:::: MENU ::::

Pulang ke kampung halaman, kembali ke kota kelahiran yang menyimpan rasa rindu. Teramat rindu. Seprauh hati akan selalu kutinggalkan di sana, agar kelak ketika kembali menjadi belulang, diriku tak tersesat, kehilangan arah untuk menuju tempatku beristirahat.

Hari Minggu yang hangat, memulai perjalanan dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Hampir tak ada antrian penumpang atau pun kerumunan orang yang hendak bepergian. Bahkan cenderung sepi. Atau mungkin karena PT KAI semakin memanjakan penumpangnya sehingga perjalanan panjang ini terasa begitu nyaman. Yang jelas ketika kami sampai di sana, rangkaian gerbong kereta Serayu yang akan kutumpangi telah menunggu, berdiam dengan gagah.

Harum aroma roti yang baru diangkat dari oven, bercampur dengan wangi kopi robusta yang bisa dipesan dan dinikmati di gerai stasiun membuat perutku keroncongan. Aku tak berkutik. Dan harus segera menyelesaikan urusan vital ini. Beberapa langkah dari tempat reservasi tiket, pelayan gerai melempar senyuman manis kepadaku, semanis Dian Sastro Wardoyo –yang berperan sebagai Cinta dalam  Ada Apa dengan Cinta-- ketika bertemu dengan Rangga. Sadar tak bisa berbasa-basi, pesananku hanya 2 roti dan 1 botol air mineral, langsung beranjak setelah transaksi dilakukan.

Ada empat orang petugas keamanan dengan seragam berbeda berjaga di jalur antrian penumpang. Satu orang memeriksa kelengkapan perjalananku, tiket dan kartu tanda pengenal (KTP). Setelah melewati keamanan pertama, langkahku terhenti kembali tepat di gerbang stasiun Pasar Senen, dua orang berseragam putih biru-dongker khas pegawai PT KAI kembali memeriksa tiket yang kupegang, mencocokkannya dengan kartu identitas dan menempelkan pada barcode scanner. Semua dilakukan dengan tepat dan cepat. Saya sangat menyukainya.

-ooOoo-

Kereta Serayu berangkat pukul 09.15 dan akan tiba di stasiun Kiaracondong tepat pukul 12.55 waktu Indonesia bagian barat. Satu hal lagi yang aku sukai, waktu pemberangkatan dan tiba begitu presisi. Jadi rencana yang sudah disusun akan bisa berjalan dengan baik.

Dia adalah Ignasius Jonan, seorang pendobrak perkeretaapian Indonesia yang sudah puluhan tahun diurus dengan asal-asalan, hidup segan mati tak mau. Di tangannya PT KAI bertransformasi menjadi perusahaan yang profesional dan menjadi pilihan utama penumpang memilih angkutan transportasi umum.

-ooOoo-

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Pasar Senen – Kiaracondong melalui jalur rel di daerah Purwakarta. Di kilometer 143+ 144, sebuah terowongan panjang menembus Bukit Cidepong. Terowongan Sasaksaat merupakan terowongan terpanjang di Indonesia yang masih aktif dilintasi kereta api. Penjang lintasannya adalah 946,16 meter, hanya kalah dari terowongan Wilhelmina di Banjar - Cijulang yang memiliki panjang 1.208 meter, tetapi sekarang sudah tidak aktif.

Terowongan ini dibangun pada 1902 dan diresmikan setahun kemudian. Konon pembangunan terowongan Sasaksaat melibatkan ribuan pekerja dengan membelah Bukit Cidepong yang berada di Kampung Sasaksaat, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat. Dipenuhinya Bukit Cidepong dengan bebatuan cadas menjadi salah satu kesulitan saat pembangunan. Saat itu, pengemboman tidak mungkin dilakukan karena akan menimbulkan getaran yang berpotensi menyebabkan longsor sehingga pembuatan terowongan dilakukan dengan cara manual.

Bangunan terowongannya memiliki tinggi 4,30 meter, lebar 4,36 meter, dan tebal dinding beton 0,85 meter. Arsitektur bangunannya kerap disebut mirip dengan terowongan Mrawan di Sidomulyo, Jember. Meskipun terowongan Sasaksaat ini lurus, permukaan di dalamnya sengaja dibuat menanjak di bagian tengah. Tujuannya agar air hujan atau pun air dari sela-sela dinding terowongan tidak menggenang di dalam.

Sebagai peninggalan yang berusia 115 tahun, terowongan Sasaksaat kerap menjadi buruan pencinta sejarah dan kereta api. Masyarakat sering menunggu momen masuk atau keluarnya kereta api dari mulut terowongan untuk diabadikan melalui kamera. Bangunan terowongan yang khas masih kokoh juga menjadi daya tarik untuk dijadikan latar berfoto.

-ooOoo-

4 comments:

  1. Lepas rindu, ngebaca tulisan Pak Guru. Udah lama ya?!^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. luama banget. Alhamdulillah bisa posting lagi, hehehe

      Delete
  2. Wah, jadi penasaran sama terowongannya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya keren mbak Alif, panjang bgt. Yang seneng fotografi suka turun di situ trs ngambil gbr pas kereta api keluar dr terowongan.
      letaknya di bukit, kebun téh di kiri kanan

      Delete