:::: MENU ::::

Jangan sampai karena sudah hafal satu huruf, kita merasa sudah khatam satu surat.


 Dalam budaya Sunda, setiap berjumpa dengan orang lain (dikenal atau tidak) selalu mengucapkan "sampurasun". Dalam berbagai literatur terdapat salah satu pengertian dari kata tersebut, yaitu "hampura ingsun."

"Hampura" berarti mohon maaf, sedang "ingsung" atau "sun" menunjuk kepada diri sendiri. Sehingga jika diartikan keseluruhan, sampurasun mengandung pengertian mohon dibukakan pintu maaf buat diri saya. Luar biasa bukan?
Betapa sangat bijak dan tinggi kepribadian leluhur (sesepuh atau karuhun) kita zaman dulu. Bahkan sebelum berbincang atau mengutarakan maksudnya, kita sudah memohon maaf terlebih dulu. Untuk apa? Bisa saja ketika kita bertamu orang yang hendak ditamui sedang istirahat, atau orang tersebut sedang dalam urusan pentingnya, atau pada waktu lalu pernah terucap kata yang menyinggungnya, baik orang itu sudah kenal atau hanya selintas bertemu.

Jangankan menganggap rendah orang lain, jangankan menunjuk orang lain bahwa dia salah, jangankan menertawakan sesamanya hanya dianggap ilmunya jauh di bawah dirinya. Urang Sunda selalu merasa dirinya sendiri lah yang layak meminta maaf terlebih dahulu. Selalu merasa dirinya lebih rendah dalam hal keilmuannya (fakir, tidak memiliki pengetahuan). Dan itulah sebenarnya akhlak mulia yang dicontohkan oleh Baginda Nabi 'sholallahu alaihi was salaam'.

Nah, jika semua orang berkepribadian seperti itu, jika semua manusia mempunyai akhlak mulia seperti itu, maka tidak ada lagi debat kusir yang hanya mengorek aib orang lain, mengguar kejelekan dan kekurangan "saudara"nya sendiri. Maka, tidak akan ada lagi komandan yang sok, yang selalu merasa lebih hebat, selalu merasa lebih pintar dibanding bawahannya. Tidak ada lagi yang berkata, 'hanya saya yang bisa seperti ini, orang lain mana ada yang bisa melakukan hal yang saya lakukan'.
Demikian, semoga bermanfaat. Tabik!


Cikande Indah, awal Maret 2018

#OneDayOnePost

5 comments: