kita pun akan menganggapnya sebagai ungkapan yang lazim dan dibenarkan. Bukankah aqua sebuah merk dagang air mineral? Apa jadinya kalau kita bilang, Pak, beli aqua botol satu dus, lalu diberi sanqua yang jelas-jelas salah, dan kita menerimanya tanpa ada gerutuan, si bapak penjualnya pun memberikan satu dus sanqua tanpa pernah merasa bersalah? Weleh-weleh. Senada dengan aqua kita juga menggunakan kata odol, yang merupakan sebuah merk dagang untuk kata pasta gigi.

Apalagi? Kelirumologi dalam penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia, adakah?

Banyak. Salah satunya kata "pagelaran", yang mempunyai kata dasar gelar. Nah, dalam kata yang berimbuhan tidak ada imbuhan pa - an. Kalau ingin menggunakannya dengan benar, bisa mengikuti padanan kata lain. Misalnya: sama = persamaan; baik = perbaikan; tiga = pertigaan; ada penambahan imbuhan per - an. Kata gelar pun sama. Bukan mendapat imbuhan pa - an, tetapi per - an, menjadi pergelaran.

Sangat banyak memang kita (khususnya saya sendiiri) menggunakan kata yang jelas-jelas salah, tetapi kita sudah terbiasa menggunakannya. Entah, apakah karena bahasa kita begitu beragam, lalu terbiasa dengan satu kata, sehingga sulit untuk membiasakan ejaan yang benar. Atau karena pengetahuan awal kita dalam berbahasa begitu dangkal, lalu terkaget-kaget dengan istilah baru. Akhirnya tidak menggunakannya sama sekali dengan alasan ribet. Atau bisa jadi karena kita memang tidak acuh dengan sesuatu yang benar. Dengan ketidakacuhan orang-orang di negeri ini, tidak heran kalau ada seorang yang bersorban, berpeci haji, bersarung, tidak mau ditilang oleh polisi karena tidak mengenakan helm, karena "pa haji" itu merasa tidak perlu mengenakan helm karena sedang sudah ada peci hajinya.

Ada yang mau menambahkan kelirumologi lainnya? Silakan tulis di kolom komentar. ^_^


#OneDayOnePost


*) Khazanah: 1 barang milik; harta benda; kekayaan; 2 kumpulan barang; perbendaharaan; 3 tempat menyimpan harta benda (kitab-kitab, barang berharga, dan sebagainya).

**) Acuh:  peduli; mengindahkan. Tetapi sebagian orang akan mengartikan acuh sama seperti cuek. 

***) Cuek: masa bodoh; tidak acuh.

15 comments:

  1. Mencerahkab artikelnya. Makasih kang, btw kang dwi guru kimia y, paham juga b indo. Keren cuy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah.. seneng aja mbak Dika, kalo baca buku, kadang apa aja dilahap, hehe

      Delete
  2. Kadang suka ketawa kalau memikirkan kata bahasa indonesia yang digabung 'yang penting semua memahami'

    ReplyDelete
  3. Santapan siang yg bermakna 😁

    ReplyDelete
  4. Save.
    Terimakasih Pak Guru ^_^

    ReplyDelete
  5. 🤣😅 meski keliru tp dilakukan semua orang...

    Btw baru tau Jaya Suprana pianis juga 😅

    ReplyDelete
  6. Baru tahu ada ilmu Kelirumologi~ *o*)/
    /note
    Ilmu baru nih.. Hihi~ ^^

    ReplyDelete
  7. Terima kasih ilmunya kang.
    Tapi si pak haji kok nggak mau ditilang ya.?
    Lucu lucu

    ReplyDelete
    Replies
    1. mngkin ngerasa peci.hajinya lebih berharga dibanding helm #heee

      Delete