:::: MENU ::::

Salah satu stasiun televisi terbaik yang dimiliki bangsa ini adalah .Net TV. Dengan kualitas gambar high definition dan tayangan bermutu, mendidik, dan tidak melulu profit, menjadikan stasiun televisi ini sangat diminati oleh pemirsa. Salah satu acara di .Net, selalu saya dan keluarga tonton adalah "Waktu Indonesia Timur".

Apa itu Waktu Indonesia Timur?

Sebuah acara semi-komedi, menyajikan beberapa konsep khas Indonesia bagian timur (Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua) dengan benang merah komedi dengan gaya khas Indonesia timur. Begitu pun dengan host, lawakan-lawakan, band pengiring, sampai penontonnya. Hanya bintang tamunya saja yang terkadang diundang artis atau bintang dari Indonesia bagian tengah ataupun bagian barat.

Beberapa segmen seperti "2 Saja Cukup", "Pakar Kepala Tiga", dan "Ko Tahu Nggak" selalu menyajikan spontanitas dan diakhiri oleh gelak penonton. Bagi saya, Waktu Indonesia Timur merupakan acara yang benar-benar orisinil, membuat lebih memahami bagaimana kehidupan mereka sehari-harinya, yang selama ini selalu kalah dalam jam tayang oleh tontonan yang berbau metropolitan dan Jawa sentris. Lebih jauh, tayangan ini sangat mendidik. Bagaimana pun kekayaan bangsa ini sangatlah beragam, dan sangat sayang jika stasiun-stasiun televisi hanya menayangkan acara yang masuk ke dalam pasar saja, tanpa mempertimbangkan nilai edukasi, nilai budaya, nilai kehidupan seperti toleransi, persatuan, saling menghargai, dan lainnya.

Beberapa guyonan yang sampai sekarang saya ingat, diantaranya:

"Sejak Menteri Susi menjabat sebagai Menteri Perikanan, saat ini tidak ada lagi illegal fishing dan nelayan-nelayan yang mencuri ikan. Hanya ada beberapa nelayan gelap yang tersisa, yaitu kami-kami ini."

Dan guyonan di atas diikuti gelak tawa penonton. Di sana bisa dilihat bagaimana orang-orang "timur" memahami keadaan fisik mereka (tanpa ada unsur merendahkan atau lainnya), yaitu berambut keriting, kribo, berlogat khas, nada tinggi, dan memiliki kulit yang gelap. Hal yang terakhir mereka sangat sadari pula, dan dijadikan poin bahan guyonan. Tidak ada rasa ketersinggungan atau apa pun, karena mereka benar-benar membawakannya dengan riang tanpa ada maksud mendiskreditkan seseorang atau suatu golongan.

Guyonan lain seperti, "suatu hari kawanan anak-anak sekolah berjalan. Mereka baru saja selesai belajar dan beriringan pulang ke rumah masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara minta tolong dari kejauhan. Setelah saling dorong, akhirnya satu orang memberanikan diri mendekat ke arah sumber suara yang letaknya di sungai.

Beberapa saat, masih terdengar suara minta tolong itu. Anak itu melihat tangan seorang baya menggapai-gapai, tubuhnya sebagian besar tenggelam, menyisakan kepala dan lengannya.
bapak, bapak kenapa?
eh, Yewen, tolong bapak, bapak tidak bisa berenang, hampir tenggelam ini badan.
Dari kejauhan Yewen masih melihat tangan orang itu menggapai-gapai. Dengan semangat Si Yewen berteriak kepada teman-temannya,
hai teman-teman. Besok kita tidak usah belajar, libur saja. Bapak guru kita mungkin tidak akan masuk!

-ooOoo-

#OneDayOnePost

0 komentar:

Post a Comment