:::: MENU ::::
 

Aku terpekur mendengar apa yang dikatakannya. Perlahan berusaha mencerna, apa makna yang tersirat dalam rangkaian ceritanya.

"Mau mendengar kelanjutan cerita ini?" senyumnya selalu membuatku teduh.

"Iya Ki, tentu saja," mataku mengerjap, setengah melamun ketika bagian akhir cerita itu pikiranku entah berada di mana, "malah semakin penasaran kalau tidak sampai akhir."

Beliau terkekeh. Geriginya putih. Hanya dua buah yang tanggal di bagian kanan atas, membuat raut wajahnya lucu.

"Mudah-mudahan kau paham apa yang Aki ceritakan." Aku tersenyum kecut, seakan-akan matanya bisa menembus apa yang ada dalam pikiranku, "tidak perlu memaksakan diri untuk memahami cerita Aki ini, Cu. Kalau tidak tidak paham bilang saja ya."

Melihat cucunya mengangguk, Aki Palwaguna, berdehem. Lalu melanjutkan ceritanya.

"Seorang manusia menjadi mulia tentu saja karena ikhtiarnya. Banyak orang begitu disanjung oleh orang-orang di sekitarnya, karena dia sering membagi-bagikan hadiah. Siapa yang tidak senang dengan hadiah."

"Sayangnya manusia sering lupa bahwa ketenaran terkadang menjadi tujuan hidupnya. Lalu mereka berlomba-lomba agar selalu tenar, agar orang-orang di sekitarnya selalu menyukainya. Padahal tujuan hidup bukan untuk dipuja-puja manusia."
Wajahnya semakin menunduk. Petuah kakeknya begitu meresap dalam hatinya. Atau bisa jadi karena ucapan kakeknya begitu sulit dimengerti oleh seseorang yang beranjak remaja.

"Tujuan hidup manusia yang paling hakiki adalah mendapat ridaNya. Dan jika memang harus masuk neraka, Aki akan ikhlas memasukinya, asal Allah rida ...."

-ooOoo-

Sudah menjadi rutinitas jika hari libur rumah kakek akan ramai. Semuanya berkumpul di sana. Anak-anaknya, cucu-cucu, bahkan anak-anak dari cucu kakek menyengaja berkunjung membawa rasa rindu yang syahdu. Tak ada sebuah perayaan, tak perlu membawa barang-barang mewah sebagai oleh-oleh, kami hanya bertemu, berkumpul di ruang tengah, berbincang hangat, tertawa-tawa dan makan apa pun yang disajikan oleh nenek.

"Bawa makanan ini ke depan, Nai." getaran suaranya terdengar jelas.

"Iya Mak," aku menerima sodoran nampan berisi ubi rebus, kacang tanah, dan kue basah lainnya, "biar Rinai saja yang masak. Emak duduk-duduk saja di ruang tengah."

"Ih, tidak boleh begitu. Tidak apa-apa kok, Nai. Lagi pula sebagai tuan rumah yang baik, kamu harus menyajikan yang terbaik buat tamu kamu."

"Tapi kan mereka bukan tamu."

"Apalagi bukan tamu, mereka anak-anak Emak semua." Senyumnya begitu teduh. Entah rapalan apa yang selalu dibacakan Emak, hampir tak pernah terlihat di wajahnya sendu.

"Iya, Rinai paham kok. Emak tuh pokoknya the best lah, pasti suguhannya istimewa, padahal Emak sendiri gak masih kekurangan ...."

"Hush! Sudah sudah. Selama kita masih bisa berbuat baik, berbuat baik saja, tidak usah mikir yang lainnya," hatiku bertambah mengembang mendengar apa yang Emak katakan, "tuh, yang di ruang tengah sudah pada kelaparan. Lekas bawa nampannya ke sana."

Mereka menyambutku dengan tawa. Dan memang inilah yang sedari tadi ditunggu, pengganjal perut. Jika perut penuh, maka hanya ada suka cita yang menyemburat memenuhi sesisi rumah. Tak terkecuali bocah-bocah, yang bermain di teras rumah. Begitu tahu makanan disajikan di ruang tengah, mereka menghambur masuk berlarian, membuat kegaduhan.

"Ini Rinai kan?" aku mengangguk menatap paman iparku, " sudah besar sekarang kamu, Nai. Masih sekolah, kelas berapa?"

"Sudah selesai SMA, Mang. Sekarang kuliah tingkat dua." Bola matanya mengerling, menyimpan sorot yang tak kuketahui apa itu.

"Ah, waktu berjalan sangat cepat. Coba dari dulu tahu, kamu mau masuk kuliah, mungkin bisa paman bantu." Aku tak mengerti arah pembicaraannya.

"Memangnya kenapa, Mang?"

"Ah, tidak apa-apa," jemarinya seakan sedang merapal mantra dengan gerakan berpola yang tak kumengerti, "jadilah seperti kakekmu, menjadi seorang tokoh penting di departemen. Tapi, hati-hati saja. Biasanya jika pohon sudah menjulang tinggi, biasanya gampang ditiup angin dan roboh."

Wajahnya menyeringai.Terkekeh.

-ooOoo-

"Halik siah, nyingkah. Ulah deukeut-deukeut jeung aing!" teriakannya membuat Emak menangis tertahan, "kalau tidak ikhlas, tidak usah anggap lagi saya suami kamu."

"Ampun paralun, Bapak. Emak bukan tidak ikhlas, tapi tidak tahan sama teriakan Bapak." Air matanya berderai. Bergetar menahan kesedihan yang menyayat.

"Ah, mana ada istri yang menyediakan makanan tidak enak seperti ini."

"Ini rendang dari warung sebelah. Coba saja makan dengan tenang, tidak usah emosi."

"Apa, kamu mau ngajarin saya, iya?!" mata Aki nyalang. Entah kerasukan apa perangainya berubah menjadi kasar.

"Sadar, eling. Kenapa Bapak sedikit-sedikit selalu marah. Bicara baik-baik kan bisa, tidak perlu ...," gertakan Aki membuat tubuh Emak semakin gemetar.Tak percaya keadaan suaminya yang berubah.

"Pergi sana, tidak usah ada di rumah ini lagi! Pergi!"

"Bapak ...." anak-anaknya hanya bisa menyaksikan teriakan Aki berpadu dengan tangisan Emak dengan tatapan nanar.

"Istri sama anak sama saja, tidak ada yang becus!"

Mereka tak mampu berbuat apa-apa. Segala cara, membujuk, menasihati, menegur dengan nada tinggi, tidak mampu membuat amarah Aki reda. Malah semakin menjadi-jadi ketika Aki menganggap mereka berbuat baik kepadanya hanya menginginkan harta.

"Aki istighfar ya, Ki. Rinai bantu baca selawat dan surat Yasin. Aki harus kuat ...."

"Diam! Kamu juga sama saja. Hanya menyusahkan Aki dan Emak!"

-ooOoo-

Kami menatap pusaranya lamat-lamat. Hanya kami berdua, saya dan Emak. Gerimis sudah lama berhenti, menyisakan tanah liket dan udara lembab. Lama kami saling diam, penuh dengan pikiran masing-masing, mengenang Aki Palwaguna dengan segala kisah kebaikan dan penderitaan di akhir hayatnya.

R.M Palwaguna bin R.M Haji Umar Said

Lahir: Sumedang, 1917

Meninggal: 31 Januari 2008

"Emak baik-baik saja kan?" aku menatap rona yang menyisakan air mata. Lantunan ayat suci baru saja selesai dibacakan oleh kuncen makam.

"Iya Rin, Emak tidak apa-apa." Wajahnya begitu teduh.Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya. "Aki adalah manusia paling jujur yang pernah Emak kenal."

"Saya ingin mendengarnya, kisah tentang Aki. Emak masih ingat ceritanya?"

"Aki Palwaguna, manusia yang tidak pernah silau dengan harta. Kau tahu Rinai, dengan otak yang cemerlang, kakekmu dengan mudah menapak karirnya dengan cepat. Hanya butuh dua dekade semenjak Aki diangkat menjadi orang dinas, dia menjabat sebagai pengawas dinas pendidikan."

"Sebuah jabatan yang prestisius tentu saja.Dan yang lebih penting lagi, jabatan itu adalah lahan yang basah," mata Emak mengerjap mengingat godaan yang teramat besar ketika suaminya menduduki jabatan itu.

"Terus Mak, apa yang terjadi?"

"Aki tak pernah tergiur dengan apa pun, dengan harta sebanyak apa pun. Kau tahu, sampai akhir hayatnya Aki tak pernah memiliki mobil. Dia hanya mewariskan motor Vespa butut dan uang yang tak seberapa banyak."

"Emak menyesal menjadi istri Aki?"

"Hus, pertanyaan apa itu. Tentu saja Emak tidak pernah menyesal. Malah merasa bangga sudah ikut berjuang dengannya. Seperti kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, setiap derajat keimanan pasti diminta pengurbanan."

Perlahan, rintik hujan mulai turun lagi. Gerimis. Suasana syahdu siang itu semakin membuatku kagum kepada sosok Aki Palwaguna. Entah apa yang orang lain katakan, sekian lama menjabat, tidak pernah mempunyai harta apa pun. Ah, aku tak dapat berucap apa pun.

"Begitu luar biasanya Aki, tempat tinggal kami pun hanya sebuah rumah petak hasil pemberian kawan baiknya. Emak akan kasih satu rahasia lagi kepada kamu Rinai."

"Apa itu Mak?" mataku tak berkedip.

"Hadiah paling istimewa dari kakekmu hanyalah kain kebaya yang selalu Emak pakai ini."

"Hanya itu Mak?" aku tak percaya.

"He em. Hanya ini."

Langit semakin kelabu.Barisan awan hitam mulai mengerubung. Tampaknya hujan deras tak akan lama lagi turun. Kami beranjak.


-ooOoo-

#OneDayOnePost

4 comments:

  1. Replies
    1. sebenarnya belum selesai, ada seseorang yg "wajahnya menyeringai terkekeh", dia lah peyebabnya

      Delete
    2. Berarti masih ada sambungannya kan Kang?! ^_^

      Delete