:::: MENU ::::

: Tulisan Auf Zahra

Bulan puasa memang spesial. Banyak orang yang menyambutnya bahkan sejak jauh-jauh hari. Ada yang menyiapkan diri semenjak 60 hari sebelumnya, bahkan ada pula beberapa orang yang melakukan counting down 100 hari sebelum Ramadhan tiba. Kalau bukan karena bulan yang sangat spesial, istimewa dan penuh berkah, tentu hal-hal semacam itu tak akan terjadi, bukan?

Di bulan yang penuh berkah itu, muslim berbondong-bondong melakukan ibadah yang bermacam-macam. Berburu pahala dan menjauhi dosa. Puasa di siang hari, memperbanyak dzikir, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, shalat malam lebih panjang, menyantuni anak yatim, memberi makan orang yang berbuka, dan lain sebagainya.

Namun, apa yang terjadi setelah Ramadhan membalikkan punggungnya, pamit pergi. Ketika lebaran tiba, semua terlepas dari kewajiban berpuasa. Ketika 7 hari, 14 hari, sebulan dua bulan setelah Ramadhan melangkahkan kaki menjauh, dalam diri kita seolah tak ada bekas satu pun amalan yang membawa kepada perubahan diri menjadi lebih baik. 

Lalu, apa sebenarnya makna puasa yang telah dijalankan selama sebulan penuh itu? Apakah ketika sudah terlewatinya bulan Ramadhan kita bisa kembali kepada kegiatan-kegiatan ‘dosa’ yang selama di Ramadhan ditahan dan tidak dilakukan? Apakah puasa hanya sebatas formalitas spiritual belaka untuk menjalankan perintah-Nya. Dan tidak memberikan efek apa pun untuk si pelaku? Apakah puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus saja?

Err, … setelah selesai puasa ya sudah.
Done. 
Tugas selesai. 
Bebas bertindak semaunya lagi. Kita terlena lagi dengan dunia. Kita tertipu lagi dengan bisikan dan godaan setan. Dan semacamnya. Siklus itu terus saja berputar dan terulang. Lagi dan lagi. Tahun demi tahun. Begitu saja. 

Seperti tak ada evaluasi dan perenungan. Sudah sampai mana dan sejauh apa kualitas puasa kita, sampai-sampai di bulan selain Ramadhan, seolah kita tak merasa diawasi oleh-Nya. Di luar bulan Ramadhan, seolah kita tak perlu takut untuk melakukan dosa yang akan digandakan. Tak perlu takut kehilangan pahala saat memakan bangkai saudara sendiri dengan menggunjingnya. Tak perlu menjaga diri dari dari perbuatan yang merugikan untuk kita lagi. Apakah begitu? .
Ouch, mungkin pertanyaannya bisa diganti dengan begini. Apakah puasa hanya merupakan sebuah perintah dari Allah azza wa jalla yang menjadi tujuan akhir? 
Maksudnya?
Ya, maksudku begini. Apakah puasa itu tujuan akhir atau puasa sebetulnya merupakan sarana agar seorang muslim mencapai tujuan tertentu yang Allah inginkan? 

Untuk mengetahui jawabannya, sumber terbaik dan paling logis tentu adalah dari Al-Qur’an. Dengan cara menengok kembali ke Al-Qur’an. Kembali merenungkan dan menelaah ayat-ayat yang membahas tentang puasa. Tak hanya mempelajari hukumnya puasa. Tapi juga harus disertai dengan perenungan tentang makna dan apa tujuan puasa sebenarnya. Untuk apa muslim harus berpuasa? Kenapa muslim diwajibkan berpuasa pada bulan mulia ini? 

Ya, mungkin semua orang muslim sudah tahu hukumnya puasa; wajib. Wajib bagi mereka yang tidak ada udzur syar’i tentunya. Tak hanya itu, hampir semua muslim juga sudah hafal ayat yang mewajibkan puasa. Bahkan dengan artinya. Ya, ayat ke-183 surat Al-Baqarah. Selain tentang kewajiban, apa saja yang Allah sampaikan di ayat ke-183 Al-Baqarah tersebut? Ini menarik untuk dikupas lebih dalam. 

Di ayat tersebut, Allah berkata “La’allakum”. Seperti halnya di banyak ayat dalam Qur’an, Allah sering sekali menggunakan frasa “La’allakum”. Dia akan memberikan perintah atau memberitahu sesuatu, bla bla bla lalu muncul frasa “La’allakum”. 

Bahasa Arab memang unik. Satu kata saja bisa bermakna banyak. Misalnya kata ‘quruu’, itu bisa bermakna suci atau haidl. Jadi, maknanya ada dua. Bahkan ada yang lebih dari itu. Nah, salah satu kata yang bermakna banyak itu adalah kata “La’alla” di sini.

“La’alla” bisa bermakna sehingga. Jadi, ketika Allah berkata tentang apapun, Dia akan mengakhirinya dengan kata “La’allakum”. Sehingga kalian semua begini, begitu, dan seterusnya. 

Nah, ketika Allah berkata bahwa orang-orang yang beriman itu wajib berpuasa, itu Allah mempunyai tujuan. Dan tujuannya adalah setelah frasa “La’allakum” itu. Ya, tujuan berpuasa adalah sehingga orang-orang yang beriman, sehingga kalian semua, sehingga kita, sehingga kamu, semuanya bisa bertakwa.

Makna lain dari “la’alla” adalah supaya dan semoga. Dengan puasa Ramadhan ini Allah ingin kita, setelah melakukan puasa, semoga kita bisa bertakwa. 
Allah ingin berkata, “Aku mewajibkan kalian semua berpuasa itu, dengannya, semoga kalian bisa mendapat manfaat”

“Semoga kalian bisa lebih bertakwa, setelah kalian berpuasa sebulan penuh itu.”

Ini berarti, bahwa puasa bukanlah sebuah tujuan. Puasa adalah sarana untuk kita, orang-orang yang beriman, agar bertakwa. Kenapa kita harus bertakwa? Dan apa pula makna takwa itu? Bagaimana cara kita bertakwa? Itu yang menjadi pertanyaan selanjutnya.

Tentang makna takwa, kita banyak berbicara tentang takwa. Mendengar di setiap khutbah jum’at dan ceramah-ceramah bahwa muslim harus bertakwa. Tetapi, tak banyak dari kita yang tahu bagaimana cara bertakwa. Memang sih banyak orang yang mengartikan bahwa takwa adalah mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ya, itulah makna takwa dalam pengertian yang paling sederhana. Tapi, lebih detailnya bagaimana?

Eh, sebentar. Sepertinya takwa itu sesuatu yang agak, err… absurd, bukan? Ups … jangan salah paham dulu. 

Takwa di sini merupakan sesuatu yang bersifat ide atau gagasan. Muslim banyak yang berbicara tentangnya, tapi banyak pula dari mereka yang tak paham maknanya dan tak mempraktikkannya. 

Ya, muslim harus bertakwa. Tapi, bagaimana cara seorang muslim bisa mencapai derajat yang disebut sebagai muttaqun atau orang-orang yang bertakwa? Jawaban terbaik adalah, sekali lagi, dengan menengok kembali ke dalam Al-Qur’an dan tafsirnya. 

Para ulama tafsir terdahulu, banyak yang menggunakan tafsir dengan metode bil ma’tsur. Tafsir bil ma’tsur ini adalah tafsir yang menjelaskan suatu ayat dengan ayat lain di dalam Qur’an dan/atau menjelaskan ayat dengan sunnah, yang memang sebagian fungsi sunnah adalah sebagai penjelas dari kitabullah. Dalam konteks takwa ini, mari kita bedah dengan melihat maknanya terlebih dahulu. 

Dari beberapa sumber yang aku dapat—dalam tafsir Al Jalalain, Ibnu Katsir, Al Qurtubi, dan sumber-sumber bacaan lain—makna takwa, yang pertama, adalah takut. Seperti yang Allah jelaskan dalam surat Al-Baqarah [2]: 41. Nah, takut kepada siapa? Takut hanya kepada Allah saja. 

Makna kedua adalah taat dan beribadah. Taat dengan mengharap rahmat dari Allah dan takut akan siksa Allah. Taat dengan sebenar-benarnya taat dan beribadah dengan sebenar-benarnya ibadah. Seperti pendapat Imam Mujahid dan Ibnu Hatim. Sebenarnya, panjang pembahasan mengenai makna takwa ini. Tapi, sebagian penjelasan di sini sepertinya sudah cukup.

Setelah mengetahui makna takwa, yang perlu diketahui selanjutnya adalah bagaimana cara menjadi orang yang bertakwa. Sampai, Allah pun mewajibkan puasa Ramadhan sebagai sarana untuk orang-orang beriman agar bertakwa. 
Bagaimana cara menjadi orang yang bertakwa? Dalam Qur’an, Allah menyebutkan tentang orang yang bertakwa dan sifat-sifat mereka. Nah, dijelaskan bahwa orang yang bertakwa adalah ...,

Pertama, mereka yang beriman kepada yang ghaib (QS. [2]: 3). Maksudnya? Beriman kepada yang ghaib itu kan luas. Maksudnya adalah beriman kepada Allah, malaikat, hari akhir, dan akhirat (QS. [2]: 177), dan juga kepada qadha dan qadar yang Allah tentukan, serta beriman kepada hal-hal ghaib lain seperti surga, neraka, setan, jin, dan lain sebagainya. 

Mereka juga beriman kepada apa yang diberikan kepada Rasulullah dan juga para nabi terdahulu. (QS. [2]: 4) dan beriman juga kepada para nabi (QS. [2]: 177).

Kedua, mereka yang bertakwa adalah yang juga mendirikan shalat (QS. [2]: 3, 177). Tak hanya shalat yang ketika shalat tapi mereka malah celaka. Shalat yang tidak dijalankan secara malas (QS. [9]: 54) dan shalat yang tidak dijalankan secara lalai (QS. [107]: 4-6 ). Shalat mereka adalah shalat yang khusyu’ (QS. [23]: 2) seperti halnya kriteria dari mukmin. 

Ketiga, mereka adalah yang menginfakkan harta yang telah Allah berikan (QS. [2]: 3) dan harta yang mereka cintai (QS. [2]: 177). Baik infak yang wajib seperti zakat atau yang sunnah seperti sedekah, infak dan lain-lain. Kepada siapa harta itu mereka nafkahkan dan untuk apa? 

Harta itu mereka nafkahkan kepada para kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan budak. (QS. [2]: 177). Tak hanya itu, orang-orang yang bertakwa tak hanya menafkahkan hartanya di waktu lapang, mereka juga menafkahkan hartanya di jalan Allah di waktu mereka kekurangan, di waktu sempit (QS. [2]: 177, QS. [3]: 134). 

Keempat, oang yang bertakwa juga mereka yang menepati janji, orang yang sabar, dan jujur (QS. [2]: 177). 

Mereka juga adalah orang yang berdoa untuk diampuni dosa dan dijaga dari neraka (QS. [3] 16). 

Beristighfar di waktu sahur (QS. [3] 17, QS. [51]: 18) dan saat mereka menyadari bahwa dirinya telah berbuat maksiat serta mendzalimi diri mereka sendiri, dan tidak mengulangi perbuatan dosanya itu, artinya mereka bertaubat (QS. [3]: 135). 

Mereka juga orang-orang yang adil (QS. [5]: 8). 

Mereka juga orang-orang yang ketika bisikan dari setan menyentuh mereka, menghampiri mereka, orang-orang yang bertakwa ini langsung ingat kepada Allah, berlindung kepada-Nya dari setan (QS. [7]: 201). 

Mereka juga orang-orang yang sedikit sekali tidur di waktu malam; mereka orang yang suka melakukan qiyamul lail (QS. [51]: 17).

Mereka pun orang-orang yang takut akan Tuhannya dan takut akan hari kiamat (QS. [21]: 49).
Mereka pun orang-orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah (QS. [22]: 32).

Mereka pun orang-orang yang sangat sabar

orang-orang yang menahan amarah mereka.

Dan suka memaafkan kesalahan orang lain. (QS. [3]: 134).

Nah, itulah beberapa sifat dan cara untuk menjadi bagian dari mereka yang disebut Al Muttaqun, orang-orang yang bertakwa. Salah satu jalan untuk mencapai tingkatan itu adalah dengan berpuasa di bulan Ramadhan. 

Allah, dengan segala sifat-Nya yang maha pengasih dan penyayang telah membuat suatu latihan bagi orang-orang yang beriman. 

Ada perbedaan dengan menyebut orang-orang yang beriman dengan orang mukmin. Berbeda ketika penggunaan katanya adalah almukminun dengan alladzina aamanu

Alladzina aamanu menggunakan kata kerja. Di mana kata kerja itu mempunyai waktu, terikat dengan waktu. Dan waktu adalah sesuatu yang selalu berubah, artinya tidak konstan; temporer.

Sedangkan ketika menggunakan kata benda, isim, seperti mukminun, kata benda tak ada kaitannya dengan waktu. Ia bersifat tetap dan konstan. Itu salah satunya. 
Jadi, ketika menggunakan frasa alladzina aamanu, Allah bermaksud untuk memanggil semua orang beriman, baik yang keimanan mereka masih naik-turun ataupun yang sudah konstan. Tak ada pembatasan dan kekhususan seperti halnya dengan kata almukminun.

Ramadhan merupakan sebuah sekolah. Sebuah camp pelatihan. Pelatihan bagi orang-orang yang beriman untuk mencapai suatu tujuan, yakni bagaimana cara menjadi almuttaqun. Seperti seorang pemadam kebakaran, ketika mereka latihan untuk memadamkan kebakaran ada sebuah simulasi dan instruksi dari pelatihnya, kan? Ada kemudahan dan ditunjukkan bagaimana cara yang tepat untuk memadamkan kebakaran. 

Begitu juga saat puasa, Allah membimbing kita, memberikan kemudahan di bulan yang mulia itu. Pelatihan untuk mencapai derajat takwa. Misalnya saja, salah satu kriteria orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan harta di jalan Allah. 

Nah, di bulan Ramadhan, Allah memberikan kewajiban berupa zakat. Ini termasuk latihan, agar ketika di luar bulan Ramadhan kita juga bisa melakukan hal yang sama. Ketika merasa lapar dan haus, kita sadar bahwa di luar sana banyak orang yang hampir setiap hari kesulitan untuk mencari makan dan kebutuhan sehari-hari. Mereka sering kelaparan. Di bulan Ramadhan, kita diberikan pahala yang berlipat ganda saat berinfak dan diwajibkan zakat kepada yang berhak.

Salah satu kemudahan yang lain adalah dibelenggunya setan. Di mana setan inilah yang di luar bulan Ramadhan akan selalu menggoda dan menipu manusia. Agar manusia menjadi orang yang pelit, suka tidur, malas shalat, tak bertaubat, melakukan maksiat dan agar manusia terjerumus ke dalam neraka. 

Karena setan sudah dibelenggu, yang menjadi pengahalang dan rintangan satu-satunya adalah diri kita sendiri. Hawa nafsu kita sendiri. Allah pun melatih manusia agar bisa menaklukkan hawa nafsu mereka di bulan Ramadhan dengan cara berpuasa. Karena puasa adalah sebuah perisai seperti yang terdapat dalam hadist.

Bulan Ramadhan yang di mana pintu surga dibuka, pintu nereka ditutup, pahala dilipatgandakan, rahmat Allah dicurahkan sedemikian rupa, diharapkan ketika sudah selesai masa pelatihan untuk melawan hawa nafsu ini selesai, muslim memperoleh kemenangan di akhir Ramadhan. 

Ramadhan merupakan simulasi untuk mengahadapi perang di dalam diri manusia dengan hawa dan perang melawan setan dengan segala tipu dayanya. 

Ketika sudah paham dengan simulasi, dan meraih kemenangan melawan diri sendiri, pelatihan yang Allah berikan itu, harusnya digunakan untuk menghadapi kehidupan dan perang yang nyata melawan godaan dunia, setan dan nafsu yang akan lebih ganas di luar bulan Ramadhan. 

Untuk itu, kita harus melatih diri di bulan Ramadhan dengan sungguh-sungguh. Dan juga agar bisa memenuhi kriteria-kriteria sebagai orang yang bertakwa. Hmm. Sangat banyak sekali kriterianya, kan? Kamu sudah memenuhi kriteria yang mana sekarang?

_________________
Auf Arza, 16 Mei 2018.

0 komentar:

Post a Comment