:::: MENU ::::
"Erangan itu masih terdengar lemah,  menggurat di hati, yang tak akan pernah terlukiskan dalam kanvas seorang perupa siapa pun. Erangan itu menjadi penanda abadi, sebagai wahana dzikir diriku kehadirat Allah, Tuhan Yang Mahakuasa. Kesabarannya masih menggetarkan langit ketujuh, dan tak akan lekang oleh windu, abad ataupun milenium, disambut ribuan malaikat penghuni angkasa raya.

Yaa Rabb, diriku yakin akan apa yang menimpa sosok yang sehebat Ki Hadjar itu, --yang kini terbaring di ranjang berseprai hijau terang-- sebagai sebuah anugerah yang tak terhingga, sebagai sebuah nikmat yang Kau berikan kepadanya, walau akalku terkadang tak menerimanya. Bagaimana bisa, seorang manusia tangguh, penuh welas asih, tak pernah mendendam dan membenci, kini terbaring dengan rasa sakit yang tak tertahankan oleh manusia biasa. Bagaimana bisa beliau menanggung semua derita yang tak terperi.

Hanya Engkau Yang Maha Pengasih, yaa Rabb. Tiada kuasa kecuali atas izin-Mu, maka berilah Rahman Rahim-Mu kepada sosok yang menjadi pahlawan bagi keluarga kami. Berilah kenikmatan yang tiada tara kepadanya, sehingga rasa deritanya Kau ambil kembali. Maka, ampunilah diriku, Yaa Allah."

-ooOoo-


Kota Bandung, cuaca semakin dingin. Bahkan daerah perbukitan seperti Ciwidey, Ranca Upas, dan Lembang sempat mengalami kejadian embun yang membeku. Seloroh temanku, kini tanah Priangan serasa menjadi Moskwa, ibu kota negara Russia. Kupikir ucapan itu ada benarnya, karena berpuluh tahun tinggal di kota ini belum pernah diriku merasakan dingin yang teramat. Dinginnya Bandung ternyata senada dengan hatiku yang semakin membeku --pun hati adik dan kakak-kakakku, terutama hati bunda.

Kebekuan ini mulai terasa ketika Bapa mulai merasakan ada yang tidak beres pada pernafasannya. Semakin hari kondisinya semakin memburuk. Tarikan nafas yang semakin memburu, sesekali batuk, dan erangan rasa sakit yang tertahan.

Kini, beliau tengah terbaring di sebuah ranjang berselimut hijau terang, dengan selang panjang yang berseliweran merayap pada tubuhnya. Erangan itu semakin terdengar nyaring, hampir sepanjang waktu. Diriku membayangkan menjadi dirinya. Dan diriku yakin, tak akan pernah sanggup menahan rasa sakit yang dirasakan oleh Bapa. 

Tapi, sosok yang paling kugagumi melebihi rasa kagum kepada Bung Karno itu, telah menapaki tingkatan iman tertinggi: kesabaran. Tak pernah terucap satu kata pun yang menunjukkan bahwa dirinya mengeluh, atau sekadar mengutuk keadaannya yang kini tak berdaya, atau secuil amarah karena kami terkadang tak paham apa yang diinginkannya. Jiwa pendidiknya melebihi Ki Hadjar Dewantara, dan ketangguhannya melebihi Bung Karno, bukanlah hanya buaian agar diriku menjadi terhibur, terlepas sejenak dari sedu sedan ini. Namun, lihatlah bagaimana ketika beliau terbaring di sana, puluhan bahkan ratusan orang telah menjenguknya. Ratusan bahkan ribuan doa melesat, berpendar dengan cahaya putih kehijauan terang, menggetarkan 'arasy, memohon akan kesembuhan dan kebaikan dari dirinya.

Sepekan sudah, tubuhku mulai terasa panas dingin, melupakan kewajiban dan tanggung jawab yang sudah diamanahkan kepadaku, diriku lebih memilih berada di sampingnya, menemani segala rasa sakit yang dirasakannya.

-ooOoo-

"Bapa badé ka mana? Bapak mau kemana?" Spontan adik bungsuku, ketika melihat Bapa telah rapi bersiap dengan batik cokelat kesukaannya, mengenakan peci hitam.

"Bapa ka sakola heula nya, Néng *). Bapak mau ke sekolah dulu ya, Néng." Dengan raut sedikit memucat.

Adikku merengek, "nggak usah dulu, Pa. Kondisinya kan masih belum segar, masih teu damang."

"Teu nanaon, Bapa tos damang. Nggak apa-apa, Bapak sudah sehat."

Tubuhnya bergetar ketika kakinya mulai melangkah, dipapah oleh tongkat 'stainless'nya. Sangat perlahan, mulai menaiki motor 'matic' yang sedari tadi sudah aku panaskan. Kalau sudah seperti ini, tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Termasuk Mamah, ibuku yang menjadi bagian kehebatan Bapa menjadi seorang pejuang.

'Berbuat baiklah, beramal, mengabdi kepada bangsa ini, walau hanya sedikit. Tidak usah meminta apa pun. Jika ada rezeki terimalah, jika tidak ada, tetaplah berbakti, tidak usah mengeluh.' terngiang apa yang sosok berkacamata tebal itu ucapkan ketika diriku menceritakan tentang nasib diriku yang kurang baik. Tak terasa sudut mata mulai menghangat, melihat deru 'matic' menggerung, membawa Bapa menuju tempat mengajarnya di Perguruan Tamansiswa. Rasa hangat itu semakin terasa ketika sosoknya menghilang dari pandangan diriku dan Tiara, adik bungsuku.

-ooOoo-

Lebih dari tujuh dekade bukanlah usia yang sebentar untuk menapaki dunia fana ini. Kangjeng Nabi Muhammad ('shollu 'alaih) saja tidak melampaui sesusia itu. Dalam pandanganku, Bapa sudah seharusnya istirahat, menikmati masa-masa tuanya, mengasuh cucu-cucu, dan bersenda gurau bersama putra-putri yang selalu dicintainya.

Dan pandanganku ternyata salah. Salah besar di mata Bapa. Bukan semua itu  --istirahat, lepas dari mendidik, berleha-leha menikmati masa tua-- yang membuat Bapa bahagia. Justru sebaliknya. Semakin senja, Ki Sukarman, demikian Bapa dipanggil di sekolahnya, semakin bergairah untuk mendidik, bertemu anak-anaknya yang terkadang berbuat nakal dan membandel. Tak ada di dalam kamusnya berhenti untuk mengabdi, memberikan secuil manfaat bagi bangsa ini.

Diriku terdiam beratus ucap, beribu kata. Lalu, terjerembab ke dalam lubang yang paling dalam di dunia, ketia membandingkan apa yang telah kulakukan dengan apa yang telah Bapa perbuat. Aku hanyalah seonggok kotoran yang terjatuh membentur dasar bumi, menelusup ke dalam tanah yang setiap harinya diinjak-injak. Sedangkan dirinya adalah permata yang melesat, berdiam di angkasa raya, kemilau sinarnya melebihi bintang alfa centaury.

-ooOoo-

Hari-hari terakhirnya telah sampai. Setangguh apa pun, sehebat apa pun, tidak ada yang mampu melawan kehendak Illahi, ketika usia semakin senja. Secanggih apa pun teknologi abad ini, tak pernah ada yang bisa menahan satu hari pun, masa tua.

Erangan itu selalu terdengar, siang dan malam. Ketika merasakannya, diriku seakan mendengar wiridan yang dilantunkan Bapa, memuja muji Gusti Allah, memohon ampunan-Nya, Tuhan Maha Segala Ampunan bersemayam, meminta kebahagiaan yang tentu saja akan diterima Bapa dengan ringan.


Babakan Sari yang mulai menghangat, Juli 2018


*) Dari kata Enéng, sapaan khas orang Sunda kepada perempuan yang disayanginya.m


#OneDayOnePost

3 comments:

  1. T_T
    Aamiin ya rabbal'alamin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Kisah ini Jadi contoh bagi kaum muda untuk terus semangat mengabdi dan berbagi,siga na mh ini teh kisah nyata yaa pak

    ReplyDelete