:::: MENU ::::

“Kebohongan menjadi senjata paling ampuh dan mematikan. Sebab, pendekatan terhadap suatu kebenaran menuntut proses metodologis,dan ini hanya dapat dicecap oleh nalar dan muatan pengetahuan (stock of knowledge) yang memadai. Sedangkan dalam masyarakat yang emosi fanatiknya sedang menggeliat, yang dibutuhkan hanyalah pembenaran. Cukup dengan mencocokkan (memanipulasi) antara realitas dengan perasaan batin publik.” _ Anwar Ilmar

-ooOoo-

“Mengingat banyaknya informasi yang berseliweran di media sosial, tentunya kita harus cerdas memilah-milih sumber informasi. Jangan sampai, kita terjebak informasi yang salah ataupun hoaks, apalagi sampai menyebarkannya. Tentunya hal itu akan merugikan diri kita sendiri dan orang lain. Untuk itu, pada edisi kali ini Buletin Kabar MAFINDO akan membagikan tips-tips ampuh agar tidak terjebak hoaks di media sosial. Mari simak ulasannya!”

Media sosial memiliki banyak kegunaan. Salah satunya ialah seseorang bisa mendapatkan informasi dengan cepat sekaligus mampu membagikannya untuk orang lain. Namun, kerap kali seseorang menggunakan kegunaan itu untuk menyebarkan kabar bohong atau hoaks.

Oleh sebab itu, menggunakan media sosial haruslah dengan bijak dan tidak sembrono. Apalagi, generasi muda yang saat ini begitu akrab dengan media sosial. Mereka harus mampu menggunakan berbagai fitur dan kegunaan media sosial dengan cara yang baik.

Agar dapat menggunakan media sosial secara baik dan tidak menyebarkan hoaks, ada beberapa tips ampuh yang bisa diterapkan. Berikut tips-tips ampuh bermedia sosial agar tidak terjebak hoaks.

#1 Lihat Siapa yang Membagikan

Hal pertama yang harus dilakukan agar tidak terjebak hoaks di media sosial ialah lihat siapa yang membagikan suatu informasi. Perhatikan akun yang menyebarkan informasi tersebut. Teliti betul kejelasan suatu akun yang membagikan informasi tersebut. Jelas atau tidak latar belakang dan pemilik akunnya.

Semisal akun yang membagikan suatu informasi itu adalah kolega atau keluarga, jangan langsung percaya! Cari tahu dulu dari mana informasi tersebut didapatkannya. Akun siapa yang pertama kali membagikannya dan pastikan kejelasan akun tersebut.

Waspada terhadap akun-akun yang tidak jelas sangat perlu dilakukan. Sebab, saat ini banyak sekali akun-akun palsu yang tidak jelas siapa pemiliknya. Akun-akun palsu itu lumrah disebut sebagai akun kloningan. Bila setelah ditelusuri ternyata yang membagikan informasi tersebut adalah akun kloningan, maka tidak perlu membagikan informasi tersebut.

#2 Baca Judulnya

Ketika melihat postingan-postingan di timeline media sosial dengan judul bombastis, jangan langsung diklik. Biasanya, postingan dengan judul meriah dan bombastis berisikan informasi- informasi yang tak jelas juntrungannya.

Judul-judul meriah dan bombastis tersebut seperti “Viralkan! Ternyata Telur Dadar Mengandung Virus HIV”, atau “Sebarkan! Jangan Sampai Keluargamu Menjadi Korban Dari…”, dan lain sebagainya. Judul-judul itu terindikasi sebagai judul click bait atau umpan klik. Ketika dibuka, rata-rata postingan seperti itu memuat artikel yang isinya sangat jauh dari isi pada judul.

#3 Baca Narasi Postingannya

Suatu postingan yang mengulik rasa penasaranmu biasanya disertai dengan narasi menarik nan ciamik. Narasi itu dibuat sedemikian rupa agar membuat siapa pun yang membacanya menjadi penasaran. Dengan begitu, orang yang penasaran itu akan tertarik dan membuka postingan bertautan.

Selain itu, narasi-narasi yang menarik perhatian itu sering digunakan oleh pembuat hoaks untuk menyebarkan informasi palsu buatannya. Rata-rata, akun-akun penyebar hoaks memuat narasi postingan yang sama persis. Misalnya, akun A menuliskan Hati-Hati Terhadap Makanan Merk A, Karena Mengandung Zat Berbahaya, lalu ada akun B menuliskan narasi yang sama, dan ditemukan lagi akun C menuliskan hal sama persis perkataannya. Dengan begitu, isu yang dibagikan oleh ketiga akun tersebut perlu dicurigai sebagai hoaks.

Atau, akun A menuliskan Hati-Hati Terhadap Makanan Merk A, Karena Mengandung Zat Tidak Halal, lalu ada akun B menuliskan Hati-Hati Terhadap Makanan Merk A, Karena Mengandung Zat Berbahaya dan Tidak Halal Kata Professor A, dan akun C menuliskan Hati-hati Terhadap Makanan Merk A, Karena Mengandung Zat Berbahaya dan Tidak Halal. Maka, postingan yang dibagikan oleh ketiga akun tersebut juga harus dicurigai sebagai hoaks.

Selain narasi yang sama persis, biasanya dalam sebuah postingan berisikan hoaks tidak mencantumkan sumber pertama informasinya. Biasanya, sumbernya hanya dikatakan dari grup sebelah atau informasi terpercaya dan lain sebagainya. Saat menemukan ada elemen itu dalam sebuah postingan, lebih baik postingan itu tidak dibagikan karena memiliki tendesi konten hoaks.

#4 Lihat Alamat URLnya

Alamat URL itu maksudnya adalah alamat suatu website atau portal daring. Biasanya, berita hoaks berasal dari portal-portal tidak jelas dengan alamat URL yang tidak jelas pula. Misalnya, beritaterkinibanget.blogspot. com, beritahotsekali.wordpress.tk, dan lain sebagainya.

Suatu portal daring yang terpercaya biasanya menggunakan alamat URL yang jelas, seperti detik.com, vivanews.com, antaranews.com, tempo.co, dan lain sebagainya. Alamat URL-nya tidak menggunakan kode blogspot ataupun wordpress dan penyedia layanan blog gratis lainnya. Adapun, beberapa kasus portal penyebar hoaks mencatut nama portal daring yang sudah terkenal. Salah satu contohnya seperti detiknews.blogspot. com, kompass.in, bbcindonesia.wordpress.com, dan lain sebagainya. Tentunya, penamaan alamat URL itu untuk mengecoh para warganet sehingga meng-klik dan masuk ke dalam portalnya.

Portal dengan URL tidak jelas terkadang berisi virus atau pun worm komputer yang dapat merusak komputer atau gawai. Jadi, pastikan dulu alamat URL suatu laman sebelum membukanya dari postingan seseorang. Di media sosial, ketika seseorang membagikan suatu laman tertentu, biasanya ditampilkan pula URL-nya. Baca dengan seksama alamat URL itu. Bila mencurigakan, lebih baik tidak perlu dibuka.

#5 Lihat Nama Penulis dan Susunan Tim Redaksinya

Suatu laman daring terpercaya pastinya menyertakan nama penulis dan susunan redaksinya. Perlunya nama penulis dan susunan redaksi untuk membuktikan bahwa artikel yang ada dalam laman tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Portal yang terindikasi berisikan hoaks rata-rata tak mencantumkan nama penulisnya atau pun susunan redaksinya. Artikel-artikelnya pun juga berupa hasil jiplakan sama persis dari laman daring lainnya atau bahkan sering kali berupa pelintiran berita.

Dengan tak tampaknya nama penulis dan susunan redaksinya, maka si pembuat artikel itu tidak dapat dimintai pertanggungjawabannya perihal kebenaran informasi di dalamnya. Tentunya, hal ini sangat menyalahi kode etik jurnalistik.

# 6 Isi Artikel dalam Portal yang Dibagikan Tidak Sejalan dengan Narasi Postingan dan Judulnya

Portal hoaks biasanya memiliki tulisan yang isinya tidak sejalan dengan judul dan bahkan narasi postingan orang yang membagikannya. Misalnya, judulnya menyinggung bahaya makan telur ceplok tapi isi artikelnya membahas mie instan dan mie samyang. Judul dan isinya tidak ada korelasinya sama sekali.

Ada pula portal hoaks yang ditulis dengan susunan kalimat berantakan dan perpaduan antara huruf dan angka, seperti huruf vokal diganti dengan angka atau penulisan kalimatnya disingkat-singkat. Misalnya, c4b4i 4d4l4h k0m0d1t1 ut4m4 atau hati2 terhadap anjing laut karena dapat menjangkiti dirimu dengan penyakit2 berbahaya. Susunan kalimat seperti itu tentunya membuat mata menjadi sakit saat membacanya.

Artikel yang baik dan laik untuk dibaca tentunya ditulis secara jelas dan mudah dipahami. Hal itu bertujuan agar pembaca artikel itu dapat menangkap ide atau gagasan dalam artikel tersebut dengan mudah.

# 7 Narasumber Artikel Tidak Jelas

Artikel yang patut dicurigai sebagai artikel hoaks adalah artikel yang tidak mencantumkan sumber utama informasinya atau narasumbernya. Tidak sebutkan juga apakah artikel tersebut merupakan hasil wawancara atau hanya olahan opini semata.

Bilapun mencantumkan nama narasumber, biasanya tidak ditulis secara detil dan ada banyak kesalahan penyebutan, baik ejaan namanya, gelar, atau jabatannya. Misalnya, nama tokoh Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D., S.H., S.U, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ditulis dengan nama Prof. Dr Muhamad Mahfud MD atau Prof Mahfud MD dan lain sebagainya.

Ketika menemukan artikel dengan narasumber tidak jelas maka akan lebih baik tidak perlu dibagikan. Bisa jadi artikel itu merupakan artikel hoaks dengan mencatut nama seseorang.

Demikianlah beberapa tips yang bisa dilakukan agar tidak terjebak hoaks. Pada dasarnya, hal utama yang harus dilakukan agar tak terjebak hoaks ialah bersikap kritis terhadap suatu artikel ataupun postingan di media sosial. Jangan begitu saja percaya dan membagikannya lagi. (MKH)

-ooOoo-

#SebarCeritaBaik
#OneDayOnePost

Sumber:Buletin Mafindo

0 komentar:

Post a Comment