:::: MENU ::::

Malam ini hamba terpekur, menumpah ruah buliran air mata, dalam sajadah panjang

Beribu malam telah kulalui Yâ Allâh, beribu langkah pula hamba menarik kereta diryah

Hamba tidak ingin kereta diryah ini membuat ruh dan sukma hamba tersesat

Yâ Rabb, Engkau Mahaperkasa ...

Apa daya diriku tanpa pertolongan dan kuasaMu. Hamba hanya sebuah wayang rapuh dalam genggaman sang dalang. Setiap saat ku menyebut Asma-Mu, namun tak jua membuatku merasa menjadi insan kamil

Yâ Rabb, Engkau Mahaadil ...

Namun hamba tak pernah berusaha berbuat adil. Bahkan sejak dalam pikiran, hamba tak pernah berusaha menjadi orang yang berpikir adil. Hamba lebih senang melihat keburukan orang lain daripada kebaikannya. Hamba lebih senang mengumbar aib orang lain daripada menutupinya. Hamba lebih senang mempertontonkan kebaikan hamba

Yâ Rabb, bukankah Engkau Maha Mengetahui sedang hamba ini adalah manusia dhoif ....

Lalu mengapa hamba selalu merasa paling mengetahui? Mengapa hamba seakan-akan paling menguasai suatu ilmu dibanding orang lain? Mengapa pula hamba selalu merasa telah memahami satu ayat padahal baru tahu satu huruf dan selalu merasa telah khatam satu surat padahal baru tahu arti satu ayat?

Yâ Allâh, hamba selalu menyebut kemahabesaranMu, dalam sujudku, dalam hidupku ....

Ah, selalu saja. Ketika mengucap kemahabesaranMu, Yâ Allâh, bukannya hamba merasa menjadi kerdil, merasa rendah di hadapanMu. Malah hamba merasa menjadi besar, merasa lebih hebat, merasa paling akbar dibanding makhluk-makhukMu yang lain. Dan pakaianMu yang seharusnya tak pantas kukenakan, malah dengan bangga hamba memakainya: sombong.

Yâ Allâh, hanya Engkaulah Yang Mahabenar ....

Dan hamba selalu mengucapkan kebenaran. Ya, tidak pernah berbicara salah. Apa pun! Ketika berbicara, itulah kebenaran, dan harus dipertahankan mati-matian bahwa itulah kebenaran. Siapa pun yang menyangkalnya adalah salah. Ya, siapa pun yang menyangkalnya berarti telah ingkar kepada kebenaran, telah ingkar terhadap apa yang hamba ucapkan. Lalu, hamba merasa hamba lah yang selalu benar. Apa bedanya dengan dirimu Yâ Rabb, Yang Mahabenar?

Engkau adalah Yang Maha Melihat ....

Seharunya hamba pun bisa melihat kebenaran. Melihat apa yang dilakukan orang lain benar atau salah. Bukan melihat siapa yang melakukannya, tetapi apa yang dilakukannya. Bukan siapa yang mengucapkannya, namun apa yang diucapkannya. Lalu, hamba hanya melihat siapa. Selama orang itu adalah junjungan hamba, maka akan selalu hamba amini.  Seburuk apa pun perkataannya, sejelek apa pun perbuatannya, hamba akan selalu membenarkannya. 

Namun, ketika orang lain pernah melakukan kesalahan, pernah melakukan zalim terhadap hamba, maka selamanya hamba tidak akan pernah mengamini perbuatannya, tidak akan pernah mengamini ucapannya. Apalagi berterima kasih kepadanya walapun dia melakukan beribu maaf dan beribu kebaikan. Walaupun dalam nurani hamba mengakui perkataannya benar, walaupun perbuatannya baik, akhlaknya karimah, walaupun selalu membela nilai kemanusiaan, tidak pernah membuat hamba bersimpati kepadanya, berterima kasih kepadanya, atau sekadar memohon maaf kepadanya.

Hati hamba sudah diliputi kebencian Yâ Salâm, Yâ 'Adl .... Padahal dalam fimanMu, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlakau adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa 1). Hamba selalu abai, selalu mengingkarinya. Serta merta menghukum mereka karena berbeda faham, serta merta memberi label kepada mereka kufur hanya karena berbeda prinsip. Dengan bangganya, hamba merasa jauh lebih baik dibanding mereka, dan hamba selalu yakin golongan kami jauh lebih diridhai dibanding golongan mereka. Sedangkan Engkau telah berfirman, hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan sekumpulan yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik dari mereka (yang merendahkan) 2)

Yâ Quddûs, malam ini hamba menghisab diri hamba sendiri ....

Apakah hamba ini termasuk golongan kufur? Ketika kuucapkan Allâhu Ahad, lalu hamba membayangkan angka satu atau tunggal, hamba telah menyamakan diriMu dengan makhluk. Ketika kuucapkan Allahu Akbar, lalu hamba merasa besar, merasa apa yang hamba lakukan adalah kehendakMu, padahal diriMu melampaui semua pikiran makhlukMu. Padahal Zat-Mu mukhalafatu lil hawadits. Lalu hamba selalu berkata ini adalah anugerah, itu adalah azab. Kami sedang diuji, sedang mereka pasti sedang menerima siksa. Hamba seakan mengetahui dan mewakili kehendak-Mu.

Astaghfirullâh ... Rabbal baraaya

Astaghfirullâh ... Minal khataaya

Yâ Rasulullâh ... salamun 'alaik

Yâ rofi 'asyâni waddâraaji ...

'Athfataiyaji râtal 'âlami ...

Yâ ûhaila jûdi wal karami ...


-ooOoo-
#OneDayOnePost

5 comments: