:::: MENU ::::

Langkahnya terhuyung. Setapak demi setapak. Badannya membungkuk. Tepat ketika berada di tempat istirahatnya, senyum mengembang. Sumringah. Mata sayu itu menatap lamat-lamat bebatuan yang berjejer rapi, dihiasi oleh rerumputan menghijau. Tak ada seorang pun di sana.

Bukankah hari ini adalah Jum'at. Bukankah Seharusnya orang-orang berpakaian putih sudah ramai menyemut, bersiap-siap sembahyang. Tapi, pagi itu tak ada seorang pun yang menampakkan diri, hanya  dia -- Pria tua dengan pakaian compang-camping, kotor, dan bau -- yang berada di sana, menampakkan geriginya yang menghitam dan tanggal di sana-sini.

“Nah, sudah tenang sekarang kan? Tidak ada lagi kecemasan yang hinggap dalam hati kalian,” suara lantangnya membuat burung-burung kecil sontak berhamburan, “berbahagialah wahai teman-teman!”

Senyap.

“Akulah kini yang dirundung malang. Sungguh malang. Kalian tahu kenapa?” suaranya bertambah lantang, namun matanya berkabut. Isakan mulai kentara seiring rintik yang mulai turun.

“Aku merasa menjadi manusia paling malang. Bukan sedih karena meratapi diri sendiri. Bukan! Lihatlah teman, gerombolan orang yang sibuk dengan urusan dunianya. Banting tulang mencari penghidupan, berdagang, mengayuh becak, bekerja di pabrik, menjadi bos dengan tangan selalu berkacak. Bukankah hari ini mereka seharusnya bergegas menuju masjid untuk bersembahyang? Bukankah sebentar lagi Tuhan mereka memanggil-manggil untuk datang ke rumah-Nya?”

“Beruntunglah kalian sahabatku. Tidak ada lagi waktu buat kalian buat berbuat dosa!” tangisnya mulai mereda, “siapa manusia yang lebih beruntung, selain manusia yang diberi kenikmatan diputus segala kesempatan melakukan keburukan. Manusia itu adalah kalian, wahai saudara seimanku.”

Rintik seakan merasakan kesedihan pria tua itu. Butiran air halus, turun lembut, membelai rambut gimbalnya yang kusam. Tak ada angin menderu, tak ada koakan gagak atau sekadar bebunyian serangga. Semuanya tengah menyaksikan pertunjukkan dua makhluk yang saling memadu. Alam seakan terhanyut, terbawa suasana melihat rintik dan pria tua itu dirundung duka yang dalam.

“Hai Ahmaq, apa yang kau lakukan di sana?” teriakan seorang laki-laki membuyarkan tangisan pria tua. Tubuhnya bergeming, tetap bersimpuh di depan bebatuan yang berjejer rapi.

“Mereka semua sudah mati, kenapa kau selalu berbicara dengan orang yang tak pernah menjawab omongan kau, Ahmaq.” laki-laki gagah berpakaian gamis putih-putih itu mencoba merajuk. “Apa yang kau harapkan, hah? Tak ada seorang pun di sana yang dapat membuatmu gembira. Tak ada. Apalagi nisan-nisan yang sudah bulukan itu. Jangan pernah kau ratapi, itu syirik!”

Satu laki-laki lainnya mendekat, “hai fulan, kau sedang bicara dengan pria tua majun itu? Apa akal warasmu sudah hilang?"

"Hanya Si Ahmaq yang sudah kehilangan kewarasannya, akhi, sudah hilang imannya, sampai dia meratap di depan batu-batu bisu itu.”

“Kau sudah tahu, si majnun itu selalu berbuat begitu. Dia sudah musyrik. Kenapa kau tetap berbicara dengannya?”

“Aku mendengar semua apa yang kau bicarakan, wahai anak muda!” suaranya bergetar hebat, “kalian semua benar. Aku adalah pria uzur yang telah lama membuang kewarasannya!” tubuhnya tetap bersimpuh. Takzim.

“Dan kau telah menyembah batu-batu bisu itu!”

“Tidak!” suaranya menggelegar, lalu secepat kilat tubuhnya bangkit, berdiri tegak. “Kalian yang telah musyrik!”

“Kau mengigau, pria tua! Kau tidak pernah berbicara kepada kami. Malahan setiap hari mendatangi pemakaman ini, selalu saja berceramah kepada benda-benda tak bernyawa itu.”

“Apakah ketika aku bersimpuh di depan nisan teman-temanku, berarti aku telah menyembahnya? Apakah dengan berbicara dengan mayat-mayat itu aku telah menyekutukan Tuhan?” tangannya terangkat tinggi menunjuk langit, “sedang kalian dengan yakinnya mengatakan diriku telah ingkar, padahal kalian tidak tahu apa-apa tentang keyakinku.”

“Apa salah kami jika menganggap kau telah ingkar?”

“Kalian sudah merasa menjadi Tuhan!” kini tangannya menunjuk tajam ke arah dua orang pemuda tadi. “Kalian telah meyakini apa yang sebenarnya tidak kalian yakini. Kalian telah merasa tahu keyakinan orang lain, beriman atau musyrik, padahal wilayah itu hanya orang itu dan Tuhannya lah yang tahu.”

Tubuh pria tua itu berguncang hebat. Berbalik memunggungi kedua pemuda, lalu kembali tersungkur, bersimpuh di hadapan nisan sebuah makam.

“Lebih baik aku menceramahi mayat-mayat ini. Tidak ada satu pun yang membantah diriku, karena mereka sadar, mereka tidak mempunyai ilmu lagi. Sedang kalian sebaliknya. Selalu saja berbantah-bantahan, selalu mendebat setiap orang bicara, selalu meludahi orang-orang yang kalian anggap gila. Kenapa? Karena kalian selalu merasa mempunyai ilmu lebih, merasa lebih hebat dibanding orang lain!”

Rintik kembali turun. Semakin lebat. Mata pria tua itu pun berkabut. Perasaan sedihnya tak dapat lagi dibendung. Lolongan tangisannya menjadi, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding hebat.

-ooOoo-

0 komentar:

Post a Comment