:::: MENU ::::
+ Wuih, hebat! Sekarang kamu mulai sering muncul lagi di layar televisi.

* Ah, biasa saja. Momen setahun sekali. Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Setiap orang selalu menginginkan dagangan mereka selalu nomor satu.

+ Oh, iya tentu saja. Tidak ada kecap nomor dua maksudmu begitu, kan. Walaupun buat saya itu sangat istimewa. Sebulan penuh kamu akan menghiasi layar televisi. Pagi, siang, atau pun malam. Bahkan ketika ayam belum berkokok, kamu sudah muncul di sana. Ada pesan yang selalu diingat oleh siapa pun yang melihat dirimu.

* Serius amat. Memangnya pesan apa? Saya hanya disuruh diam di atas meja, disinari terangnya lampu, dibersihkan biar badanku tampak bersih mengkilat. Tentu saja ada sedikit efek di sana-sini sehingga warnaku tampak lebih cemerlang. Begitu juga dengan teman-temanku.

+ Tentu saja kamu tak akan merasakan, tetapi orang lain yang merasakan. Selalu seperti itu. Banyak orang yang merasakan dirinya bukan siapa-siapa. Mereka hanya melakukan rutinitas yang mereka bisa dan menganggapnya rutinitas itu ada manfaatnya sedikit buat orang lain. Dan kamu tahu, membuat orang lain bahagia itu bernilai ibadah. Ingat itu, selalu membuat orang lain bahagia.

* Lalu?

+ Ketika orang lain yang merasakan manfaatnya, mereka telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, yang orang lain begitu terkesan. Semua orang merasakan manfaat, dampak rutinitas dari orang tersebut. Biasanya sih pekerjaan itu tidak sembarang orang lakukan dan tidak umum dilakukan orang kebanyakan. Orang itulah --yang tak pernah merasa menjadi orang berjasa—pahlawan sebenarnya.

* Apa hubungannya dengan diriku. Maksudmu saya disamakan juga dengan orang berjasa dan orang lain menganggapnya sebagai pahlawan? Haha, tidak mungkin. Tadi saya sudah bilang bahwa saya hanya diam saja, disorot kamera, adegannya sama, di akhir akan ada orang-orang yang kehausan, begitu bedug maghrib tiba, mereka berebutan memburuku yang telah dicampur es batu. Kami --yang berwarna hijau, merah, dan terkadang kuning-- berada dalam  gelas-gelas bening akan diseruput dengan lahap.

+ Tahu apa yang terjadi setelah itu?

* Entah, saya tak pernah memikirkannya.

+ Dahaga orang-orang itu hilang, lalu sekonyong-konyong semua bahagia mengucap syukur. Dan dirimu seringkali menjadi pembuka bagi mereka yang tengah berpuasa, dirimu menjadi minuman terfavorit untuk membatalkan puasa. Dan satu lagi, ketika dirimu telah muncul di layar televisi, dengan label “Marjan” saya akan bisa menebak bahwa Ramadhan akan segera tiba!

* Kalian bahagia juga?

+ Oh iya, pasti. Tentu saja kami semua bahagia menyambut bulan Ramadhan, bulan seribu bulan, bulan Alquran, bulan ibadah. Bulan dimana di dalamnya ketika mengamalkan yang sunah akan dinilai sebagai amalan wajib dan ketika mengamalkan yang wajib pahalanya akan dilipatgandakan.

* Saya pernah mendengarnya. Dan barangsiapa yang menyambut bulan itu dengan penuh suka cita, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

+ Tapi, kenapa kamu tampak sedikit murung, Jan?

* Yang kutakutkan, ketika mereka melihat saya tersaji di dalam gelas-gelas bening, di layar televisi, bukan bahagia menyambut bulan penuh berkah itu, tetapi senang melihat diriku dan siap meneguk sebanyak-banyaknya diriku.

#OneDayOnePost
#RWC
#RWCODOP2018
#RamadhanWritingChallenge
#sirop

0 komentar:

Post a Comment