:::: MENU ::::
"Rendang dihidang, hati dicincang, airmata berlinang" _ sajak Dimas Arika Mihardja

Matahari semakin condong ke ufuk barat. Langit yang sedari tadi menampakkan biru cerah, perlahan menjadi jingga merona. Dari kejauhan pegunungan Karang berubah menjadi siluet. Sangat indah. Mobil yang kami tumpangi terus melaju menembus kemacetan menuju Cikande, salah satu kecamatan di Kabupaten Serang. Rasa lelah setelah mengikuti kompetisi olahraga di ibu kota provinsi memaksa kami untuk mencari tempat istirahat sekaligus mengisi perut yang keroncongan. Rombongan kami –saya, rekan guru pembimbing, dan beberapa anak yang bertanding– tentu saja ingin mencicipi masakan yang sesuai dengan lidah. Tanpa ada yang merasa tidak berselera tentu saja.
Setelah beberapa kali beradu mulut, akhirnya ke-putusan diambil, merapat di rest area dan menjejakkan kaki di warung nasi padang. 

Tadaa! Sebuah keputusan sangat tepat. Tempat inilah yang selalu menyediakan menu masakan bagi sebagian besar orang selalu pas dengan lidah. Coba saja ketika kita berada dalam sebuah rombongan. Lalu kita memilih tempat makan. Paling aman tentu saja memilih masakan dari Sumatera Barat ini. Apalagi rumah ma-kan padang selalu menyediakan menu andalan dan sudah melegenda: rendang.

Makanan Bangsawan dan Terlezat

Bicara tentang rendang, masakan dengan bahan utama daging sapi ini sangatlah populer. Apalagi rumah makan Padang dapat kita temui hampir di seluruh pelosok tanah air. Siapa pun, –dari kalangan pejabat, tokoh, pemuka agama, pendidik, pengusaha, sampai orang biasa yang bekerja kasar di pabrik– dapat menik-mati rendang dengan harga bervariasi. Beberapa rumah makan memang diperuntukkan bagi mereka golongan menengah ke atas. Tapi banyak juga yang mematok har-ga wajar dan terjangkau.

Padahal pada zaman dulu, rendang merupakan makanan yang khusus disajikan bagi kalangan bang-sawan. Tidak sembarang orang bisa menikmati makanan dengan rempah sangat kentara dan aroma khas yang kuat ini. Seiring perkembangan zaman, berubah pula pola pikir orang-orang di daerah Sumatera Barat. Selain itu kejayaan kerajaan-kerajaan tanah air, termasuk Kerajaan Minang, mengalami masa surut sejak penja-jahan bangsa kolonial. Kini rendang bisa dinikmati oleh siapa pun.

Kita boleh berbangga dengan masakan rendang yang bukan saja tersohor di tanah air, bahkan sampai keluar negeri. Apa yang membuat masakan ini begitu terkenal melanglangbuana sampai mancanegara? Tentu saja karena rasanya yang khas, unik, dan sangat lezat.

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2011, rendang dinobatkan sebagai makanan terenak dan  terlezat di dunia! Pengakuan ini berdasarkan pada  polling internasional yang di buat CNN Internasional. Rendang menduduki posisi pertama dalam kategori "World's 50 Delicious Food." (lihat: https://www.cnn.com/ travel/). Luar biasa bukan? Tentu saja sebuah kebangaan bagi bangsa Indonesia yang memiliki kuliner khas mendunia.

Tidak heran CNN Internasional menisbahkan rendang menjadi makanan terlezat. Kita bisa melihat bagaimana proses pembuatan rendang memakan waktu cukup lama. Pembuatannya membutuhkan kesabaran dan racikan rempah yang melimpah. Resep warisan turun menurun selalu menemukan rasa khas yang tetap dipertahankan sampai generasi milenial saat ini. Sekali lagi, kita boleh berbangga dengan masakan khas Nusantara yang satu ini. Dan yang terpenting adalah harus tetap melestarikannya.

Hikmah dan Nilai Filosofi Rendang

Bangsa Indonesia, salah satu bangsa paling maje-muk di dunia merupakan bangsa yang sangat religius. Jauh sebelum agama-agama samawi sampai di kepu-lauan ini, kepercayaan nenek moyang dengan ritual-ritualnya selalu dihubungkan dengan kepercayaan kepada Tuhan. Sifat religius yang dibawa secara tidak langsung membawa pengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat sehari-hari. Berbagai bentuk bangunan selalu dikaitkan dengan makna filosofisnya. Masyarakat zaman dulu tidak bisa sembarang ketika membuat bangunan. Begitu pula dengan masakan khas yang dimiliki bangsa ini. Nenek moyang kita tidak serta merta membuat makanan asal jadi, selesai. Tetapi ada makna dibalik berbagai masakan tersebut. Selalu ada makna tersirat setiap kuliner khas Nusantara, termasuk rendang.

Pada tulisan di bawah, kita bisa melihat bagaimana sebuah makanan rendang mempunyai makna yang begitu luar biasa. Makna yang diambil dari nilai filosofi setiap bahan yang digunakan dalam pembuatan rendang.

1) Daging sapi

Penggunaan daging sapi dalam makanan rendang oleh masyarakat Sumatera Barat, melambangkan para pemimipin suku atau dalam budaya mereka dikenal dengan "niniak mamak". Bahan daging sangat menonjol, karena memang daging dijadikan sebagai bahan utama. 

Proses pengolahan dagingnya sendiri memerlukan waktu hampir tujuh jam agar mendapatkan daging dengan tekstur lembut, dan bumbu rempah dapat menyerap sempurna. Waktu yang sangat lama itulah menempa rendang sehingga menjadi daging dengan tekstur sangat lembut dan lezat.

Niniak Mamak dalam tradisi suku Minang sendiri mempunyai peran yang sangat menonjol dan selalu memegang peran penting dalam adat budaya kesehariannya.

2) Kelapa

Nama lainnya adalah karambia, melambangkan kaum intelektual atau "candiak pandai". Bahan kelapa yang diambil santannya masih merupakan bahan utama rendang. Santan –dalam jumlah yang cukup banyak– memegang peranan penting dalam membuat aroma dan rasa khas dari rendang.

Begitu pula dengan kaum intelektual di tanah Minang. Kaum ini biasanya menjadi tempat untuk mencari pemecahan masalah jika ada suatu kendala, baik itu dalam bercocok tanam, pembuatan rumah, atau dalam perniagaan (berdagang). Mereka adalah orang-orang yang memiliki tingkat kepintaran di atas orang kebanyakan.

3) Cabai

Merupakan simbol dari para ulama/guru yang tegas dalam mengajarkan kepada masyarakat tentang beragama. Cabai menghasilkan rasa pedas yang membuat perasaan kita terbakar, mata membelalak, bisa jadi sampai meneteskan air mata, saking pedasnya.

Para ulama di tanah Minang selalu menjaga agar perilaku, akhlak, dan moral masyarakat agar tidak menyimpang. Larangan tegas –senada dengan sifat cabai yaitu pedas– yang disampaikan ulama, terkadang membuat kuping kita menjadi panas, menohok perasaan, dan menyadarkan kesalahan, sampai rasa sesal yang kita diperlihatkan dalam air mata.

4) Bumbu rempah

Racikan dari rempah sehingga menghasilkan sebuah masakan lezat melambangkan seluruh masyarakat Minang, dengan berbagai macam perbedaan, tetap menjadikan daerah ini sebuah tempat yang selalu istimewa kehadirannya di Nusantara. 

Mengenal Sosok Pemimpin dari Rendang

Dari paparan di atas, kita bisa mengambil hikmah tentang bagaimana seorang pemimpin harus memiliki karakter kuat yang berbeda dengan orang kebanyakan. Pemimpinlah yang membuat sebuah institusi atau kelompok mempunyai ciri khas, menonjol, dan mempunyai nilai lebih. Seperti daging sapi dalam makanan rendang. Sangat dominan dan paling menonjol dari bahan lainnya. Jika tidak ada daging sapi, maka makanan itu tidak bisa dikatakan sebagai rendang. Sama halnya sebuah kelompok, ketika kehilangan pemimpin yang berkarakter kuat, hilang pulalah kekuatan kelompok itu.

Lidah yang selalu mengatakan dengan jujur apa yang dirasakan ketika mencicipi sebuah masakan. Ketika rasa itu manis, maka kita harus mengatakan manis. Atau ketika rasanya pahit, kita harus menga-takan pahit. Begitu pula dengan asam, pedas, atau gurih, katakanlah rasa itu dengan jujur apa adanya.

Pemimpin dengan karakter kuat harus pula selalu memiliki sifat jujur. Dalam konteks pribadi, kejujuran adalah kata kunci bila ingin menjadi pribadi yang memiliki hati bersih. Berbagai harapan dan kekecewaan yang dewasa ini sering kita jumpai dari calon-calon pemimpin –misalnya calon yang kalah pada Pilkada–, mencerminkan kegagalan mensyukuri nikmat Allah SWT. Orang sederhana dan jujur adalah orang yang berbahagia karena dapat mensyukuri berbagai nikmat yang telah dimilikinya. Adapun orang yang tidak sederhana dan tidak jujur, biasanya adalah orang-orang yang tamak, kufur nikmat, serta pendengki!

Hal yang paling penting dari karakter seorang pemimpin adalah berkali-kali menghadapi tangangan dan ujian. Seperti halnya daging sapi pada makanan rendang yang telah melewati berbagai proses dalam penyajiannya. Mulai dari direbus dalam air panas dalam waktu yang cukup lama, dicampurkan ke dalam santang, dan diberi bumbu. Pemimpin yang berkarakter akan selalu berhasil melalui berbagai tantangan dan ujian.

Bagaimana Bung Karno, “penyambung lidah rakyat Indonesia”, dengan gagah berani menentang penindasan bangsa kolonial, banga penjajah dengan berbagai orasinya. Akibatnya beliau sangat kenyang dimasukkan ke dalam penjara, diancam, bahkan dibuang ke tempat terasing, berbulan-bulan lamanya. Begitu pula ketika tentara dari negeri sakura Jepang masih bercokol di negeri ini. Bung Karno tetap menyampaikan pidato di Lapangan Ikada tanpa rasa gentar, padahal moncong senapan tentara Jepang kala itu sudah siap memuntahkan peluru, jika Bung Karno tetap berpidato.

Dua bagian dari kelompok masyarakat lainnya, kaum candiak pandai dan para ulama, harus melakukan nkewajiban sesuai dengan perannya. Dua kelompok masyarakat ini justru menjadi sentral dalam menjaga agar tatanan masyarakat berada dalam kebaikan.

1 comment:

  1. Wuah... rendang emang istimewa banget ya.
    keren (y)

    ReplyDelete